ROHINGYA : KRISIS KEMANUSIAAN PALING PARAH DALAM SEJARAH

Sittwe, Myanmar, 20 Dzulhijja 1433 / 5 Nopember 2012 (IINA/MINA) – Terasingkan ke kamp-kamp pengungsian, ribuan orang yang menjadi korban dalam konflik di Myanmar menghadapi krisis kemanusiaan yang sangat parah, mereka mulai kekurangan cadangan makanan, air dan obat-obatan, ungkap salah seorang relawan.

Lebih dari 100.000 jiwa telah kehilangan tempat tinggal mereka sejak Juni lalu akibat konflik yang terjadi di sebelah barat negara bagian Rakhine, dimana dalam bentrokan yang baru terjadi pada bulan lalu antara umat Buddha Rakhine dan umat Islam Rohingya, sedikitnya ada 30.000 orang yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Puluhan korban jiwa dari kedua belah pihak dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal akibat rumah mereka dibakar.

Meskipun pengungsiannya terletak tidak jauh dari Ibukota Sittwe, tapi para korban tetap mengalami kelaparan.

“Kami tidak punya cadangan makanan yang cukup untuk dimakan,” ujar Phyu Ma Thein, salah seorang pengungsi. “Kami diberi semangkuk nasi tapi kami tidak punya pot ataupun piring. Kami tidak punya apa-apa. Saat  ini kami hanya berusaha untuk bertahan hidup, “ timpalnya.

Situasi ini cenderung memburuk. Badan Pengungsian PBB pada minggu ini telah mengingatkan, bertambahnya jumlah pengungsi yang memenuhi kamp-kamp “telah melebihi kapasitas ruang, tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti cadangan makanan dan air”. “Harga makanan di daerah ini naik dua kali lipat dan tidak banyak dokter yang ada untuk menangani orang yang sakit dan terluka”, tambahnya. Sebagian besar pengungsi Rohingya, sebagai mana digambarkan oleh PBB, menjadi salah satu minoritas di dunia ini yang paling teraniaya. Sebanyak 800.000 jiwa yang kehilangan kewarga negaraan, sudah lama sekali menghadapi diskriminasi. Kamp-kamp pengungsian saat ini berada pada titik nadir, dimana menurut Refugees Internasional (RI) sebelum bentrokan bulan lalu, setidaknya seperempat anak-anak yang ada di pengungsian telah mengalami kekurangan gizi.

“Kondisi pengungsian ini sangat buruk, jika tidak lebih buruk dari kamp pengungsian yang ada di timur Kongo atau Sudan,” ucap Melanie Teff, salah seorang peneliti dari sebuah yayasan amal ketika mengunjungi Sittwe pada bulan September lalu. “Anak-anak mengalami kekurangan nutrisi dalam tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Ada kebutuhan air bersih dan makanan yang sangat mendesak. Mungkin jika para relawan tidak datang, akan ada kematian yang sia-sia” ujarnya.

Dengan puluhan ribu penduduk Rohingya di desa-desa terpencil yang mencari nafkah tanpa adanya perlindungan keamanan sejak Juni lalu, Teff khawatir kalau pengungsian itu tidak akan mampu lagi menampung para korban yang akan datang dalam beberapa bulan ke depan. Myanmar, menurutnya harus mau menerima bantuan dari negeri-negeri Muslim atau mereka akan menghadapi reaksi internasional.

Saat ini para pengungsi menghadapi tekanan psikologis yang sangat berat, terlebih untuk anak-anak. “Mereka kehilangan rumah. Anak-anak tidak bisa ditinggalkan sendirian seperti sebelumnya. Jadi mereka tertekan,” ungkap Moe Thadar, relawan Palang Merah setempat. Menurutnya dengan tensi yang masih tinggi, upaya pemberian bantuan akan menjadi sia-sia kecuali dengan apapun caranya, kedua belah pihak bisa berdamai.

“Seperti yang diketahui, pengungsi Rohingya sudah tidak memiliki harapan lagi, mereka ditolak oleh banyak negara, mereka sudah sangat menderita,” ungkapnya. “Satu-satunya jalan keluar adalah dunia internasional segera beraksi untuk permasalahan sekarang ini”.

UNHCR menyebutkan, beberapa bentrokan yang dialami oleh penduduk Rohingya akhir-akhir ini menyebabkan mereka harus mengungsi ke pinggiran Sittwe menggunakan perahu atau melarikan diri ke negara lain. Seperti kita ketahui, para pengungsi Rohingya pernah “mampir” ke Aceh untuk mencari kehidupan yang lebih layak beberapa waktu lalu. Mereka datang hanya dengan menggunakan perahu untuk mengelilingi samudra dengan perbekalan seadanya.

Namun tetap saja ada yang harus mengalami hal yang memilukan. Ada kapal yang ditumpangi para pengungsi tersebut harus tenggelam di perairan dekat perbatasan Bangladesh dengan Myanmar. Dilaporkan 130 jiwa hilang dalam tragedi tersebut.

“Manusia membutuhkan tempat tinggal, tempat untuk tidur dan makan,” ujar Myint Oo, salah seorang pengungsi Muslim yang kehilangan rumah dan usaha perikanannya. “Jika kamu tidak bisa makan dan tidur, itu lebih buruk daripada kematian,” sambungnya. (J-001).

Leave a Reply