PARA ANGGOTA FATAH KEMBALI KE GAZA

     Gaza City, 20 Muharram 1434/ 04 Desember 2012 (Ma’an/MINA) – Dua belas anggota Fatah kembali ke Jalur Gaza Senin setelah meninggalkan “daerah kantong tersebut” pada tahun 2007 di tengah pertempuran dengan Hamas.
     “Kami para pejuang, kami pergi karena darah yang tidak boleh ditumpahkan dan hari ini kami kembali ke tanah air kami setelah lima tahun,” kata anggota Fatah Mahmoud Musleh sekembalinya melalui penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir.
     “Kebahagiaan ini dicampur dengan rasa sakit karena kami meninggalkan teman-teman kita di Mesir, tapi kami senang untuk kembali ke Gaza,” kata Musleh yang dikutip dari  Kantor Berita Palestina Ma’an yang diterima Kantor Berita Mi’raj News Agency (MINA) Selasa pagi.

     Musleh mengatakan sekitar 450 anggota Fatah telah meninggalkan Gaza selama terjadinya perang singkat antara Hamas dengan Fatah pada tahun 2007.
     Sekitar 190 anggota organisasi afiliasi Fatah meninggalkan Gaza ke Mesir, 70 orang tersebar di seluruh wilayah di Yaman, Aljazair dan Uni Emirat Arab, dan hampir 200 orang berada di Tepi Barat, katanya.
     Mereka akan kembali lagi dengan prosedur yang lengkap, ia menambahkan.
     “Harus ada inisiatif yang baik untuk menghimpun rakyat Palestina untuk kembali bersatu dan membebaskan seluruh tawanan politik setelah kemenangan yang diraih dengan baik oleh Gaza dan PBB,” kata Musleh.
     Israel baru-baru ini melancarkan perang 8-hari di Gaza yang berakhir dengan gencatan senjata pada 21 November dan disambut di Gaza sebagai kemenangan bagi perlawanan.
     Sementara itu, Kepala Brigade Martyrs Al-Aqsa Fatah yang berbasis di Gaza, Hanan al-Qassas mengatakan Senin, bahwa niat baik telah dibangun antara Hamas dan Fatah setelah sayap militer mereka berjuang berdampingan selama penyerangan.
     Brigade Fatah yang berafiliasi telah mengklaim serangan roket ke Israel pada hari-hari pertama konflik.
     Al-Qassas, juga dikenal sebagai Abu Jandal, mengatakan para anggota afiliasi Fatah itu masih di Mesir akan kembali ke Gaza dalam dua atau tiga bulan ke depan setelah mereka mengikat komitmen keluarga.
     Pada hari Minggu, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Gaza, Islam Shahwan yakin bahwa delegasi Fatah bisa kembali Senin dan tidak akan menghadapi pengenghinaan.
      Setelah perang, Hamas dan Fatah berjanji untuk memberikan amnesti kepada para pendukung saingannya terkait dengan pertempuran pada tahun 2007.
     Fatah mengatakan 56 anggota organisasi afiliasinya berada di penjara Gaza karena alasan konflik politik, dan mereka masih memfinalisasi daftar tahanan yang akan dibebaskan.
     Sebelumnya, saat Israel masih menyerang Gaza, satu petinggi Fatah, Nabil Shaath, mengunjungi Gaza untuk bergabung dengan pejuang Gaza dalam upaya mencegah invasi darat Israel.
     Presiden Mahmoud Abbas kala itu telah menginstruksikan Shaath, yang juga seorang pejabat senior Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization/PLO), untuk mencoba menghentikan Israel mengirim pasukan darat ke Gaza “melalui koordinasi dengan Menteri Luar Negeri anggota Liga Arab dan kontak yang luas dengan para politisi di seluruh dunia,” kata PLO dalam sebuah pernyataannya.
     Shaath tiba di Gaza melalui pintu perbatasan Rafah. Hal ini dilakukan mengingat PM Israel, Benyamin Netanyahu, telah menyatakan dalam konferensi persnya, Israel kala itu sedang mempersiapkan serangan yang lebih besar untuk Gaza.
     Saat itu belum ada informasi gencatan senjata dari kedua belah pihak, meskipun sebelumnya, Israel mengutus seorang tentaranya untuk bertemu dengan pejuang Hamas berkenaan dengan gencatan senjata pihak Israel. Namun, sampai saat itu Israel masih menembakan rudalnya ke Jalur Gaza.
     “Apa yang kita saksikan adalah serangan kriminal terhadap rakyat kita yang terkepung di Gaza Ini. Tidak ada hubungannya dengan keamanan mereka,” kata Shaath.
     Pejabat senior Fatah ini pernah melakukan kunjungan ke Gaza dan melakukan pertemuan dengan para petinggi Hamas di wilayah itu pada 2010 lalu. (T/R-014/R-006)

Rate this article!

Leave a Reply