DAKWAH “BIL QALAM”, SERUAN MELALUI MEDIA MASSA

Oleh Ali Farkhan Tsani*

Mukadimah

     Firman Allah :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Artinya : “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” (Al-Quran Surat Al-‘Alaq ayat 1).

     Dalam kata pertama, yaitu “Iqra’” (artinya bacalah), dalam bentuk “fi’il amr” (perintah), Allah memerintahkan Nabi untuk membaca.
     Ketika menerima ayat pertama ini, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukanlah seorang yang pandai membaca. Beliau bahkan seorang ‘ummiy’, yang boleh diartikan buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pula pandai membaca yang tertulis.
     

     Tetapi Malaikat Jibril mendesaknya terus sampai tiga kali supaya Nabi membaca. Ayat-ayat itu kan dibawa langsung oleh Malaikat Jibril kepada Nabi, dan diajarkan, sehingga dia dapat menghapalnya di luar kepala, dengan sebab itu akan dapatlah dia membacanya.
     Allah yang menciptakan semuanya. Rasul yang tak pandai menulis dan membaca itu akan pandai kelak membaca ayat-ayat yang diturunkan kepadanya. Sehingga bilamana wahyu-wahyu itu telah turun kelak, dia akan diberi nama Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an itu pun artinya ialah bacaan.
     Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan, “Allah yang Maha Kuasa menjadikan manusia dari air, menjelma jadi segumpal darah, kemudian menjadi manusia penuh. Karena kuasa-Nya pula menimbulkan kesanggupan membaca pada seseorang yang selama ini dikenal ‘ummiy’, tak pandai membaca dan tak bisa menulis. Maka jika kita selidiki isi hadits yang menerangkan bahwa tiga kali Nabi disuruh membaca, tiga kali pula beliau menjawab secara jujur bahwa beliau tidak pandai membaca. Tiga kali pula Malaikat Jibril memeluknya keras-keras, untuk meyakinkan baginya bahwa sejak saat itu kesanggupan membaca itu sudah ada padanya. Banyak lagi yang akan dibacanya di belakang hari. Yang penting harus diketahuinya ialah bahwa dasar segala yang akan dibacanya itu kelak tidak lain ialah dengan nama Allah jua.”

Pentingnya Membaca

     Firman Allah :

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

Artinya : “Bacalah! Dan Tuhan engkau itu adalah Maha Mulia.”

     Setelah pada ayat yang pertama Nabi disuruh membaca atas nama Allah yang menciptakan insan dari segumpal darah, diteruskan lagi menyuruhnya membaca di atas nama Tuhan. Sedang nama Tuhan yang selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah Allah Yang Maha Mulia, Maha Dermawan, Maha Kasih dan Sayang kepada Makhluk-Nya.

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

Artinya : “Dia yang mengajarkan dengan al-qalam.”

     Itulah keistimewaan Allah. Itulah kemuliaan-Nya yang tertinggi. Yaitu diajarkan-Nya kepada manusia berbagai ilmu, dibuka-Nya berbagai rahasia, diserahkan-Nya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan Allah, yaitu dengan ‘qalam’ (dengan pena!).
     Di samping lidah untuk membaca, Tuhan pun menakdirkan pula bahwa dengan pena ilmu pengetahuan dapat dicatat. Pena adalah beku dan kaku, tidak hidup, namun yang dituliskan oleh pena itu adalah berbagai hal yang dapat difahamkan oleh manusia “Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu.”
     Lebih dahulu Allah Ta’ala mengajar manusia mempergunakan ‘qalam’. Sesudah dia pandai mempergunakan qalam itu banyaklah ilmu pengetahuan diberikan oleh Allah kepadanya, sehingga dapat pula dicatatnya ilmu yang baru didapatnya itu dengan qalam yang telah ada dalam tangannya.
     “Ilmu pengetahuan adalah laksana binatang buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh sebab itu ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh.”
Saripati manusia berasal dari saringan halus makanan manusia yang diambil dari bumi. Yaitu dari hormon, kalori, vitamin dan berbagai zat yang lain, yang semuanya itu diambil dari bumi. Sumber itu berasal dari sayuran, buah-buahan makanan pokok dan daging.
     Selanjutnya manusia bertambah besar dan dewasa. Alat yang terpenting untuk menghubungkan dirinya dengan manusia sekitarnya ialah kesanggupan berkata-kata dengan lidah, sebagai sambungan dari apa yang terasa di dalam hatinya. Kemudian bertambah juga kecerdasannya, maka diberikan pulalah kepandaian menulis. Di dalam ayat ini telah jelas penilaian yang tertinggi kepada kepandaian membaca dan menulis.
     Berkata Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya, “Tidak didapat kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini di dalam menyatakan kepentingan membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bagiannya. Dengan itu pula dibuka segala wahyu yang akan turun selanjutnya.”
Syaikh Qatadah berkata, “alat tulis merupakan nikmat yang besar dari Allah ‘azza wa jalla. Kalau bukan karena alat tulis, tidak akan tegak agama dan tidak akan bagus dunia ini.
     Imam Asy-Syaukani menjelaskan, “Allah juga telah mengingatkan akan keutamaan ilmu tulisan karena mengandung manfaat yang besar, yang tidak bisa mengetahui seluruh manfaatnya kecuali Dia sendiri. Tidaklah ilmu-ilmu dibukukan, hukum-hukum dikumpulkan, sejarah dan perkataan orang-orang masa dahulu diteliti, dan kitab-kitab Allah yang diturunkan melainkan semuanya dengan tulisan. Kalau bukan karena adanya tulisan, maka tidak akan tegak perkara agama, begitu pula urusan dunia”.
     Maka kalau kaum Muslimin tidak mendapat petunjuk ayat ini dan tidak mereka perhatikan jalan-jalan untuk memperoleh kemajuan, merobek segala selubung pembungkus yang menutup penglihatan mereka selama ini terhadap ilmu pengetahuan, atau merobohkan pintu yang selama ini terkunci. Sehingga mereka terkurung dalam bilik gelap, terkunci erat-erat, sampai mereka meraba-raba dalam kegelapan bodoh. Kalau ayat pembukaan wahyu ini tidak menggetarkan hati manusia, maka tidaklah manusia akan bangun lagi selama-lamanya.

Peran “Qalam” (Pena)

Firman Allah :

ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

Artinya : “Nuun, demi al-qalam (pena) dan apa yang mereka tulis”. (Al-Quran Surat Al-Qalam ayat 1).

     Allah telah bersumpah dengan “al-qalam” (pena), karena kemuliaan yang dimilikinya dan kemuliaan dari tujuan diciptakannya.
Allah juga menyebut kata “qalam” (pena) pada beberapa tempat pada kitab-Nya yang mulia, seperti pada firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat (ilmu) Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al-Quran Surat Luqman ayat 27).

     Pengagungan terhadap kedudukan “pena” juga disebutkan :

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya : “(Allah) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran pena (baca tulis). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Quran Surat Al-’Alaq ayat 4-5).

     Maka itu, karena begitu pentingnya ilmu dan sarana-sarana untuk memperolehnya, Allah menjelaskan hal itu kepada kita pada surat Al-‘Alaq. Karena masyarakat Jahiliyah dahulu adalah umat yang ‘ummiy’, tidak bisa baca tulis kecuali sedikit, dan ini merupakan penyakit terparah dalam sejarah perjalanan waktu.
     Kemudian, tatkala bahan bacaan mudah terlupakan dan hilang, maka agama Islam mewajibkan agar bacaan itu dicatat dengan sarana tulisan, melalui ‘qalam’ (pena), meskipun bentuk dan sarananya berubah-ubah dan berbeda-beda.
     Karena itu, pena adalah amanah yang ada pada pundak orang yang membawanya. Tidak sepatutnya ia menggoreskan pena itu melainkan untuk menulis risalah yang diturunkan kepada para Nabi dan pewaris mereka, yaitu ulama. Maka, salah dalam menggunakan pena seperti salah dalam memainkan senjata, keduanya sama-sama mengakibatkan rusaknya akal dan jiwa.
     Seorang pujangga bersyair :

إِذَا اهْتَزَّ فِي طِرْسِهِ مُعْجَباً أَذَلَّ شُعُوْباً وَأَعْلَى شُعُوْباً

Artinya : “Andai ia menulis pada lembaran kertasnya dengan sombong. Maka ia dapat menghinakan suatu bangsa dan meninggikan yang lainnya”.

     Oleh karenanya, wajib hukumnya bagi para penulis, jurnalis, sastrawan, guru, sekretaris, dan sejenisnya untuk bertakwa kepada Allah dengan goresan pena-pena mereka. Sebab ucapan adalah amanah yang dikalungkan pada ujung pena mereka, dan perkataan merupakan amanah yang melingkar di leher-leher mereka.
Allah akan menanyakan pertanggungjawaban mereka atas amanah tersebut, sebuah amanah yang enggan dipikul oleh langit-langit, bumi dan gunung-gunung, bahkan semuanya bergetar selama beberapa hari lantaran begitu beratnya amanah itu.
     Tidak boleh bagi pemilik pena yang beriman kepada Allah, memeluk Islam sebagai agama, dan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Nabi dan Rasul untuk melampaui batas dalam menggunakan pena. Sehingga bisa berakibat menyimpang dari kebenaran, memihak kepada kebatilan dan kesesatan, menuduh orang lain, tidak jujur, tidal adil, mengejek orang lain, mengolok-olok mereka, berlaku masa bodoh dan zalim, memuji diri sendiri atau memuji orang lain, namun sayangnya ia tidak memuji Rabb-nya.
     Maka, pena diciptakan untuk mensucikan dan mengagungkan Allah, mengajak manusia kembali kepada-Nya, mengenalkan Allah kepada mereka sebagai sesembahan satu-satunya yang haq, bukan untuk mendekatkan diri kepada penghuni dunia, atau melariskan dagangannya, atau menuliskan pujian dusta, dan tidak pula untuk mengajak ke perkara yang merusak dan hal-hal buruk lainnya.
     Alangkah banyaknya pena yang harus dipatahkan, betapa banyak para penulis yang harus diberhentikan. Sebab mereka tidak cakap dalam menggunakan pena, mereka malah membuka lembaran-lembaran kebatilan, demi mendapatkan kesenangan jiwa dan kepuasan.

Dakwah bil “Qalam”
     Pengertian dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.
Untuk melaksanakan dakwah, memerlukan apa yang disebut dengan Ilmu Dakwah. Ilmu Dakwah adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu.
     Adapun Tujuan Dakwah yag paling pokok adalah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Dimulai dari isterinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi adalah kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).
     Dakwah pada awalnya secara lisan. Jenis ini adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah, ta’lim, khutbah, atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek dakwah). Dakwah jenis ini akan menjadi efektif bila: disampaikan berkaitan dengan hari ibadah seperti khutbah Jumat atau khutbah hari Raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.
     Ada jenis lain, yaitu Dakwah bil Haal, adalah dakwah yang lebih mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah mengikuti jejak da’i. Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah. Pada saat pertama kali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tiba di kota Madinah, beliau mencontohkan dakwah bil haal ini dengan mendirikan Masjid Quba, dan mempersatukan kaum Anshar (penduduk pribumi Madinah) dan kaum Muhajirin (pendatang dari Mekkah) dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.
     Adapun saat sekarang, memasuki zaman global era informasi seperti saat sekarang ini, pola dakwah melalui tulisan baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Keuntungan dari dakwah bil qolam ini tidak menjadi musnah meskipun sang da’i, atau penulisnya sudah wafat.

     Karena itu, dakwah bil qalam, mengajak, menyeru, untuk kebaikan dan kemaslahatan, pada era globalisasi komunikasi saat ini, melalui media massa cetak, elektronik, dan online, menjadi suatu keniscayaan, keharusan, bahkan kewajiban! Saatnya umat Islam bangun dan bangkit menggunakan media massa sebagai sarana dakwah fil ardh. Sehingga keadilan, kesejahteraan, keseimbanga, kejujuran dan kebaikan semakin meluas mewarnai alam jagat raya ini, dengan nilai-nilai Islam yang memang membawa rahmat bagi semuanya, “rahmatan lil ‘alamin”. (R-005).

*Penulis, Redaktur Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply