RUMAH SAKIT INDONESIA DI TENGAH DENTUMAN BOM

Koresponden Kantor Berita Islam MINA di Gaza

Gaza, 28 Dzulhijjah 1433 / 13 November 2012. (MINA) – Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina tetap berlanjut meski serangan pasukan Zionis Israel terus menggempur daerah itu.

     Pekan ini situasi Gaza dan sekitarnya kembali memanas, serangan membabi buta Zionis Israel banyak menimbulkan korban warga sipil.
“Hari ini pesawat apache Zionis Israel kembali menembakkan pelurunya ke perkampungan warga sekitar 200 meter dari RSI di Bayt Lahiya, Gaza Utara,” ujar Ridho, salah seorang relawan RSI.
     Menurutnya, meski dentuman bom terdengar hampir tiap hari, pembangunan rumah sakit tetap berjalan sesuai perencanaan, dengan tetap siaga atas segala kemungkinan yang terjadi.
     Pembanguan RSI diawali dengan Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara rakyat Indonesia yang diwakili oleh Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis dan Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem, tanggal 23 Januari 2009. Ini merupakan sebuah tonggak bersejarah hubungan dekat kedua negeri walau terpisah jarak fisik puluhan ribu kilometer.
     Kemudian fisik rumah sakit mulai dibangun tanggal 14 Mei 2011, dengan tipe Trauma Center and Rehabilitation, dibangun di atas luas tanah 16.261 m2, wakaf pemerintah Palestina di Gaza.
     Perdana Menteri Ismail Haniya saat peresmian rumah sakit tahun menyebutkan, bangunan rumah sakit tampak cantik, secantik hati rakyat Indonesia, dan menjadi pendukung tercapainya pembebasan Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina.

Krisis Obat-Obatan
     Zionis Israel tidak peduli kalau kondisi warga Gaza sangat memprihatinkan, terutama dalam bidang kesehatan. Krisis obat-obatan sangat mengkhawatirkan, sejak blokade Gaza beberapa tahun lalu.
     Jikapun ada obat-obatan, stoknya sangat terbatas, hanya cukup untuk satu atau bulan saja. Masih sangat kurang dibandingkan kebutuhan rakyat Gaza. Terlebih banyaknya pasien memerlukan perawatan intensif dan berkala. Bahkan tidak jarang mereka harus keluar Gaza, hanya untuk mencari obat-obatan yang dibutuhkan.
Menceramati hal tersebut, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang membangun RSI memberikan bantuan obat-obatan melalui Jabaliya Medical Center, pusat pengobatan di kota Jabaliya, Utara Gaza.
     Beberapa waktu lalu sejumlah obat-obatan bantuan masyarakat Indonesia dibawa langsung dari Indonesia. Bantuan diserahkan langsung Presidium MER-C dr. Joserizal Jurnalis kepada Manajer Operasional Jabaliya Medical Centre (JMC) dr. Abdul Karim Al-Najjar. Ikut serta dalam rombongan, Ir Faried Thalib selaku Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Ir Idrus Alatas Perancang Bangun RSI, serta relawan lainnya.
     JMC berdiri sekitar dua bulan lalu, untuk memberikan santunan kepada kaum miskin, masih sangat membutukan memerlukan obat-obatan untuk warga setempat. Tidak jarang para pasien terpaksa harus mencari obat-obatan sendiri di luar JMC, karena tidak punya stok.
     “Jazakallah syukran,“ berkali-kali diucapkan dr. Al-Najjaar saat menerima bantuan tersebut.
     Selain obat-obatan, MER-C juga memberikan tiga unit air conditioner (ac) untuk beberapa ruangan yang masih menggunakan kipas angin. Ketiga ruangan yang sangat membutuhkan ac tersebut adalah ruang bedah minor, ruang khusus gigi dan ruang untuk Ibu dan anak.
Menurut dr. Jose AC di ruangan itu sangat dibutuhkan, agar ruangan senantiasa dalam kondisi steril dan terawat.

Apresiasi Menkes Palestina
     Bantuan rakyat Indonesia untuk Gaza Palestina berupa rumah sakit, obat-obatan, dan sarana kesehatan mendaat apresiasi hangat dari pemerintah setempat.
Pemerintah setempat melalui Menteri kesehatan Gaza dr. Mufeed Mukhalalati menyambut kedatangan tim MER-C di Rumah Sakit Syifa Gaza akhir Oktober lalu. Turut hadir dr. Muhammad Al-Kasyif General Manager Hubungan Internasional Kementrian Kesehatan, dr Medhat Abbas Direktur Umum Rumah Sakit Syifa, dan sejumlah pejabat dari Kementrian Kesehatan Gaza.
     Sedangkan relawan Indonesia, diwakili dr Joserizal Jurnalis, Ir Faried Thalib, Ir Idrus Alatas, dr. Zakiyah Arfinda Yahya, Ir Luly Larissa, dan lainnya.
Dalam sambutannya, Menkes Mufeed mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas segala bantuan yang telah diberikan untuk membantu rakyat Gaza.
     “Rumah sakit Indonesia akan menjadi rumah sakit utama di jalur Gaza, dan akan menjadi sentral utama dalam memberikan bantuan kepada rakyat Gaza Utara,” ujar Mufeed yang baru menerima amanah sebagai menteri kesehatan menggantikan dr Baseem Naem.

Tetap teguh
     Keteguhan para relawan melaksanakan amanah membangun RSI di Gaza diakui dr. Joserizal, saat ditanya reporter Kantor Berita Islam MINA di Jakarta, beberapa waktu lalu seusai ia kembali dari kunjungannya ke Gaza.
     “Keteguhan dalam pembangunan rumah sakit di Gaza memang terus mendapat ujian, terutama adanya serangan dari Zionis Israel. Tapi kita tetap akan terus istiqamah dalam melaksanakan amanah masyarakat Indonesia untuk mewujudkan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina, “ papar dr. Jose.
Menurut Jose, pengisi salah satu acara Radio Silaturahim 720 AM, rumah sakit ini diharapkan bisa beroperasi pada awal tahun 2014. Saat ini RSI memasuki tahap kedua dari tiga tahap yang direncanakan, yakni pengerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).
     Pada tahap ini diperlukan dana sebesar 22 miliar, sedangkan dana yang terkumpul mencapai 15 miliar rupiah. Rumah Sakit tanda cinta rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina ini direncanakan akan selesai dalam 1,5 tahun ke depan. (Editor : R005).

Leave a Reply