Israel Sengaja Tangkap Pelajar Palestina

      Nablus, 13 Shafar 1434/25 Desember 2012 (AlQassam/MINA) – Direktur Pusat Tahanan Palestina Ahrar Center, Fuad Khuffash, mengatakan,  penjajah Israel sengaja menangkap paksa pelajar dan para aktivis untuk mencegah mereka menyelesaikan studi dan mereka memastikan bahwa ada ratusan pelajar yang kini berada di penjara.

 

     “Banyak dari mereka yang terkurung dengan dalih Penahanan Administrasi,” kata Fuad dalam siaran pers yang diterima Mi’raj News Agency (MINA) Selasa sore (25/12).

 

     Ahrar Center melaporkan  lebih dari 10 tahun seorang pemuda Palestina berusia 28 tahun, Abdur Rahman Shtiye tidak dapat menyelesaikan studinya karena penangkapan yang terus menerus terjadi pada dirinya.

 

     Abdur Rahman Shtiya, pemuda dari desa Salem, Nablus Timur adalah seorang mahasiswa jurusan Teknik Sipil di Najah National University. Dia mulai masuk universitas sejak tahun 2003 dan hingga kini tidak bisa lulus karena  tindakan penangkapan yang  terus menerus pada dirinya oleh pasukan penjajah Israel.

 

     Abdur Rahman, seorang pemuda Palestina yang dicintai oleh semua orang yang mengenalnya, pemuda yang memiliki suara yang indah dalam membacakan ayat suci Al-Quran.

 

     Hafal Al-Quran sejak kecil telah menjadi jiwa pasangannya yang membantu dia dan memberikan dia kekuatan, kesabaran dan ketahanan untuk menghadapi musuh-musuhnya dan untuk bertahan hidup meskipun semua rintangan menimpanya.

 

     Dia ditangkap untuk pertama kalinya saat sedang menyelesaikan studinya pada 7 Desember 2003, dia dijatuhi hukuman selama tujuh bulan. Kemudian, Dia ditangkap kembali pada 16 Desember 2007 selama sembilan bulan, sehingga ia harus mengubah spesialisasi studinya.

 

    Untuk yang ketiga kalinya dan berharap terakhir kali adalah pada 15 Februari 2012, namun hingga kini Israel sengaja tidak menjatuhi hukuman dengan terus menunda sesi pengadilan dengan dalih keamanan.

 

     “Israel tidak bisa membunuh cinta dan semangat kami. Seperti semua rekan-rekan universitas di penjara,  dalam perjalanan kami tidak akan pernah meninggalkan ruang untuk rasa putus asa,” tegas Abdur Rahman.

     Mereka percaya akan perjuangan mengenai hak untuk hidup dan mendapatkan pendidikan.

 

     Dalam laporan Ahrar Center, Ibu Abdur Rahman berkata “Israel sedang berusaha untuk mencegah anak-anak kita atas hak mendapat pendidikan dengan menangkap mereka terus menerus selama studi mereka, seperti apa yang terjadi dengan dirinya yang harus mengubah jurusan studinya dari rekayasa komputer menjadi teknik sipil setelah ia merindukan ujian dilaksanankan di penjara, apalagi, mereka cenderung untuk menunda sidang pengadilan setelah menuduhnya dengan tuduhan baru setiap waktu.”

 

      “Saya mengunjungi Abdur Rahman hanya sekali dalam beberapa pekan untuk melihat dia selama setengah jam dari balik kaca yang pasti tidak cukup untuk menenangkan kerinduan saya untuk membawanya pulang. Belum lagi perjalanan panjang dari pagi hingga siang antara jalur hambatan yang dibuat Israel dan pemeriksaan sepanjang jalan ke penjara,” kata ibunya.

 

     Mengenai keluarganya, ibu Abdur Rahman menambahkan,  suaminya dilarang mengunjungi anaknya itu dengan  dalih keamanan. “Saudara-saudaranya tidak berada dalam situasi yang lebih baik, setiap kali mereka mendapatkan kesempatan untuk mengunjunginya Israel merobek surat izin mereka untuk mencegah mereka mengunjungi lagi,” kata ibu Abdur Rahman.

 

Kerabat Tahanan Palestina Gelar Aksi damai

 

     Sementara itu, Puluhan kerabat tahanan Palestina menggelar aksi damai di kantor PBB di Nablus Senin (24/12) dalam solidaritas untuk mendukung tahanan yang melakukan aksi mogok makan di penjara-penjara penjajah Israel.

 

     Para peserta yang ikut dalam pawai aksi damai itu meneriakkan slogan-slogan menuntut kebebasan bagi para tahanan terutama yang melakukan aksi mogok makan.

 

     Salah seorang pembicara menyerukan untuk mendukung para tahanan dan memaparkan penganiayaan yang mereka hadapi oleh tangan-tangan sipir penjajah Israel.

 

     Ibu dari seorang tahanan Palestina Mohammed Al-Taj meminta masyarakat internasional dan semua orang yang merdeka di dunia untuk ikut campur tangan dan menyelamatkan nyawa anaknya yang sedang menghadapi kematian di penjara Israel akibat kelalaian medis yang dilakukan penjajah Israel itu.

 

     Para peserta juga menyerahkan Sebuah memo atas nama komite nasional untuk mendukung tahanan di Nablus kepada kantor PBB meminta organisasi internasional untuk segera menekan Israel agar membebaskan semua tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan, menderita sakit, dan tahanan anak-anak di penjara-penjaranya. (T/R-022/R-006)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply