Belajar Dari Revolusi Mesir

Oleh: Ust. Zulfi Akmal, MA.*

     Banyak pelajaran besar yang saya dapatkan dari revolusi Mesir ini. Setiap hari ada saja pelajaran baru di dunia nyata yang dapat kita ambil hikmahnya, baik itu pelajaran kebaikan, atau pelajaran kejahatan untuk kita jauhi sejauh-jauhnya. Yang tidak akan mungkin kita temukan di bangku sekolah atau kuliah. Pelajarannya pun jauh lebih hebat dan agung dari pada sekadar menghafal-hafal teori di dalam kitab.

     Di antarnya adalah: Pelajaran Pertama, Allah Maha Berkehendak

     Betapapun manusia berusaha untuk menjatuhkan seseorang, menghina dan mencaci maki, kalau Allah justru ingin menaikkan orang itu, maka tidak ada kekuatan yang sanggup melawannya.

    Setiap hari dan setiap waktu Presiden Mursi dihina, dicaci maki dan difitnah, bahkan mau dibunuh, namun karena Allah menghendaki lain maka yang terjadi justru sebaliknya. Fitnahan itu malah berubah menjadi iklan memperkenalkan kepada khalayak ramai. Orang yang dulu benci justru menjadi simpati dan cinta. Padahal puluhan stasiun Televisi setiap saat siap dengan program-program penghancuran karakter beliau, yang kalau dijumlahkan bisa ratusan jam perminggu.

     Hal ini memberikan pelajaran secara nyata, bukan sekadar teori tentang aqidah yang sangat agung ini. Berjalanlah di atas kebenaran, berapapun susah dan pahitnya. Serahkan sepenuhnya kepada Allah, biar nanti Allah langsung yang memberikan pertolongan.

     Kitapun tidak perlu bersempit hati dan susah payah menaik-naikkan pamor dengan banyak iklan dan pencitraan. Cukup berbuat saja sesuai aturan Allah. Allah mustahil menyia-nyiakan hamba-Nya.

     Hal ini sesuai dengan hadits yang disampaikan Ibnu ‘Abbas berikut :

     Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. ia mengatakan, “Pada suatu hari aku pernah dibonceng dibelakang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau bersabda:

Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ’Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya suatu kaum berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk memberi suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata, ” Hadist ini hasan shahih”)

Pelajaran Kedua, Rakyat Mesir Bersatu

    Pelajaran besar selanjutnya yang dapat saya ambil dari revolusi Mesir adalah revolusi ini menjadikan rakyat Mesir bersatu.

     Cara paling jitu bagi penjajah melancarkan programnya adalah politik adu domba. Di negara kita dikenal dengan politik belah bambu, atau divide et impera, yang diberlakukan oleh Belanda untuk memecah belah rakyat, kemudian mereka bisa menguasainya dengan sesuka hati dan menguras kekayaannya.

     Di dunia pengembalaan kita kenal politik yang digunakan oleh serigala untuk memangsa gerombolan kambing atau biri-biri. Serigala akan mengacaukan barisan kambing dulu, setelah kambing-kambing bertebaran tanpa komando, barulah serigala mulai menerkam mereka satu persatu. Sehingga kita mengenal dalam pepatah Arab “farriq tashud”. Pecah belah dulu, kamu akan bisa panen.

     Di dalam al Qur’an, Allah menceritakan politik Fir’aun yang memecah belah rakyatnya, sehingga ia bisa berbuat sesuka hatinya. Allah berfirman dalam surat al Qashash ayat 3 :

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلا فِي الأرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

 “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

     Hal ini jugalah yang dilakukan oleh Fir’aun modern. Rakyat Mesir dibagi-bagi menjadi kelompok-kelompok. Ia mengadu domba antara sesama Islam dan Kristen. Masing-masing dibuat berbangga dengan kelompoknya dan mengaku yang paling benar. Ini Ikhwanul Muslimin, ini Salafi, ini Jama’ah Tabligh, ini Ansharus Sunnah, ini Azhari, ini Tarekat Sufi, ini Jam’iyyah Syar’iyyah, ini Jama’ah Islamiyyah, ini Muslim, ini Qibthi, ini Liberal, ini sosialis, ini Sekuler…ini…ini… dan ini-ini selanjutnya. Dengan cara itulah para Fir’aun bisa melanggengkan singgasananya, dan bisa menari kegirangan di atas perpecahan rakyatnya.

     Namun Allah mempunyai rencana sendiri dan cara yang tidak disangka manusia untuk menyatukan shaf, langkah, ide dan program mereka. Dengan meletusnya revolusi, perpecahan antar kelompok mulai dilemparkan ke dasar laut, dan dimasukkan ke tong sampah peradaban. Hari ini tidak kita dengar lagi pertengkaran sengit antar jama’ah, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Tidak ada lagi disebut kelompok ini dan kelompok itu. Yang ada hanya “ISLAM”, dan pendukung syari’ah berhadapan dengan anti Islam dan anti syari’ah.

     Hati sudah bersatu. Sebutan syekh Salafi, syekh Ikhwan, syekh Jamiyyah Syar’iyyah dan lainnya tidak didengar lagi. Bahkan masing-masing akan marah bila masih ada yang menyebut embel-embel itu. Dan saya saksikan sendiri hal itu. Yang ada hanyalah masyayikhul ummah atau Ulama Islam.

     Hanya dengan cara inilah umat yang besar ini bisa bangkit. Jauh dari khilafiyyah furu’iyyah yang merusak hati dan perasaan. Kita semua harus sibuk dengan perkara-perkara besar yang itu adalah keinginan dan tujuan kita semua. Kita harus bersatu sebagaimana bersatunya Muhajirin dan Anshar. Kita harus lupakan segala persengketaan sebagaimana yang terjadi antara kaum Aus dan Khazraj. Kita sama-sama tatap masa depan yang cerah dengan kesatuan hati dan langkah serta cita-cita.

     Mari kita tadabburi ayat ini :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

”     Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Pelajaran Ketiga,  Demontrasi Sebagai Universitas Terbuka Umat Islam

     Pelajaran ketiga dari revolusi Mesir yang saya dapatkan adalah tentang demonstrasi.

      Beberapa bulan yang lalu kita masih memperdebatkan tentang hukum boleh atau tidaknya melakukan demonstrasi, bahkan kita sampai bicara kepada wilayah halal-haram. Namun setelah semuanya menjadi jelas dan terang, kita tidak lagi memperdebatkan itu. Hari ini tidak ada lagi yang bertengkar tentang demo boleh atau tidak.

      Dan hal itu bukanlah suatu aib yang menjadikan kita malu. Karena merupakan hal biasa bila kita bertengkar, berdebat dan beda pendapat terhadap suatu permasalahan yang memang tidak jelas. Hukum dan kedudukannya masih samar bagi kita semua. Yang aib adalah bila sesuatu itu sudah jelas kedudukannya bagaikan matahari di siang bolong atau bagaikan purnama di malam hari tanpa awan, kita masih juga memperdebatkannya.

      Ini semua memberikan pelajaran yang sangat berharga juga bagi kita. Tapi kali ini kita akan sorot dari sisi lain, yaitu gaya demonstrasi di Mesir hari ini yang dilakukan barisan Islamiyyin (kaum Islam).

      Demo identik dengan sorak-sorai meneriakkan yel-yel yang diusung dan inspirasi yang akan disampaikan. Itu juga ada di Mesir. Tapi ada nilai tambah yang kita saksikan pada demo yang dilakukan oleh kalangan Islamiyyin ini. Demo bisa berubah menjadi universitas terbuka, yang memberikan pendidikan terhadap jasmani, rohani dan akal.

     Kita saksikan demonstrasi yang berkesinambungan untuk memberikan dukungan terhadap Presiden Mesir Muhammad Mursi semenjak beberapa hari ini, yang dipimpin oleh DR. Hazim Shalah Abu Ismail di “Madinatul Intaj al I’lam” atau Hollywoodnya Mesir di daerah 6 Oktober lain dari pada yang lain. Yang dulu sebenarnya ketika demo penurunan Mubarak hal ini juga dilakukan oleh para pendemo. Mereka di sana mengadakan pengajian dan pencerahan terhadap permasalahan umat.

      Sekaligus menjadi majelis ilmu, tempat menyebarkan pengetahuan. Mereka sangat perhatian dengan aturan syari’at. Berdemo dengan santun dan menjaga tata tertib serta kebersihan. Di malam hari mereka melakukan qiyamullail, tilawah, dzikir dan munajat. Di pagi hari mereka olah raga bersama, menyegarkan badan. Sangat kelihatan suasana ukhuwah dan persatuan. Saling memperhatikan kemaslahatan saudaranya yang lain.

     Makanan yang sedikit dinikmati bersama. Segala embel-embel latar belakang dilepaskan. Atribut yang ada hanyalah sebagai rakyat Mesir dan Muslim. Udara dingin yang sangat menusuk di puncak musim dingin ini seolah-olah tidak mereka rasakan. Yang ada hanya kehangatan persaudaraan dan kekompakan.

    Nilai tambahnya lagi, demo ini dihadiri puluhan ulama besar, sehingga antusias orang ke sana bukan hanya sekedar berdemo. Makanya, sekalipun demo sudah berjalan berhari-hari di bawah tekanan udara yang sangat dingin, tetap dihadiri oleh ribuan orang. Menurut teman Mesir saya yang ikut ke sana, ia sangat menikmati demo di itu. Ia dapat membayangkan bagaimana kira-kira susahnya, sekaligus nikmatnya bersama Rasulullah ketika perang Khandaq yang juga terjadi di musim dingin mencekam.

    Di pihak lain, kita melihat sisa-sisa antek-antek Mubarak dan barisan sekuler-liberal yang melakukan demo untuk menentang Presiden Muhammad Mursi di Maidan Tahrir dan di depan Istana Ittihadiyah (Istana Presiden), bertolak belakang 180 derajat dengan demo Islamiyyin. Kegiatan mereka penuh dengan maksiat dan glamor duniawi. Penuh dengan musik, penuh dengan minuman memabukkan, rokok syisya, narkoba, bahkan ditemukan kondom bekas. Naudzubillah.

     Dari kondisi ini, kita sangat optimis pertolongan Allah dan kemenangan segera dikaruniakan kepada umat ini. Selama Islamiyyin melakukan ketaatan kepada Allah dan musuh melakukan maksiat, kita pasti menang.

     Kita teringat dengan perkataan Khalifah Umar bin Khattab ketika akan mengirim pasukannya melakukan penaklukan  :

 “    Sesungguhnya kalian tidak akan mendapatkan kemenangan terhadap musuh-musuh kalian dikarenakan banyaknya jumlah kalian dan lengkapnya persenjataan. Kalian hanya akan mendapatkan pertolongan dari Allah dengan ketaatan kalian terhadap Tuhan kalian dan maksiat yang dilakukan oleh musuh-musuh kalian. Apabila kelakuan kalian sama dengan kelakuan musuh-musuh kalian dalam maksiat, mereka pasti akan menang melawan kalian. Karena kalian sama dalam maksiat dengan mereka, sementara mereka unggul dari segi kekuatan, jumlah tentara dan perbekalan serta persenjataan”.

Pelajaran keempat, Revolusi Mesir Sebagai Pertarungan Hak dan Batil

    Revolusi kali ini mengajarkan kepada kita,  bila pembela kebenaran bersatu padu menyatukan suara, mengatakan “tidak” kepada kemungkaran, maka pembela kebatilan akan ketakutan, sekalipun dihadapi tanpa senjata.

     Hal ini terbukti berulang kali, di antaranya ketika terjadi penyerangan ke istana Ittihadiyah oleh para penentang, DR. Hazim Shalah Abu Ismail dan DR. Said Abdul Azim dengan pengikutnya mengancam dengan suara bulat : “Bila istana sampai dimasuki, atau presiden mengalami hal yang tidak diinginkan, kami akan kobarkan revolusi Islam murni”.

      Demo pendukung yang berada di sekitar Mesjid Rab’ah al ‘Adawiyah dan Mesjid ar Rahman ar Rahim pun tidak kalah lantangnya menyuarakan itu. Hal ini membuat nyali penentang yang mayoritas pasukan gereja dan bekas antek-antek Mubarak menjadi ciut, dan mundur satu persatu.

      Begitu jugalah sebenarnya yang terjadi semenjak bermula revolusi. Ketika orang-orang yang tidak rela meraja-lelanya kezaliman bersedia angkat suara, menunjukkan penentangannya, ketika itulah nyali para zalim menjadi ciut. Karena sebenarnya mereka adalah orang-orang pengecut, yang mencari kehidupan dunia yang sementara ini dengan menghalalkan segala cara.     

      Mereka berjuang memang untuk hidup. Sementara para pembela yang hak, bagi mereka selalu ada kemenangan. Bila tidak terwujud di dunia, dengan penentangannya terhadap kebatilan itu, Allah akan memberinya pahala yang besar di akhirat nanti. Tujuan utama mereka menentang kebatilan bukan untuk kehidupan duniawi ini, tapi untuk akhirat sana. Orang mencari hidup dengan perjuangannya, kalau mereka justru siap menemui kematian. Amatlah jauh perbedaan orang yang berjuang untuk hidup dengan orang yang berjuang untuk mati.

      Untuk itu kita perlu sadari, kesalahan terbesar umat selama ini adalah membiarkan kezaliman berjalan dengan tenang, tanpa ada perlawanan dari ahlul hak. Boleh jadi karena masing-masing kita ingin menyelamatkan diri. Tidak peduli orang disakiti dan dizalimi, yang penting bukan kita yang kena. Prinsip seperti inilah yang membuat orang-orang zalim semakin merasa aman, bisa melancarkan aksinya sesuka hati. Sebagai contoh, ketika terjadi perampokan di atas bus kota, semua orang diam saja karena takut nanti perampoknya justru menyerang dia. Padahal rampok itu sendiri merasa gentar juga, dengan bukti dia pasti melakukan aksinya dengan kasak-kusuk dan terburu-buru. Cuma karena ia melihat semua orang diam, ia menjadi tenang dan senang. Coba kalau semua orang berteriak dan bertindak, sehebat apapun ia, pasti menjadi takut.

     Begitu jugalah semua kejahatan yang terjadi di sekitar kita. Mereka bisa berjalan mulus karena semua kita seolah-olah mengaminkan. Fir’aun tidak akan mengaku sebagai Tuhan kalau bukan karena rakyat Mesir yang mau mengakuinya. Orang zalim tidak akan berlanjut berbuat zalim kalau pembela kebenaran diam tanpa aksi.

      Yang lebih parahnya bila para ulama, da’i dan orang-orang yang tahu, membiarkan kezaliman itu tanpa penentangan, dan membiarkan sebagian orang yang berani angkat suara disiksa, dipenjarakan dan dibunuhi oleh para zalim. Seolah-olah mereka yang menentang adalah orang yang mempunyai sifat keras-keras tidak menentu. “Tuh lihat, Syekh Anu, Syekh itu diam saja. Kenapa kamu saja yang sok menentang, sok benar”.

     Itulah yang terjadi selama ini. Andaikan yang dikhawatirkan selama ini, jika semua ulama menentang pemimpin yang zalim, nanti mereka semuanya dihabisi, dengan siapa umat ini akan berjalan? Siapa yang membimbing umat kalau semua ulama dipenjarakan, bahkan dibunuh ?

     Ternyata perasaan seperti itu hanya bisikan syetan yang tidak terbukti. Justru Allah akan semakin memperbanyak ulama kalau mereka semua berani menentang kebatilan. Di zaman sahabat, tabi’in dan seterusnya, semua ulama berani menegakkan kebenaran sekalipun harus berhadapan dengan pemimpin zalim. Ternyata mereka tidak habis dan musnah, bahkan semakin banyak dan semakin berilmu.

     Ibnu Taimiyyah masuk keluar penjara, Imam Hambali disiksa dengan ribuan kali cambuk, tapi justru namanya semakin harum, dan ulama tidak habis dipermukaan bumi. Begitu juga dengan ulama-ulama lain yang berani berdiri di depan penguasa zalim untuk menghalangi kejahatannya. Tubuh mereka mungkin hancur dimakan tanah, tapi jiwa, semangat dan ilmunya akan tumbuh subur karena disirami dengan darah dan nyawanya.

     Imam Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Abdul Qadir ‘Audah, Yusuf Hawwash, Muhammad Farghali dan yang lainnya memang sudah lama disimpan di dalam tanah, karena nyawa mereka melayang ditangan para algojo para penguasa durjana, tapi nama dan jiwa perjuangannya semakin hidup di dada para pembela kebenaran.

      Selama revolusi Mesir pun hanya satu orang ulama yang jadi korban, yaitu Syekh Imad Iffad. Itupun yang membunuhnya bukan resmi dari pihak penguasa, tapi orang yang tidak dikenal. Selebihnya tetap aman dan tenteram sampai saat ini.

      Oleh karena itu, bila kita ingin aman dari kejahatan orang zalim, semua orang harus kompak mengatakan “tidak” kepada kezaliman. Mulai dari kezaliman yang paling kecil, sampai yang paling besar. Kita hilangkan sifat egois dan mencari selamat, yang penting saya aman. Mari kita harus satukan kekuatan dan suara : “Tidak untuk kezaliman”.

     Rasulullah bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا رأيت أمتي تهاب أن تقول للظالم يا ظالم، فقد تودع منهم. (رواه الحاكم في المستدرك)

 

    Rasulullah bersabda: “Bila engkau lihat umatku segan/takut mengatakan kepada orang zalim : “Wahai zalim”, berarti kamu sudah kehilangan mereka”.

Artinya, adanya mereka atau tidak adanya sama saja.

Pelajaran Kelima, Revolusi Mesir Sarana Menyeleksi Kepribadian Para Aktifis

     Revolusi ini dijadikan Allah sebagai sarana untuk men-“tamhish rijal” (menyeleksi kepribadian para aktifis).

     Dalam situasi damai bisa saja setiap orang mengaku bahwa dialah orang yang paling menegakkan agama Allah, dialah orang yang paling ikhlas beramal. Dialah yang paling benar memilih metode dalam berbuat.

    Pengakuan itu boleh-boleh saja, karena tidak akan mungkin seseorang berbuat kalau ia tidak merasa benar. Bahkan penjahat yang paling durjana pun merasa ia dalam kebenaran. Pelacur yang menjajakan kehormatan dirinya pun merasa berbuat benar, yaitu lagi mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup.

     Allah berfirman dalam surat al ‘Ankabut ayat 2:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

Artinya : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

     Dengan adanya revolusi ini, masing-masing orang kelihatan aslinya. Apakah ia betul-betul ikhlas karena Allah dalam perjuangannya, atau hanya mengejar ambisi pribadi dengan meneriakkan kebenaran. Ternyata banyak yang berguguran dengan meninggalkan bekas yang sangat jelas. Ketahuanlah bahwa si Fulan ini teriak lantang selama ini hanya ingin mencari ketenaran, ingin dianggap pahlawan, ingin mencari kedudukan, ingin memperbanyak kekayaan dll. Dan yang betul-betul ikhlas pun akan muncul ke permukaan.

     Sebaliknya pun terjadi. Ada yang selama ini salah ijtihad dalam memilih pemahaman, tapi karena niatnya betul-betul ikhlas karena Allah, akhirnya setelah jelas mana yang hak dan batil, tanpa ragu dan malu mereka pun kembali kepada jalan yang benar. Dengan kesatria menyatakan bahwa pilihan saya selama ini memang salah. Inilah dia “rijal/tokoh/orang besar sebenarnya” yang berjalan di atas kebenaran, bukan di atas ego, hawa nafsu dan ambisi pribadi.

كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ

 “…..Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi….”

     Satu contoh saja, Hazim Shalah Abu Ismail gagal mencalonkan diri jadi presiden. Tapi ketika melihat keadaan negara terancam, ia pun tampil mengomandokan rakyat untuk memberikan pembelaan. Padahal ia tidak diberi jabatan dan fasilitas apa-apa selama pemerintahan Muhammad Mursi. Saat itu, kelihatanlah siapa ia sebenarnya. Orang yang betul-betul ikhlas menegakkan kebenaran. Tidak penting jabatan, pangkat dan titel. Di mana dibutuhkan ia akan tampil secara spontan tanpa digaji dan diberi penghargaan bintang tanda jasa. Bahkan siap menanggung ancaman, fitnahan, hinaan dan cacian, bahkan pembunuhan.

     Beda halnya dengan sebagian orang yang dianggap tokoh selama ini. Ketika kebenaran berbenturan dengan kepentingan dirinya, watak asli dan rahasia yang tersimpan di dalam hatinya pun muncul kepermukaan. Di sanalah baru ketahuan, ternyata Doktor ini hanya meperjuangkan kedudukannya, Doktor itu ingin ketenaran, Doktor Anu ingin jadi presiden, dan kedok-kedok lainnya terbuka jelas.

     Terakhir, suatu hari Abu Jahal ditanya oleh rekan-rekannya sesama kafir Quraisy Makkah : “Apakah Muhammad itu betul-betul seorang pendusta sebagaimana yang kamu tuduhkan? Abu Jahal menjawab dengan tegas dan agak emosi : “Celaka kalian, tidak pernah Muhammad itu berdusta sedikit pun”. Dengan heran rekan-rekannya bertanya: “Jadi gimana tuduhan-tuduhanmu selama ini terhadap dia?”

    Di sinilah Abu Jahal tidak bisa lagi menutupi isi hatinya, ia berkata : “Semenjak dulu kita bersaing untuk berebut pengaruh dengan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah). Mereka memberi makan orang, kita juga memberi makan, mereka menebarkan kebaikan, kita juga menebar kebaikan, mereka berbuat ini dan itu, kita juga lakukan hal yang sama. Tapi pada hari ini, mereka berkata : “Kami diberi Allah wahyu dari langit”, bagaimana cara kita menyaingi mereka dalam hal ini”?

    Setelah diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa salam jadi Rasul barulah ketahuan apa niat Abu Jahal selama ini menebarkan kebaikan di Makkah. Ingin berebut pengaruh, bukan karena Allah atau bukan betul-betul untuk kebaikan rupanya. Dan ternyata Abu Jahal ingin sekali menjadi Rasul seperti Nabi Muhammad. Ambisi yang mustahil akan terwujud.

      Dan orang-orang seperti Abu Jahal ini amatlah banyak bertebaran di masyarakat sampai hari kiamat. Kelas dan tingkatnya saja yang berbeda-beda. Semoga kita selamat dari penyakit berbahaya itu. Serta kita selamat dari ujian yang akan membuka aib-aib diri kita. (T/R-022/R-006)

Mi’raj News Agency (MINA)

Sumber : Studi Informasi Alam Islami (SINAI) adalah sebuah lembaga kajian yang didirikan oleh mahasiswa Indonesia di Mesir. Web Resmi  SINAI bisa dikunjungi di http://sinaimesir.blogspot.com.

*Master Jurusan Tafsir & Ilmu-ilmu Al Qur’an, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al Azhar-Kairo

Rate this article!

Leave a Reply