KUARTET PERUNDING TIMUR TENGAH KECAM PEMBANGUNAN PEMUKIMAN ILEGAL ISRAEL

       Jerusalem, 8 Shafar 1434/21 Desember 2012 (WAFA/MINA) – Utusan khusus Kuartet perunding perdamaian Timur Tengah (The Quartet on the Middle East), Tony Blair mengecam kebijakan pemukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki karena hal tersebut merusak prospek untuk penyelesaian damai melalui proses negosiasi.

 

    Kuartet untuk Timur Tengah, kadang-kadang disebut Kuartet Diplomatik atau Kuartet Madrid atau hanya Kuartet, adalah empat negara dan badan regional dan internasional yang terlibat dalam menengahi proses perdamaian dalam konflik Israel-Palestina. Kuartet beranggotakan PBB, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Rusia. Kelompok ini didirikan di Madrid pada tahun 2002, sebagai kelanjutan dari hasil Konferensi Madrid tahun 1991  yang diadakan sebagai akibat dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Tony Blair adalah Utusan Khusus Kuartet saat ini. 

 

      Blair juga menyatakan dukungannya terhadap Departemen Luar Negeri AS dan empat negara Eropa anggota dari Dewan Keamanan PBB yang mengecam pemukiman ilegal Israel.

        Pernyataan dari AS dan Eropa tersebut mengecam keras rencana Israel untuk membangun ribuan unit rumah baru di permukiman di wilayah Palestina, termasuk di Jerusalem Timur, khususnya proyek E1 yang kontroversial yang menurut mereka akan menghancurkan semua prospek untuk menciptakan negara Palestina yang bisa saling berdampingan.

       “Semua pihak harus menahan diri dari tindakan-tindakan sepihak yang merugikan upaya untuk mencapai perdamaian,” kata Blair.

 

       Sebelumnya, Inggris Selasa lalu telah mengeluarkan pernyataan resmi melalui Sekertaris Luar Negeri William Hague yang mengatakan pembangunan pemukiman di Jerusalem Timur tersebut ilegal dibawah hukum internasional.  

 

       Hague mengatakan “Inggris mengungkapkan rasa kecewa yang mendalam atas usaha Israel dalam perluasan pemukiman ilegal disaat komunitas internasional juga terus menerus menyerukan kepedulian,”.

 

      “Keputusan ini, yang membuka jalan bagi perluasan pemukiman di Jerusalem Timur, merupakan provokasi serius dan hambatan bagi perdamaian,” katanya.

        Hague menambahkan bahwa jika pembangunan itu harus dilaksanakan, hal itu akan membuat solusi dua negara yang dirundingkan, dengan Jerusalem sebagai ibukota bersama, sangat sulit dicapai.

 

       Inggris mendesak Israel untuk merubah keputusannya dan tidak mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk memperluas atau membangun pemukiman baru.(T/R-009/R-006)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply