INDONESIA MILIKI PERAN PENTING DALAM PERDAMAIAN ISRAEL-PALESTINA

 

      Jakarta, 11 Muharram 1434/25 November 2012 (MINA) – Ketua Dewan Urusan Yahudi dan Israel di  Australia (AIJAC), Jeremy Jones AM mengatakan sebagai negara yang kooperatif Indonesia  memiliki peran penting dalam perdamaian Israel dan Palestina.

    “Indonesia dengan keberagaman agama, politik dan budaya serta etnis mampu menjadi penengah berbagai konflik di dunia terutama Israel dan Palestina. Di samping itu Indonesia bukan negara Arab jadi ini merupakan hal yang baru untuk peran dalam perdamaian itu, dan Indonesia bisa melakukannya,” kata Jeremy di sela-sela World Peace Forum (Forum Perdamaian Dunia) di Bogor pada Sabtu (24/11).

    Hal senada juga disampaikan anggota komisi 1 DPR Nurhayati  yang  mengatakan  “Indonesia bisa menjadi pelopor untuk ikut berperan dalam perdamaian antara Israel dan Palestina karena Indonesia sudah memiliki banyak pengalaman multi agama, multi budaya dan multi etnis serta  multi lainnya.”

    Nurhayati meyakini dengan pengalaman itu Indonesia mampu menjadi lebih terbuka dibanding negara lain. Masih banyak di negara lain yang masih kurang toleran terhadap kelompok agama dan etnis lain.

   Nurhayati optimis dengan diadakannya World Peace Forum ini bisa menyatukan berbagai perbedaan seluruh negara, karena forum ini dihardiri 44 tokoh berbeda agama, ras dan budaya dari 21 negara yang memiliki perhatian khusus terhadap perdamaian dunia.

 

Konflik Palestina-Israel Jadi Isu Hangat

     World Peace Forum atau Forum Perdamaian Dunia (WPF) ke-IV ini diselenggarakan oleh PP Mumahmmadiyah dengan tema ‘Consolidating Multicultural Democracy’ (Konsolidasi Demokrasi Multikultural) di Bogor, Jawa Barat. Dalam forum WPF ke-IV yang dihadiri tak kurang dari 44 tokoh dunia itu, konflik Palestina-Israel kembali menjadi salah satu topik hangat yang dibicarakan.

    “Setiap kami menyelenggarakan World Peace Forum, selalu peristiwa kekerasan atau tragedi kemanusiaan seperti di Palestina menyertai. Tetapi itu sebuah kebetulan saja, karena forum ini dirancang sudah jauh-jauh hari. Ini menjadi momentum untuk membantu menemukan penyelesaian  berbagai persoalan yang terjadi di dunia,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Hotel Novotel, Bogor, Sabtu (24/11/2012).

    WPF IV diselenggarakan PP Muhammadiyah bekerjasama dengan Cheng Ho Multi Culture Trust Malaysia, dan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC).

      Masalah konflik Palestina-Israel itu muncul bahkan sejak pembukaan dalam sambutan yang disampaikan oleh Din Syamsuddin, yang kemudian dibahas  juga dalam sesi pertama tema ‘Identity and Democaracy; Respecting Identity within a Multicultural Society’ (Identitas dan Demokrasi; Menghormati Identitas di dalam suatu Masyarakat Multikultural).

      Sementara itu Ketua Pengarah acara WPF IV, Riefqi Muna, mengatakan memang tidak secara spesifik masalah Palestina-Israel itu diangkat dalam satu sesi khusus. Tetapi karena tema WPF kali ini adalah demokrasi multikultural maka dengan sendirinya masalah tersebut menjadi hangat dibicarakan.

      “Mungkin tidak secara spesifk membahas konflik Gaza, karena ini bukan forum bilateral. Topiknya adalah demokrasi miulti budaya, maka lebih banyak berbicara bagaimana demokrasi yang sekarang menggeliat di negara Arab betul-betul bisa tampil dalam nilai yang substantif, bukan prosedural tetapi betul-betul bisa membawa kesejahteraan,” ungkapnya.

    “Mereka sangat peduli untuk melihat proses perdamaian di Gaza, karena tentunya kami melihat penyelesaian damai di sana tidak ada kata tawar menawar. Secara khusus kami tidak membuat forum (tentang konflik Gaza), tetapi pembahasan mengenai Palestina ini muncul selain konflik Rohingnya,” jelas Riefqi.

   Forum Perdamaian Dunia yang diikuti peserta dari  sekitar 21 negara termasuk antara lain Amerika, Australia, Inggris, Iran, Tunisia, Turki, Filipina, Malaysia, Maroko, Jepang dan Cina ini dijadwalkan akan ditutup oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono Minggu.  (R-010/R-012/R-006)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply