Mantan marinir AS beri saksi serangan Mavi Marmara

Laporan langsung dari Pengadilan Istambul, Turki *

ISTANBUL – 22 Dzulhijjah 1433 / 7 November 2012 (MINA) – Pengadilan Istambul Turki dalam persidangan sesi pertama dari kesaksian terhadap penyerangan yang dilakukan tentara Zionis Israel terhadap relawan yang tergabung dalam Freedom Flotilla, 31 May 2010, dimulai di Istambul, Turki, 6 November 2012.

Pengadilan kali ini menghadirkan para saksi dari seluruh konvoy laut Freedom Flotilla 1, termasuk mereka yang berlayar di atas kapal Mavi Marmara. Di antara para saksi, hadir Ann Wright, mantan anggota parlemen dan tentara Angkatan Laut AS.

Menurut Ann Wright, berdasarkan pengalamannya sebagai anggota militer, tentara IsraelDefence Forces (IDF) tidak perlu melakukan intervensi yang melibatkan kekerasan ketika penyerangan terhadap kapal Mavi Marmara berbendera Turki yang terjadi pada dini hari tanggal 31 May 2010.

“Ada banyak cara lain yang dapat ditempuh oleh tentara Israel dalam menghentikan Freedom Flotilla saat itu,” ujarnya.

Saksi Lain

Saksi lain, Prof Ahmet Dogan, ayah dari Furqan Dogan, turut memberikan kesaksian atas apa yang terjadi pada puteranya di atas kapal Mavi Marmara.

Furqan, pemuda 19 tahun, menjadi syahid termuda pada penyerangan Freedom Flotilla, dengan 4 luka tembak di wajah dan satu luka tembak di tubuhnya.

Ahmet Dogan tampak kesulitan ketika menjelaskan kejadian yang menimpa anaknya, dan para saksi yang hadir di pengadilan terlihat menitikkan air mata ketika mendengarkan kesaksian Ahmet Dogan.

Dulu, waktu jenazah Furqan dimakamkan di Kayseri, sekitar 100 kilometer di sebelah utara kota Istambul, puluhan ribu orang mengantarkan puteranya.

Ayah Furqan ketika itu mengatakan di depan makam puteranya, “Kami tidak sedih atas kematian anak kami. Karena dia mati di atas jalan kemuliaan. Kami hanya bertanya-tanya apakah kami cukup layak menjadi ayah bagi anak semulia ini.”

Dror Feiler, mantan tentara Israel yang juga menjadi saksi pada pengadilan tersebut mengatakan, sejatinya tentara dilatih untuk membunuh musuh, dan tidak dilatih untuk menghadapi rakyat sipil seperti peserta Freedom Flotilla 1. 

Dimitris Plionis dari Yunani menegaskan, posisi Turki dan Yunani merupakan anggota NATO. Karenanya, Israel tidak seharusnya mempertanyakan keamanan Flotilla, sebab Flotilla ini terdiri dari kapal-kapal laut, yang di antaranya merupakan milik Turki dan Yunani. 

Kevin Nesh asal Kanada, hadir dengan membawa barang bukti berupa foto-foto yang ia simpan di sebuah memory stick. Di dalam dokumen itu terdapat gambar-gambar tentang penyerangan yang terjadi, bagaimana tentara Israel yang berhasil ditahan dan dilindungi oleh relawan Mavi Marmara, bahkan diberikan bantuan medis oleh dokter yang berada di atas kapal Mavi Marmara.

Kevin Nesh juga menjelaskan, prosedur ketika ia dipindahkan dari kapal Challanger 2 ke kapal Mavi Marmara. Ia mengatakan, pada saat ia menginjakkan kaki di atas kapal Mavi Marmara, tubuh dan tas miliknya diperiksa dengan detail oleh petugas keamanan Mavi Marmara.

Ketika petugas keamanan menemukan sebuah pisau Swiss Army kecil milik Kevin Nesh, petugas tersebut membuang pisau itu ke laut, dan menjelaskan kepadanya bahwa hal itu dilakukan karena setiap orang yang berada di atas kapal Mavi Marmara tidak diperkenankan untuk membawa barang yang berpotensi membahayakan.

Sidang di Istambul rencananya akan digelar tanggal 6, 7 dan 8 November 2012, dengan menghadirkan kesaksian para peserta Flotilla di kapal Mavi Marmara beserta keluarganya. (R-001)

*Tim Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) melaporkan untuk Kantor Berita MINA.

Leave a Reply