RELAWAN LANJUTKAN PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT DI GAZA

2012-11-27, 23:56:49

   Gaza, 13 Muharram 1434/27 November 2012 (MINA) – Pasca genjatan senjata Palestina-Israel, relawan RS Indonesia di Gaza kini melanjutkan kembali pembangunan proyek rumah sakit yang diprakarsasi Medical Emergency Rescue-Committee (MERC-C) dengan dana dari masyarakat Indonesia tersebut.
   “Relawan-relawan Indonesia sekarang sedang melaksanakan pekerjaan pembuatan tembok di lantai satu dan lantai dua bangunan rumah sakit berlintai lima itu,” kata Nur Ikhwan Abadi, koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Gaza yang dihubungi dari Jakarta, Selasa malam.

   Selama delapan hari serangan Israel ke Jalur Gaza yang dimulai pada 14 hingga gencatan senjata 21 November lalu, sebenarnya relawan-relawan Indonesia itu tetap bekerja sesuai instruksi dari Jakarta, namun pekerjaan dilaksanakan di bagian lantai bawah tanah (basement) karena memperhitungkan keamanan.
   Saat puncak serangan-serangan pesawat tempur Israel ke berbagai sasaran di Gaza tersebut, sebuah bom  Israel jatuh dan menghancurkan sebuah bangunan hanya sejarak 100 meter dari RSI-Gaza. Akibat guncangan bom bahkan sempat memecahkan beberapa kaca jendela RSI. Namun tidak mencederai relawan.
   Lokasi rumah sakit ini sendiri termasuk sangat dekat dengan perbatasan, yaitu sekitar 2,5km dari pagar perbatasan di kawasan Beit Lahiya, Gaza utara.
   Bahkan lahan seluas 1,6 hektar yang jadi lokasi RSI itu sebelumnya  adalah tempat latihan tempur para pejuang Gaza, sebelum akhirnya disetujui oleh Pemerintah Palestina di Gaza  kepada  MERC-C sebagai pihak yang memprakarsasi  pembangunannya atas dasar kemanusiaan.
   Di proyek tersebut, bekerja 28 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, mulai dari tukang batu, ahli listrik, air, hingga insinyur sipil. Para relawan ini merupakan personil dari Pesantren Al Fatah di Indonesia, yang kedudukan pusat di Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.
   RSI-Gaza  di bangun di atas lahan 1,6 hektar yang kini sudah memasuki tahap konstruksi fisik kedua serta jaringan listrik. Biaya total sampai tahap pembangunan fisik Rp30 miliar, dana terpakai Rp22,5 miliar dan sisa kebutuhan dana Rp7,5 miliar sedang dalam penggalangan di Indonesia.
   Usai pembangunan fisik, masih akan dibutuhkan dana untuk fasilitas pendukung dan medis, dari mebeler, tempat tidur hingga perangkat medis. Total kebutuhan dana untuk berbagai perangkat itu berkisar Rp15 miliar rupiah.    
   Namun  belum termasuk perangkat medis modern seperti MRI (magnetic resonance imaging), sehingga angka kebutuhan keseluruhan sebenarnya masih Rp30 miliar. RSI-Gaza diharapkan sudah akan bisa melayani pasien pertama pada tahun 2014.

Bantu Warga
   Ketika serangan Israel ke Gaza sepanjang delapan hari beturut-turut, banyak warga sekitar rumah sakit memerlukan kebutuhan minum dan makan. Sebab, pasar dan took bahan makanan tutup, seperti kota mati, susah mendapatkan makanan.
   Para relawan MER-C asal Indonesia itu pun menyalurkan bantuan bahan makanan pokok ke warga sekitar, senilai 18.000 US dolar atau senilai sekitar 180 juta rupiah. Pada bulan Ramadhan lalu, relawan juga menyalurkan zakat fitrah sebagian umat Islam Indonesia.
   “Idul Adha, kita juga menyembelih kurban titipan saudara-saudara kami dari Indonesia untuk dibagikan kepada warga Gaza yang lebih membutuhkan disbanding kita,” kata Ir. Nur Ikhwan Abadi, Kepala Proyek RSI.
   Pengamatan Koresponden MINA di Gaza, pascaserangan ini, bantuan mendesak yang sangat diperlukan adalah obat-obatan untuk warga yang terluka akibat bom, renovasi infrastruktur pengadaan air bersih, pembangunan rumah tinggal, sarana listrik, dan sarana belajar.
   Juga menghadapi musim dingin yang tinggal hitungan hari, warga juga sangat memerlukan pakaian tebal atau jaket penghangat. (T-R22/R03/R05).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply