RELAWAN INDONESIA SHALAT JUMAT BERSAMA PM ISMAIL HANIYA DI MASJID SERATUS SYUHADA

Laporan : Muhammad Husain *
 
Gaza, Palestina, 25 Dzulhijjah 1433 / 10 November 2012 (MINA) – Seperti biasa setelah shalat shubuh hari Jumat, relawan Indonesia yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, merencanakan shalat Jumat di mana. 

Sejak pukul 10.30 waktu setempat, relawan berlomba menggapai keutamaan hari Jumat. Sebagian berangkat ke Masjid Umar bin Khattab, di belakang RSI. Sebagian lainnya bergegas menuju Masjid Azzawiyah, berlokasi di dataran tinggi sebelah timur RSI.

Sementara kami berempat bersama Zein (49), Sumadi (40), dan Aziz (22) berencana menuju Masjid Syeikh Zaid, masjid terbesar di sekitar RSI.

Di tengah perjalanan menuju masjid, sebuah mobil pick up kapasitas enam tempat duduk berhenti dan menyapa kami. Dalam perkenalan singkat namun terasa hangat, seorang dari mereka menginformasikan bahwa hari ini Abul Abid (nama lain PM Palestina Ismail Haniya) akan khutbah Jumat di masjid Al-Khulafa Ar-Rasyidin.

“Paling sekitar satu kilo meter saja dari sini,” ujarnya.

Melihat perubahan raut muka kami, si pengemudi pun segera menyuruh kami masuk ke mobil untuk pergi bersama ke masjid tersebut.

Sesampainya di halaman masjid Al-Khulafa Ar-Rasyidin, kami menyaksikan ribuan masyarakat berdesakan masuk masjid yang cukup besar itu.

Puluhan wartawan sudah stand by di dalam masjid dengan berbagai alat medianya, termasuk kami yang ditugaskan sebagai koresponden Kantor Berita Islam MINA berpusat di Jakarta. Kami pun segera masuk ke ruangan masjid dan menunaikan shalat tahiyatul masjid.

Tidak lama kemudian tibalah rombongan menteri dan ulama Gaza mengisi shaf terdepan. Sebelum duduk, mereka berdiri berjajar dan saling bersalaman dan berpelukan hangat dengan jamaah sahalat, termasuk dengan kami berempat relawan RSI.

Sekitar lima menit berselang hadir Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya, yang bertindak sebagai imam dan khatib shalat Jumat. PM Haniya masuk diiringi rombongan ulama dan staf kementrian dari Mesir, sejumlah 57 orang. Kami pun ikut bersalaman dan berpelukan dengan sang perdana menteri.

“Nahnu min indunisia,” sapa kami.

Sang perdana menteri pun membalas dengan sapaan mesra dan bersahaja.

Setelah perkenalan singkat, kami duduk di sejajar dengannya di shaf pertama masjid Al-Khulafa Ar-Rasyidin.

Al-khulafa Ar-Rasyidin, masjid seratus syuhada

Shalat Jumat bersama pejabat terkemuka di Palestina tentu terasa lain dari biasanya. Apalagi di masjid Al-Khulafa Ar-Rasyidin, salah satu masjid yang fenomenal di jalur gaza.

Masjid ini menjadi salah satu sasaran Zionis Israel pada Perang Furqan akhir tahun 2008 lalu. Struktur bangunannya sempat rata dengan tanah, hingga tidak bisa dipakai shalat berjamaah selama tiga tahun lamanya.

Masjid di pemukiman para pengungsi ini menjadi istimewa karena imam tetapnya adalah asy-syahid Syeikh DR Nizar Rayan, seorang mujahid ternama di Palestina. Dialah pejuangan terkemuka Palestina yang dicintai rakyatnya dan disegani musuhnya.

Syeikh Nizar, suami dari empat isteri, gugur sebagai syuhada oleh gempuran F-16 Zionis Israel, yang meluluhlantahkan seluruh empat lantai bangunan rumahnya. Ia syahid bersama keempat isteri anak seluruh anaknya, kecuali satu putera laki-lakinya bernama Bara Rayan. Bara merupakan salah satu dosen di Universitas Islam Gaza.

Setelah dibangun kembali dari puing-puing reruntuhannya, sang perdana menteri kharismatik dijadwalkan menjadi imam dan khatib Jumat, sepetti yang kami ikuti.

“Dari jamaah masjid ini telah lahir tidak kurang dari 100 orang yang gugur sebagai syuhada perang melawan Zionis Israel,” ujar warga setempat. 

Para syuhad waqaf Palestina itu rata-rata para aktivis muda yang senantiasa melaksanakan shalat berjamaah dan berbagai kegiatan keislaman di masjid itu. Itulah sebabnya, maka masjid it disebut juga dengan Masjid Seratus Syuhada! Allahu Akbar! (R-001).

* Koresponden Kantor Berita Islam MINA di Gaza, Palestina

Leave a Reply