KERUSUHAN MESIR MULAI TELAN KORBAN

 

        Kairo, 14 Muharram 1434/28 November 2012 (Press TV/RT/MINA) – Seorang demonstran tewas dan ratusan lainnya terluka dalam aksi demonstrasi melawan keputusan dekrit  Presiden Mesir Muhammad Mursi di lapangan Tahrir, Selasa (27/11).

 

      Korban tewas karena sesak nafas akibat gas air mata dan ratusan lainnya terluka setelah bentrokan terjadi antara tentara kemanan Mesir dan demonstran.

      Polisi menembakkan gas air mata setelah demonstran berusaha melempari polisi dengan batu di jalan kedutaan besar Amerika dan alun-alun bersejarah yang berfungsi sebagai pusat pemberontakan yang menggulingkan Presiden Husni Mubarak dua tahun yang lalu.

     Menteri urusan dalam negeri Mesir melaporkan sejumlah 348 demonstran yang bertindak anarkis telah di tangkap, dan 216 polisi dilaporkan mengalami luka luka serius.

     Demonstran liberal dan sekuler, serta mereka yang setia kepada mantan presiden Husni Mubarak, telah menggelar protes di alun-alun sejak Jumat untuk menuntut Presiden Mursi mencabut keputusan mengenai dekrit konstitusional yang dikeluarkannya.

      Kemudian pada Selasa malam, ribuan masa dari berbagai kota berkumpul di lapangan Tahrir, di tengah-tengah lautan bendera Mesir, kerumunan meneriakkan slogan-slogan menentang Mursi dan Ikhwanul Muslimin.

     Ikhwanul Muslimin, yang mendukung Presiden Mursi dan partai ultrakonservatif memutuskan untuk membatalkan demonstrasi balasan karena khawatir hal itu akan menyebabkan lebih banyak kekerasan.

    Unjuk rasa juga digelar di kota-kota seperti Mansura, Tanta dan Mahla dan di provinsi-provinsi tengah Assiut, Sohag dan Minya.

   Ribuan pengunjuk rasa di Mahla, yang berkumpul di alun-alun mengatakan bahwa mereka mendengar suara tembakan ketika melancarkan  aksi demonstrasi.

     “Orang-orang mulai berteriak melawan Mursi dan Ikhwanul Muslimin di alun-alun dekat markas Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) dan tiba-tiba peluru mulai beterbangan kemana saja dari arah markas Partai kebebasan dan keadilan,” kata seorang demonstran yang bernama Mohamed Fathi kepada Daily News Mesir.

        Sementara itu, mantan kandidat presiden Mesir Hamdeen Sabahy, telah membuat sebuah gerakan yang disebut “Current Popular” dan telah bergabung dengan beberapa pemimpin oposisi lainnya untuk mengecam keputusan dekrit.

     Sabahy mengatakan dalam konferensi pers, “Keputusan kami adalah untuk terus di alun-alun, dan kami tidak akan pergi sebelum deklarasi ini dicabut.” Dia juga mengatakan bahwa Tahrir Square akan menjadi model dari sebuah Mesir yang tidak akan menerima diktator baru karena meruntuhkan yang lama. “

     Demonstrasi besar-besaran terjadi karena rakyat Mesir menentang dekrit konstitusional yang dikeluarkan oleh Presiden Mursi serta melarang pengadilan melawan keputusan yang telah dikeluarkan. Lebih dari 100.000 demonstran berdemo di Lapangan Tahrir Selasa lalu dan setiap hari demo terus berlanjut sejak Jumat lalu.

    Pada hari Senin, juru bicara kepresidenan Yasser Ali mengatakan bahwa presiden Mesir berpegang pada keputusannya dan deklarasi tidak akan mengalami perubahan apapun. (T/R-009?R-006)

Rate this article!

Leave a Reply