ISLAM DITERIMA DENGAN BAIK DI KOREA SELATAN

Korean Mufti       Jakarta, 12 Shafar 1434/25 Desember 2012 (MINA) – Islam sebagai minoritas di Korea Selatan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.  “Kami mendirikan 70 masjid  dan mushola-mushola di Korea, dimana tidak mengalami masalah sedikitpun dengan masyarakat setempat karena kami menekankan keramahan di sana,”  kata  Mufti Korsel Dr. Abdul Wahab Zahid Haq  di sela-sela Konferensi Internasional tentang Fatwa di Jakarta, Selasa (25/12).

       Kehadiran masjid di negeri itu tak dipermasalahkan karena banyak memberi manfaat bagi warga setempat, utamanya para mualaf dan warga lainnya yang ingin lebih banyak tahu tentang Islam, lanjut mufti Korsel yang berasal dari Suriah tersebut.

     Islam di Korsel merupakan agama baru yang masuk sekitar 1954-1955, diawali masuknya tiga orang tentara Turki ke negeri ginseng tersebut. Hari ini Muslim Korsel berjumlah sekitar 30 – 40 ribu jiwa. Jika ditambah dengan warga Muslim dari berbagai negara lainnya maka Muslim di Korsel mencapai 150 ribu orang.

      Abdul Wahab mengaku mengenal Indonesia dengan pemeluk Islamnya yang terbesar dari berbagai literatur ketika masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. “Semoga saja Islam di Indonesia makin besar,” ia berharap.

       Terkait dengan tugasnya sebagai mufti di Korsel, ia mengatakan, sebagai tamu di negeri itu semua tugas dilakukan dengan keramahan. Pendekatan bernuansa kekerasan tentu saja sangat dijauhkan, terlebih kadang suasana di luar Korsel berkembang isu “miring” tentang Islam.

      Secara pribadi, Abdul Wahab tak merasa sedih melaksanakan seluruh tugas dakwah di negeri yang sekarang sedang naik daun itu. “Saya tidak sedih ketika dihina tetapi saya sedih ketika Islam tidak diterima,” kata Abdul Wahab.

      Karena itu, ia secara terus menerus berusaha menjelaskan tentang ketauhidan, tentang keesaan Allah dan kedudukan Rasul Allah secara jelas dan berulang-ulang kepada masyarakat Korsel.

      Abdul Wahab sendiri datang ke Korsel pada 1982. Kini posisinya semakin dikenal warga Korsel. Banyak warga setempat bertanya tanya tentang Islam yang dijelaskan dengan gamblang. Penjelasan yang disampaikan dengan menyejukan tersebut ternyata memikat warga dan akhirnya memeluk Islam.

     “Alhamdulillah sampai sekarang banyak masyarakat Korea yang masuk Islam dan itu bertambah terus,” kata Imam Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq,  Jeonju, Korsel.

      Mengenai peran fatwa, Abdul Wahab menjelaskan fatwa sangat penting sebagai pegangan dan panduan bagi umat Islam di Korea dalam menjalankan ibadah dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

      Ketika ada Muslim di negeri itu bertanya atau meminta fatwa kepadanya, ia mengatakan, fatwa disesuaikan dengan orang bersangkutan, karena setiap orang memiliki mazhab masing-masing. Jika berpegang pada mazhab Imam Syafi’i, maka tentu disampaikan fatwa dengan pendekatan mazhab yang dianutnya. Demikian pula mazhab-mazhab lainnya.

      Meski fatwanya menggunakan pendekatan mazhab, hal itu bukan berarti harus menyimpang dari sumber hukum Islam yang ada, yaitu Al Qur’an dan Hadits.  Pada intinya, Abdul Wahab menegaskan semua fatwa yang dikeluarkan tidak bertentangan dengan Al Quran dan Hadits. (L/R-010/R-019/R-006)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply