DERITA MUSLIM ROHINGYA: TIDAK ADA HUKUM DAN PERATURAN DI MAUNGDAW

     Jakarta, 19 Muharram 1434/03 Desember 2012 (KPN/MINA) – Petugas Polisi dari Kantor Polisi Maungdaw memasuki sebuah kompleks umum tanpa memegang surat perintah penggeledahan, Ahad pagi (02/12) waktu Myanmar.

    “U Tin Hla, seorang petugas polisi memasuki kompleks milik Rafiq -pemilik warung teh- tanpa surat perintah penggeledahan. Mereka menangkap Rafiq dan putranya,” kata seorang kerabat korban, dikutip salah satu media Myanmar Kaladan Press Network yang diterima Mi’raj News Agency, Senin pagi (03/12).

    Seorang tokoh Muslim Rohingya dari Maungdaw mengatakan, Petugas Polisi itu mengajukan kasus yang dikeluhkan oleh dua wanita Buddha warga Rakhine -pembersih kota- dengan mengklaim ada yang melemparkan kerikil kearah mereka dari warung teh milik Rafiq. Namun tidak ada seorang pun yang terkena kerikil itu.

    “Warung teh terletak dekat persimpangan menara jam dan hanya warung teh Muslim Rohingya yang ada di persimpangan itu. Petugas polisi adalah penduduk asli Rathedaung,” kata tetua Muslim Rohingya menjelaskan.

    Rafiq dan putranya dapat dibebaskan setelah membayar uang 300.000 kyat (sekitar Rp3.380.074,89), Ahad Malam (02/12) waktu Myanmar.

“Kami tidak terlibat melemparkan kerikil dan tidak pula memukul mereka. Para wanita Rakhine itu membuat tuduhan palsu untuk mengganggu kami,” kata Rafiq.

     Di saat yang sama, mobil yang dikendarai seorang Hakim Kota, Khin Zaw, dengan seorang putranya Than zaw menabrak sebuah sepeda yang dimiliki seorang Muslim Rohingya berada dekat menara jam pada pukul empat sore waktu Myanmar, Ahad (02/12).

     “Saya telah memarkir sepeda di samping jalan dan hakim itu juga memarkirkan mobilnya. Setelah beberapa saat mobil menghantam sepeda saya tanpa alasan yang jelas.

      Polisi yang bertugas di persimpangan, meninggalkan tempat setelah insiden itu terjadi, dimana hukum dan peraturan untuk Muslim Rohingya di Maungdaw tidak ada. Seorang hakim bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tidak ada yang bisa melakukan tindakan untuk kejahatan itu, ” kata seorang Muslim Rohingya pemilik sepeda.

Pasukan Nasaka Lanjutkan Pemerasan Uang

     Sementara itu, pasukan keamanan perbatasan Myanmar, Nasaka kembali melanjutkan pemerasan uang dari desa-desa Muslim Rohingya di Maungdaw sejak pekan terakhir bulan  November.

     Maungdaw adalah sebuah kota di negara bagian Rakhine, bagian barat Myanmar. Maungdaw adalah kota paling barat dari Myanmar yang berbatasan langsung dengan Bangladesh dipisahkan oleh sungai Naf. Maungdaw adalah salah satu kota paling padat penduduknya di mana Muslim Rohingya tinggal.

     Seorang pedagang dari wilayah itu -menolak disebutkan namanya- mengatakan, pemerasan uang oleh Pasukan Nasaka setelah memeriksa daftar keluarga dari Rohingya hampir berhenti saat kekerasan pecah antara Rohingya dan Komunitas Buddha Rakhine bulan Juni 2012.

      “Sejak pekan terakhir bulan November 2012, Pasukan Nasaka dari kamp Nasaka Nomor 14, daerah Nasaka No.6, Maungdaw utara menyerbu desa-desa pada tengah malam dan memeriksa setiap daftar keluarga penduduk desa,” kata seorang pedagang itu.

      “Banyak penduduk desa bersembunyi ketika Pasukan Nasaka memasuki desa-desa karena takut terjadi penangkapan dan penyiksaan. Jadi, Pasukan Nasaka meminta seluruh anggota keluarga untuk membayar uang bagi anggota yang tidak hadir dari daftar atau dari rumah itu. “

       Para anggota Pasukan Nasaka memeras, Jika warga desa miskin, para warga harus memberikan uang 20.000 sampai 50.000 Kyat  (sekitar Rp 225.338,33sampai Rp563.345,81)  per warga. Jika warga desa kaya, para warga desa harus mengumpulkan 100.000 sampai 400.000 Kyat (Rp1.126.691,63 sampai Rp4.506.766,52) per warga.

       Situasi di Arakan sangat buruk bagi masyarakat Muslim Rohingya, penduduk desa tidak punya pekerjaan dan  bisnis apapun.

Saat ini, penduduk Muslim Rohingya tidak mampu membayar uang. Namun, pada akhirnya, penduduk desa membayar uang setelah menjual harta, binatang ternak dan bahkan menjual tanah mereka karena takut terjadi penyiksaan oleh Pasukan Nasaka.

       “Mereka tidak memiliki cara alternatif untuk memilih,” kata pedagang  lokal –yang lebih memilih untuk tidak disebutkan namanya-.

        Jika Pasukan Nasaka tidak mendapatkan uang, warga desa akan ditahan di kamp mereka lalu disiksa. Tidak ada seorang pun yang bisa  datang menyelamatkan Muslim Rohingya. Pasukan Nasaka ini setiap hari mengamati desa dengan membuat blok di kota Maungdaw.

        Ada delapan daerah Nasaka di kota Maungdaw dan satu daerah Nasaka dikendalikan oleh satu Mayor bersama dengan pasukannya, kata seorang mantan ajudan Nasaka –dirahasiakan namanya-.

        Tidak ada satu rumah pun yang tersisa tanpa uangnya diambil  oleh Pasukan Nasaka di perkotaan Maungdaw dan Buthidaung.

       “Berapa hari lagi kita bisa bertahan hidup di Negara Arakan dengan cara seperti ini ?” kata seorang tetua desa Muslim Rohingya dari Maungdaw.

            Saat ini ada 1.5 juta orang Muslim Rohingya yang terusir dan tinggal terlunta-lunta di luar Arakan/ Myanmar. Kebanyakan mereka mengungsi di Bangladesh, Pakistan, Saudi Arabia, UAE, Malaysia, Thailand, Indonesia dan lain-lain. (T/R-022/R-006)

Leave a Reply