BEBERAPA DAERAH DI MESIR BERSUARA “YA” KARENA INGIN STABILITAS

       Kairo, 4 Shafar 1434/17 Desember 2012 (MINA) – Beberapa daerah  berpenduduk padat di pedesaan, seperti di Assiut, condong memberikan suara “ya” pada rancangan konstitusi dengan harapan dukungan mereka itu akan berarti tercapainya stabilitas di Mesir.

      Beberapa jam setelah pemungutan suara, hasil awal menunjukkan pemilih “ya” memang lebih besar 76 persen dibandingkan 24 persen yang memilih “tidak,” demikian menurut laporan Egypt Independent yang diterima Mi’raj News Agency (MINA), Senin pagi.

      Meskipun sejumlah pemilih mengatakan kepada Egypt Independent di TPS mereka menolak konstitusi, mayoritas warga memberikan persetujuan mereka, di mana Assiut berada di peringkat ketiga, setelah Sinai Utara yang mencapai 82,2 persen  suara ‘ya’ dan 78,7 persen di Sohag.

       Hasil tersebut memang mengejutkan, mengingat setelah tabrakan 17 November lalu di Assiut ketika sebuah kereta menabrak bus dan menewaskan 51 anak.

       Pada saat itu, penduduk daerah menyalahkan pemerintah. Namun pada pemilihan presiden, setelah memilih mantan Perdana Menteri Ahmed Shafiq di babak pertama, lebih dari 60 persen warga di Assiut memilih Presiden Mohammad Mursi.

      Para pemilih di desa Maasara dengan percaya diri mengatakan kepada Egypt Independent bahwa setiap warga Mesir di TPS itu akan memilih “ya,” dan kemudian mulai membicarakan “stabilitas” yang mereka yakini akan dapatkan dengan suara “ya” itu.

      “Kami ingin semua warga  bergerak  bersama di negara ini, dan kami tidak menyukai masalah serta kekerasan yang sekarang sedang terjadi,” kata Ahmed Farhan seorang karyawan di Universitas Assiut.

        Para warga memilih “ya” sebagai ungkapan dukungan untuk Presiden Mursi, sebagaimana banyak yang memilih “tidak” sebagai ekspresi  penolakan mereka pada Mursi dan manuvernya baru-baru ini.

      “Saya memilih ‘ya’ karena melihat negara membaik dan tidak melihat sesuatu yang salah dengannya,” kata Muhammad Abdul Muhsin, seorang pengawas di sebuah perusahaan makanan.

       Komunitas Kristen yang besar mengisi satu TPS  dengan suara “tidak”  mereka yang mencerminkan penolakan pada manajemen Presiden Mursi serta konstitusinya.

       Sementara, para pendukung Islam Mohammad Mursi mengklaim kemenangan setelah hari pertama pemungutan suara dalam referendum rancangan konstitusi negara itu, menurut lembaga berita internasional dan media online lainnya yang dipantau oleh Kantor Berita Mi’raj.

(T/R-010/R-006)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply