APLIKASI NILAI HIJRAH DALAM MEMBANGUN UMATAN WAHIDAH

KH Abul Hidayat Saeorjie
Ketua Lembaga Bimbingan Ibadah dan Penyuluhan Islam (LBIPI) Pusat

I. Mukadimah

Selama + 13 tahun lamanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan risalah kerasulan kepada penduduk Makkah tetapi yang didapatkan adalah sikap yang tidak simpati dari sebagian besar masyarakat Quraisy bahkan bersikap memusuhi sehingga sampai kepada puncak permusuhan, komplo-tan mereka mengadakan pertemuan penting di Darun Nadwah. Mereka sepakat harus mem-bunuh Nabi. Seluruh kabilah diharuskan andil mengirim pendekar pilih tanding untuk meng-eksekusi Muhammad, mereka lalu mengepung rumah Nabi dengan senjata terhunus dan siap membunuh.

Mereka tidak menyadari bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang segalanya ada dalam perlin-dungan dan jaminan-Nya. Mereka punya rencana tetapi Allah pun punya rencana. Sebaik-baik rencana adalah rencana Allah.

Hijrah bukan sekedar berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, tetapi di kemudian hari terbukti bahwa hijrah memiliki nilai strategis yang menandai berakhirnya masa pra Islam yang disebut masa jahiliyah. Dan sekaligus merupakan titik balik bagi kemenangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan babak baru dalam sejarah perkembangan Islam dengan berdiri-nya sebuah tatanan masyarakat baru yang berlandaskan wahyu Ilahi (Islam) di Madinah. Dari sanalah cahaya Islam bersinar menem-bus kegelapan peradaban manusia ke seluruh penjuru dunia hingga hari ini.

Pada situasi awal abad 21 ini umat Islam dihadapkan kepada tantangan konspirasi global internasional. Dengan sikap yang kurang simpatik bahkan permusuhan dari kelompok Islamo phobi. Dalam keadaan seperti ini, maka umat Islam perlu mengkaji kembali nilai dan semangat hijrah sebagai acuan strategi juang dan penataan umat dalam mewujudkan kembali masyarakat Islam yang kompak dan bersatu dalam kepemimpinan kekhilafahan yang mengikuti jejak kenabian. Dengan demikian diharapkan umat Islam dapat mengatasi berbagai problema internal maupun external sehingga bisa memberikan konstribusi positif terhadap peradaban umat manusia yang sedang krisis kehilangan arah dan makna.

II. Aplikasi Nilai Hijrah dalam Penataan Umat

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, sampai di Madinah beliau segera mengatur langkah-langkah strategis yang beliau lakukan dalam penataan dan pembangunan masyarakat Islam, antara lain:

1. Membangun Masjid Quba
Bukan istana kerajaan, bukan pula benteng pertahanan militer yang beliau bangun, tetapi yang beliau bangun adalah masjid. Hal ini mengindikasikan bahwa misi kerasulan Nabi Muhammad shallal-lahu ‘alaihi wa sallam. adalah misi kenabian bukan misi militerisme yang akan menjadi ancaman bagi non muslim dan bukan pula misi tahta kerajaan yang menjadi target perjuangannya. Beliau diutus untuk menyampaikan wahyu Ilahi agar manusia sujud dan beribadah hanya kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan menyempurnakan Akhlaq manusia dengan akhlaqul karimah, menebarkan kasih sayang dan persau-daraan yang di bangun dalam satu system Jama’ah dan Imaamah sebuah komunitas yang disebut umat, qaum, al-jama’ah atau masyarakat robbaniyah yang berarti;
a. Beliau membawa dan menyampaikan agama yang bersumber dari Allah Rabbul ’alamin bukan ideology, bu-kan pula hasil renungan dan gagasan pemikirannya.
b. Bahwa masyarakat yang dibangun bukan masyarakat theokrasi, bukan pula demokrasi apalagi monarchi, tetapi masyarakat yang “Theocen-trisme Humanisme” yaitu masyarakat yang dibangun di atas pondasi akidah Laa Ilaha Illallah yang bersifat Jama’i, sebuah komunitas muslim beroreintasi pada pengabdian kepada Allah (ta’abud ilallah), bersifat Al-Insaniyah Al-Alamiyah (kemanusia-an yang universal) rahmatan lil ‘ala-min, tidak bersifat lokal, kedaerahan, dan ashobiyah (kesukuan atau ke-bangsaan) tetapi untuk seluruh umat manusia, “Asy-Syumuliyah wat Takamuliyah” (lengkap dan menca-kup seluruh aspek kehidupan). Bukan sebuah gagasan pemikiran yang dituangkan dalam rumusan ideology politik, ekonomi, social dan budaya. Islam adalah wahyu Ilaahi yang diturunkan sebagai hudan dan jalan hidup yang lengkap dan meliputi ber-bagai aspek (baca Q.S.Al-Maidah [5]:3) dan dalam ayat yang lain Allah berfirman,

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقاً وَعَدْلاً لاَّ مُبَدِّلِ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (115) وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ (116)

“Telah sempurnalah kalimat Tuhan-mu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am [6] : 115-116).

2. Membangun Ukhuwah Islamiyah

Langkah selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihui wa sallam mem-bangun ukhuwah Islamiyah, memper-saudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, kaum Aus dan Hajrat yang sudah ratusan tahun mereka berseteru saling berperang, mensejajarkan antara tuan dan budak yang selama ini dianggap tabu. Hal ini mengisyaratkan bahwa Islam ditegak-kan atas dasar aqidah dan ukhuwah, Kaljasadil Wahid (seperti tubuh yang satu) bukan dilatarbelakangi oleh “kepen-tingan” pribadi, golongan, ekonomi mau-pun kepentingan politik kekuasaan.

3. Tegaknya shalat maktubah bil jama’ah

Sesudah hijrah di Madinah maka pelaksaan shalat lima waktu disem-purnakan dan ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berjama’ah di Masjid yang sangat ditekankan (sunnah mu’akadah), selain merupakan ibadah mahdhoh, disisi lain shalat berjama’ah adalah gambaran hidup atau miniatur bentuk kemasyarakatan Islam di luar masjid.

Dalam shalat berjama’ah di syaratkan adanya Imam dan Ma’mum. Itu artinya bahwa muslimin bukan gundukan umat individu-individu yang anarchis, tetapi dia adalah umat yang satu, selalu hidup terpimpin dan terorganisir sebagai umat jama’ah dan imaamah yang terpimpin menurut kepemim-pinan Allah dan Rasul-Nya. Umat yang dinamika dan orentasinya hanya berpihak kepada Allah atau Hizbullah (baca QS. Al-Maidah 55-56).

Ketika shalat berjama’ah Imam belum akan bertakbir sebelum Imam meluruskan dan merapatkan shaf ma’mumnya terlebih dahulu, ini artinya bahwa dalam kehidupan muslimin diluar masjid senantiasa berada pada satu barisan yang lurus dan rapat dalam persaudaraan, saling bahu-membahu, solid dan kompak dalam membangun peradaban yang maju dan santun. Demikian pula dalam menghadapi berbagai kemungkinan baik dalam keada-an aman maupun terancam.

Pada era informasi ini ancaman yang bersifat non fisik sangat serius dan berbahaya, karena dia bagai virus yang tidak nampak dan dapat menyerang sentral syaraf otak yang mengakibatkan kelum-puhan umat Islam, kita kenal dengan gerakan riddah (pemurtadan umat Islam), pendangkalan aqidah agama melewati ghoswul fikri, pluralisme Agama dan lain sebagainya yang dapat memudarkan dan meniadakan iman dan syareat dalam kehidupan. Maka perlu dan sangat penting mengambil ibrah dari shalat berjama’ah, antara lain adalah;

A. Imam menghadap ma’mum dan memberikan aba-aba “Sawwu shufufakum, tarasu wa’tadilu/ rapat dan luruskan shaf” hal ini mengandung arti bahwa setiap pemimpin sebelum mengambil keputusan harus melihat keadaan dan kemampuan umat yang dipimpin. Tidak hanya berdasar pada semangat dan kemauan dirinya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan bila seseorang menjadi Imam maka “ringankanlah bacaan”. Artinya kepemimpinan umat itu hendaknya berorientasi pada kepenting-an, kesejahteraan dan keselamatan umat yang dipimpin sebagai ciri khas kepe-mimpinan Islam yang mengikuti jejak kenabian. Rasulullah menyebutnya sebagai Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

B. Wa idza Kabbara Fakabbiru (apabila Imam bertakbir maka bertakbirlah). Gerakan dalam shalat yang seirama tertib dan disiplin ini merupakan gam-baran bagaimana mestinya umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat yang terpimpin kompak dan bersatu dalam kesatuan yang solid. Satu Jamaah Muslimin dan satunya Imaam bagi mereka. Seperti beberapa firman Allah dan sabda Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain:

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ

“Berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (Islam) seraya ber jama’ah dan janganlah kamu berpirqah-firqah“. (QS. Ali Imran [3]:103).

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang berfirqah-firqah dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itu orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. (QS. Ali Imran [3] : 105).

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاةَ الْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَالْعَامَّةِ

Dari Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya syetan adalah srigala bagi manusia seperti srigala bagi domba. Dia akan memangsa domba yang keluar dari kumpulannya dan menyendiri. Karena itu jauhilah perpe-cahan/ firqah dan wajib atas kamu ber jama’ah dan orang umum“. (HR. Ahmad nomor hadits 2091, Musnad Ahmad, CD Kutubut Tis’ah).

Dan dalam satu riwayat Hudzaifah bin Yaman radliyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang suatu keadaan yang buruk dimana pada situasi itu bermunculan panggilan-panggilan yang mengajak orang ke pintu-pintu Jahan-nam, Hudzaifah bertanya; “Apa yang Tuan perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian itu?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Tetapilah Jama’ah Muslimin dan Imaam bagi mereka”. Hudzaifah bertanya lagi; “Maka jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imaamnya?”. Beliau bersabda: “Hen-daklah engkau tinggalkan firqah-firqah itu semua walau kamu sampai menggigit akar kayu sehingga kematian mengejar kamu, kamu tetap demikian!“ (HR. Bukhari no. 6557/ Kitabul Fitan dan Muslim no.3434/ Kitabul Imarah).

4. Mengadakan perjanjian dengan pemuka-pemuka agama non muslim
Ini juga berarti bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mem-beri landasan berpijak bahwa umat Islam dapat hidup berdampingan dan bisa bekerja sama dengan siapapun sepanjang dilakukan demi ke-maslahatan dan bukan untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman;

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (7) لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang diantaramu dan orang-orang yang kamu musuhi diantara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”. (QS.Al-Mumtahanah [60] : 7-9).

5. Sentral dakwah dan penyiaran Islam
Dari Madinatul Munawarah Rasulul-lah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengi-rim mujahid-mujahid dakwah ke segala penjuru pelosok untuk mengajak manusia beriman dengan bijak dan pengajaran yang mulia dan disini pula Rasulullah Shallal-lahu ‘alaihi wasallam menerima kabilah-kabilah yang ingin berdialog dan men-dalami masalah Islam. Sehingga Madinah menjadi sentral kegiatan dunia baru Islam, cahanya menerangi kegelapan jahiliyah lama maupun jahiliyah modern, sinarnya menembus seluruh pelosok benua seantero jagad hingga saat ini.

KESIMPULAN
Peristiwa hijarahnya Nabi memberikan landasan tempat berpijak dan contoh teladan terbaik. System dan pola juang dalam membangun serta menata Umat adalah Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah yakni pola kepemimpinan yang mengikuti jejak kenabian yang bersifat universal dan rahmatan lil ‘alamin bukan dilandasi pada pola ideologi pemikiran maupun filsafat barat maupun timur yang biasa bertumpu pada nafsu dan kepentingan.

Wallahu a’alm bis shawab

Leave a Reply