INDONESIA PERLU PEMIMPIN SEPERTI UMAR BIN ABDUL AZIZ

   Jakarta, 29 Muharram 1434/12 Desember 2012 (MINA) – Rahmat Hidayat, seorang peserta dari Bappenas, menyampaikan pada Sarasehan Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) di Jakarta, Rabu (12/12), bahwa Indonesia memerlukan pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz.
    “Indonesia saat ini memerlukan pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz yang mampu mengurangi gaya hidup mewah di kerajaan guna menaikkan ekonomi negara,” ujarnya.
Rahmat menyebutkan, dengan model kepemimpinannya, Umar bin Abdul Aziz hanya perlu waktu tiga tahun untuk menjadikan warganya mencapai tingkat kemakmuran yang tinggi.     

    Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dalam kesempatan sama mengemukakan, ekonomi Indonesia akan berjalan baik jika penanganannya benar.
    Kalla memberikan contoh pemerintah harus berani dan bijak menyelesaikan masalah subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan tetap mempertimbangkan laju inflasi.
Menurut Kalla, tidak mungkin pemerintah mengurangi subsidi BBM tanpa menghindari inflasi. Kalla menilai, penaikan harga BBM subsidi merupakan salah satu cara menekan daya beli dan konsumsi masyarakat untuk BBM. Namun cara tersebut memang berimbas pada inflasi.
  Terkait masalah terselubung ekonomi Indonesia, Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Ginandjar Kartasasmita menambahkan, data menunjukkan pengangguran dan kemiskinan memang berkurang. Tapi pemerintah dalam hal ini tidak boleh mengabarkan yang baik saja karena akan terlalaikan dengan prestasi baik tersebut.
    “Kita harus bisa melihat masalah dalam proses yang lebih dalam. Misalnya mengapa kesenjangan kok masih meningkat di tengah-tengah peningkatan pendapatan,” kata Ginandjar.
    Saat ini, capaian prestasi kinerja perekonomian Indonesia masih dibangun di atas fondasi yang rapuh. Hal itu terlihat dari pertumbuhan tinggi hanya dinikmati sektor nontradable yang relatif padat modal tetapi nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja rendah.
    “Hasil kajian INDEF menunjukkan capaian prestasi kinerja perekonomian tersebut dibangun di atas pijakan fondasi yang rapuh,” ungkap Didik J. Rachbini, pakar ekonomi dari INDEF.
    Dalam catatan Didik, sektor pengangkutan dan komunikasi merupakan sektor dengan laju pertumbuhan tertinggi, rata-rata sampai kuartal III 2012 tumbuh 10,29% disusul sektor perdagangan, hotel, dan restoran 8,04%. Sementara sektor padat karya, sektor pertambangan dan penggalian hanya tumbuh 1,94%, pertanian 4,27%, dan industri pengolahan 5,81%.
   “Padahal sektor tradable menyerap lebih dari separuh tenaga kerja nasional dari 110,8 juta pekerja,” ujarnya.
Selain itu Didik mengungkapkan tingkat pengangguran terbuka yang diklaim turun menjadi 6,14% tetapi pekerja informal masih dominan sekitar 62,7% dari angkatan kerja. Belum pengangguran terselubung yang dianggap masih belum tersentuh pemerintah.
   “Pengangguran terbuka turun, tapi pengangguran terselubung yang jam kerja rendah, pendapatan rendah tapi terpaksa bekerja harus diatasi juga,” ujarnya.(L.R-007/R005/R006).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply