ISRAEL TOLAK PROTES UNI EROPA ATAS PEMUKIMAN BARU

        Jerusalem, 28 Muharram 1434/ 12 Desember 2012 (Ahram/MINA) Perdana Menteri Israel Bejamin Netanyahu mengklaim pemukiman yang akan dibangun di Tepi Barat hingga Jerusalem Timur tidak akan mengancam eksistensi negara Palestina, bahkan Netanyahu mencemooh Uni Eropa yang menentang rencananya.

        Berbicara kepada para wartawan asing, Netanyahu membandingan rencana pembangunan pemukiman E1 antara pemukim Arab di Jerusalem Timur dan pemukim Maaleh Adumin di Tepi Barat dengan negara Palestina yang diakui meliputi Tepi Barat dan Jalur Gaza.

       “Saya tidak faham orang yang mengatakan bahwa negara Palestina tidak mungkin ada jika Maalah Adumim dihubungkan ke Jerusalem,” kata Netanyahu.

        “Sama saja dengan orang yang mengatakan bahwa anda akan mempunyai negara Palestina antara Gaza dan Tepi Barat, dan mereka dibagi 60-70 kilometer (40-55 mil),” ujarnya.

        “Itu bagus, itu tidak menghalangi negara Palestina dalam pikiran mereka tetapi kenyataan bahwa Maaleh Adumim dapat dihubungkan ke Yerusalem dengan sebuah koridor 2-3 kilometer, (mereka mengatakan) bagaimanapun hal tersebut mencegah sebuah negara Palestina. Itu tidak benar. itu palsu.”

        Uni Eropa Senin mengatakan  hal ini “sangat mengecewakan” dengan rencana pembangunan pemukiman baru Netanyahu setelah Palestina memenangkan peningkatan status negaranya di PBB.

        “Uni Eropa menyatakan sangat kecewa dan menentang keras upaya Israel dalam perluasan pemukiman di Tepi Barat termasuk juga di Yerusalem Timur, dan di daerah lainnya untuk mengembangkan area E1,” kata menteri luar negeri Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.

        Rencana E1 jika dilaksanakan, akan serius merusak prospek perundingan penyelesaian konflik karena itu akan mempertanyakan keabsahan solusi dua Negara yang merupakan inti bagi proses perdamaian.

        Sebuah pernyataan kementerian luar negeri Israel mengatakan bahwa posisi Uni Eropa adalah “satu sisi”.

        “Fakta dan sejarah membuktikan bahwa pemukiman Yahudi tidak pernah menjadi hambatan bagi perdamaian,” katanya.

        “Akar penyebab tidak adanya kesepakatan damai adalah penolakan Palestina untuk terlibat dalam perundingan langsung dan keengganan mereka untuk mengakui Israel sebagai negara Yahudi,” katanya menambahkan.

        Pembicaraan perdamaian langsung yang dimulai pada bulan September 2010 runtuh dengan cepat akibat sengketa mengenai permukiman ilegal Yahudi, dengan Palestina menyerukan pembekuan pembangunan dan Israel berdebat untuk kembali ke perundingan tanpa prasyarat tersebut.

        Sebelum dimulainya pembicaraan pada tahun 2010, Israel mengamati pembekuan 10-bulan pada konstruksi baru di Tepi Barat, namun menolak permintaan ulang untuk memperbaharuinya, menolaknya sebagai “prasyarat” yang tidak dapat diterima untuk melakukan perundingan perdamaian. (T/R-009/R-006)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply