Mesir berusaha ciptakan kekuatan regional baru

2012-11-30, 23:00:24

     Jakarta, 17 Muharram 1434 / 30 November 2012 (MINA) – Mesir sedang berusaha menciptakan kekuatan regional baru di Kawasan Timur Tengah, jika mampu mengatasi krisis politik yang terjadi pasca Dekrit Presiden saat ini.
     Pengamat Timur Tengah dari Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Fahmi Salsabila mengatakan hal itu kepada reporter MINA melalui telepon di Jakarta, Jumat (30/11).  

   Menurutnya, Presiden Muhammad Mursi harus mampu menjaga kestabilan politik dalam negerinya dan mampu meredam serta memenuhi aspirasi pihak oposisi.
“Tindakan Mursi dengan mengeluarkan dekrit merupakan upaya menyelamatkan parlemen Mesir yang terancam dibubarkan militer. Tindakan ini dilakukan hanya untuk temporer saja” kata Fahmi.
     Lebih lanjut Fahmi menyatakan, pihak oposisi liberal sampai saat ini tetap menganggap jalannya pemerintahan Presiden Mursi ini seakan-akan membentuk pemerintah otoriter. Walau demikian, upaya Muhammad Mursi tersebut hanya untuk mengawal jalannya resolusi dan pembentukan struktur pemerintahan, dewan yang belum terbentuk, mengadili kembali pejabat yang bersalah pada rezim Husni Mubarok.
     “Mengingat isi dekrit tersebut tidak bisa diganggu gugat, dapat menyebabkan kerawanan. Hal tersebut juga bisa dijadikan propaganda oleh Israel melalui operasi intelejen, sehingga menimbulkan krisis politik berkelanjutan yang dapat merugikan Mesir dan kawasan Timur Tengah secara luas”, papar dosen Hubungan Internasional itu.
     Fahmi mengingatkan, adanya krisis ini khawatir dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab mengingat Mesir di bawah Ikhwanul Muslimin sangat dekat dan mendukung perjuangan Hamas di Gaza. Israel sangat khawatir terhadap Mesir di bawah kepemimpinan Mursi, papar Sekjen ISMES tersebut.
     Sampai saat ini gelombang unjuk rasa menentang dekrit Presiden Mursi masih terus berlangsung di Tahrir Square dan beberapa tempat lainnya di Mesir. Menanggapi besarnya demontrasi menentang kebijakan Presiden itu, Mursi melakukan berbagai upaya dialog dengan pihak opisisi dan Ikhwanul Muslimin sebagai pendukung utama Mursi.    Upaya pendukung Mursi melakukan demo tandingan akhirnya dibatalkan karena dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusuhan yang lebih besar.
     Oposisi Mesir menolak diberlakukannya dektrit tersebut dan menuduh Mursi melakukan kediktatoran baru presiden terhadap lembaga peradilan. Namun kelompok loyalis Ikhwanul Muslimin mendukung langkah presiden tersebut lantaran dianggap untuk menyelamatkan negara. (L/R-16/R05).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply