OTORITAS PALESTINA BAWA ISRAEL KE ICC JIKA ARAFAT TERBUKTI DIBUNUH

 

     Ramallah, 14 Muharram 1434/28 November 2012 (MINA) – Kepala penyidik Tawfiq Tirawi mengatakan Selasa, Otoritas Palestina akan memulai proses hukum terhadap Israel di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) jika tes forensik membuktikan Presiden Yasser Arafat dibunuh,

    “Kami memiliki bukti dan indikasi bahwa Arafat tewas dibunuh, juga di samping itu pernyataan para pemimpin Israel dahulu pernah mengatakan bahwa pihaknya harus menyingkirkan Arafat, tapi kita perlu bukti untuk mengajukannya ke Mahkamah Pidana Internasional,” kata Tirawi pada saat konferensi pers di Ramallah, demikian menurut informasi Ma’an News Agency yang diterima Mi’raj NewsAgency, Rabu

     Ahli forensik mengambil sampel dari mayat Arafat di Ramallah  Selasa untuk mencari tahu apakah Arafat dibunuh oleh agen-agen Israel dengan racun radioaktif Polonium yang sulit dilacak.

    Tirawi yang mengepalai komite pnyelidik kematian Arafat, mengatakan kepada wartawan bahwa sampel yang diambil oleh para ahli dari Rusia, Swiss dan Perancis yang meninggalkan Ramallah pada hari yang sama.

    Tirawi menambahkan pihak Palestina telah mengawasi semua prosedur hukum dan medis yang berlangsung selama beberapa hari terakhir.

    “Jenazah Arafat hanya disentuh tangan Palestina saja. Jadi tim medis Palestina mengambil sampel dan memberikannya kepada tim lain seperti yang diminta,” kata Tirawi.

    Arafat meninggal sebagai martir saat terjadinya usaha pembentukan negara Palestina merdeka dengan Jerusalem sebagai ibukotanya, Tirawi mengatakan, otopsi jenazah Arafat ini bertepatan dengan pengajuan Palestina untuk mendapat status “negara peninjau” di PBB.

      “(Negara Palestina dengan Jerusalem sebagai ibukotanya) adalah apa yang selalu Yasser Arafat katakan dan hari ini ia mengulangi itu dari kuburnya,” tambah Tirawi.

     Menurut laporan Ma’an, Perdana Menteri Ismail Haniya kepada wartawan mengatakan ia mendukung upaya Otoritas Palestina (PA) dalam hal ini.  “Kasus Yasser Arafat adalah kasus nasional khusus karena Arafat adalah seorang ikon revolusioner dan pemimpin rakyat Palestina,” kata Haniya.

    Banyak  warga Palestina yakin Arafat adalah korban pembunuhan, dan  mereka tetap yakin walaupun hasil otopsi ini mengatakan tidak.

     Ma’an melaporkan  beberapa warga di kota Ramallah menyesalkan penggalian mayat Arafat pada saat ini.  “Ini salah, setelah sekian lama, tiba-tiba hari ini mereka ingin mengetahui kebenaran? Mereka seharusnya melakukan ini delapan tahun yang lalu.” kata  Ahmad Yousef (31), seorang pekerja konstruksi. 

     Sampelnya diambil tanpa mengangkat jenazah Arafat dari tanah sehingga upacara penguburan yang direncanakan dengan penghormatan penuh dibatalkan. 

     Kuburan itu disegel kembali dalam beberapa jam  kemudian dan karangan bunga ditempatkan oleh para pemimpin Palestina termasuk Perdana Menteri  Otoritas Palestina, Salam Fayyad.

     “Keadaan tubuhnya  sama persis  seperti Anda lihat pada jenazah lain yang sudah terkubur selama delapan tahun. Tidak ada yang luar biasa,” kata Menteri Kesehatan Hani Abdeen dalam konferensi pers hari ini.

    Hakim Perancis Agustus 2004 lalu membuka penyelidikan pembunuhan kematian Arafat di Paris, setelah sebuah lembaga Swiss mengatakan telah menemukan polonium tingkat tinggi pada pakaian Arafat yang  diperlihatkan istrinya, Suha, pada sebuah dokumenter televisi.

Hasilnya di Musim Semi 2013

     Kepala komite medis Palestina  yang juga seorang dokter dari Jordan, Abdullah al Bashir, mengatakan sekitar 20 sampel yang diambil dan akan dianalisis yang akan memakan waktu setidaknya tiga bulan.

     “Untuk menganalisis, memeriksa, periksa silang dan periksa silang ulangan akan memakan waktu beberapa bulan dan saya belum tahu kita akan mendapat hasil nyata sebelum Maret atau April tahun depan,” kata Darcy Christen, juru bicara Lausanne University Hospital di Swiss yang melakukan tes pada pakaian Arafat.

     Arafat memimpin usaha pengajuan Palestina untuk mendapatkan kemerdekaannya selama bertahun-tahun perang dan perdamaian, kemudian meninggal di sebuah rumah sakit militer di Perancis pada usia 75 tahun karena sakit yang masih misterius.

    Atas permintaan Suha dan dokter Perancis yang merawatnya, mengatakan mereka tidak dapat menentukan penyebab kematian Arafat.  Jadi  tidak ada otopsi yang dilakukan pada saat itu.

    Tapi dugaan yang mencurigakan muncul segera setelah itu dan banyak orang Palestina  menuduh Israel, yang membatasi ruang gerak Arafat hanya di sekitar markasnya di Ramallah selama dua setengah tahun setelah pemberontakan Palestina meletus, telah membunuh pemimpin Palestina tersebut.

    Israel membantah hal ini. Pemimpin Israel pada saat itu, Ariel Sharon yang sekarang berbaring dalam keadaan koma yang diperkirakan tidak akan sadar kembali.  Israel  mengundang pemimpin Palestina untuk  membuka catatan medis Arafat  yang tidak pernah dipublikasikan setelah kematiannya dan masih belum dibuka.

     Polonium yang larut dalam makanan juga menyebabkan kematian mantan mata-mata Rusia Alexander Litvinenko di London pada 2006. Tetapi beberapa ahli mempertanyakan apakah Arafat meninggal dengan  zat ini, mengingat pemulihan singkat terjadi selama sakitnya yang tidak sesuai jika dengan keracunan radioaktif. Mereka juga  memperhatikan Arafat tidak kehilangan semua rambutnya.

     Tidak semua keluarga Arafat setuju untuk penggalian itu.  Istri  Arafat, Suha,  menyaksikan penggalian suaminya di televisi dari rumahnya di Malta. “Ini akan menjadi sebuah akhir, kita akan segera mengetahui  apa yang menyebabkan  dia meninggal dan saya berhutang  tentang jawaban ini kepada rakyat Palestina, generasi-generasi baru,  serta putrinya,” kata Suha kepada Times Malta.(T/R-010/R-006)

Leave a Reply