Israel Akan Tambah 6.000 Rumah Pemukim Yahudi di Palestina

         Jerusalem, 6 Shafar 1434/19 Desember 2012 (MINA) – Para pejabat Israel mengatakan mereka  akan berlanjut dengan rencana untuk menambah pembangunan 6.000 rumah bagi para pemukim Yahudi di tanah Palestina dalam minggu-minggu ini, tidak menghiraukan kritikan negara-negara Barat bahwa hal tersebut bisa mengancam harapan yang sudah tipis bagi perjanjian damai antara kedua belah pihak.

         Karena merasa kalah dengan pengakuan de facto kedaulatan Palestina dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB bulan lalu, Israel mengumumkan akan memperluas permukiman bagi warganya di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Jerusalem Timur.

        Bahkan Kementerian dalam negeri Israel pada Senin memberikan persetujuan kepada komite perencanaan tahap awal untuk membangun sekitar 1.500 rumah baru untuk para pemukim Yahudi di Ramat Solomon Shlomo, demikian menurut laporan kantor berita Palestina, Ma’an yang diterima Mi’raj News Agency (MINA), Rabu.

        Juru bicara kementerian Efrat Orbach mengatakan Selasa kemarin bahwa Majelis Hakim kini mulai membahas rencana baru membangun 4.500 rumah di dua kawasan permukiman lainnya, Givat Hamatos dan Gilo. Menurut sumber itu, Israel menghitung tiga permukiman sebagai bagian dari kota Yerusalem, meskipun mereka berada di tanah Tepi Barat yang dicaploknya dalam perang Timur Tengah 1967.

       Sementara itu, pihak Palestina melihat pemukiman itu sebagai hambatan untuk mencapai suatu Negara Palestina yang layak dengan ibukotanya di Yerusalem Timur.

“Kegiatan pembangunan pemukiman Yahudi merupakan tindakan sepihak dan benar-benar merugikan kelangsungan upaya solusi dua Negara dan kemungkinan bagi bangsa kami untuk terus eksis. Pada dasarnya ini adalah serangan terhadap hak-hak rakyat kami untuk hidup,” tegas Menteri Salam Fayyad Otoritas Palestina Perdana Senin lalu (17/12).

Wakil Netanyahu mempertahankan tindakan Israel

       Pemukiman Yahudi tersebut ilegal berdasarkan hukum internasional dan negara-negara Barat merasa sangat terganggu oleh niat Israel untuk membangun pemukiman baru di kawasan E-1, antara Yerusalem Timur dan Tepi Barat dimana sebelumnya pernah dihentikan atas tekanan dari AS.

     Wakil Perdana Menteri Israel Moshe Yaalon mengatakan daerah perluasan permukiman Yerusalem-merupakan seuatu kelanjutan dari rencana yang ditangguhkan sementara negara Barat berusaha mencoba membujuk Abbas untuk meninggalkan rencana peningkatan status Palestina di PBB.

Dia menolak kemarahan internasional. “Dunia mengutuk otomatis konstruksi apapun atas Jalur Hijau, dan terus berlanjut,” kata Yaalon merujuk pada perbatasan Tepi Barat.

“Kami akan terus membangun sesuai dengan kepentingan strategis Israel,” tambahnya. (T/R-012/R-008/R-006).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply