PBB SAMBUT NEGARA PALESTINA

        BETHLEHEM, 18 Muharram 1434/1 Desember 2012(MA’AN/MINA) – Majelis Umum PBB menyetujui resolusi peningkatan status Palestina dari “badan peninjau” menjadi  “negara peninjau” di PBB,Kamis (29/11).

       Hasil suaraMajelis Umum PBB sebanyak 138 suara setuju, Sembilan menentang dan 41 abstain.

       Menyikapi pertemuan di New York menjelang pemungutan suara Presiden Mahmoud Abbas mengatakan pengajuan kepada PBB tersebut merupakan kesempatan terakhir untuk mewujudkan solusi dua-negara.

     “Enam puluh lima tahun yang lalu pada hari ini, MajelisUmum PBB mengadopsi resolusi 181 yang mengakibatkan tanah bersejarah Palestina dibagi menjadi dua Negara dan memunculkan negara Israel,” kata Abbas dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB.

     “Majelis Umum hari ini ada untuk melahirkan Negara Palestina yang nyata,” katanya.

    Abbas mengatakan kepada PBB, perang Israel di Gaza menekankan agar Israel mengakhiri pendudukan tersebut merupakan hal yang sangat penting.

      “Ini juga menegaskan kepatuhan pemerintah Israel terhadap kebijakan pendudukan,  kekerasan dan perang,” katanya.

     “Kami percaya bahwa masyarakat internasional berperan penting dalam kesempatan dari solusi dua-negara.”

BanjirAncaman

    “Beberapa bulan terakhir kami telah mendengar gencarnya ancaman dalam menanggapi permintaan damai politik dan diplomatik di PBB dan telah menyaksikan (Israel) di Gaza,” kata Abbas.

     “Kami belum mendengar satu kata dari setiap pejabat Israel mengungkapkan perhatian yang tulus untuk proses perdamaian,” tambah dia.

       Setidaknya ada 17 negara Eropa memberikan suara mendukung resolusi Palestina, termasuk Austria, Perancis, Italia, Norwegia dan Spanyol.

      Abbas telah memfokuskan usahanya melobi Eropa yang memasok sebagian besar bantuan kepada Otoritas Palestina sementara Inggris, Jerman dan lain-lain memilih untuk abstain.

      Republik Ceko di Eropa bergabung dengan Amerika Serikat, Israel, Kanada, Panama dan Pulau kecil Pasifik seperti negara Nauru, Palau dan Mikronesia dalam pemungutan suara.

      Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera mengutuk pidato Abbas yang menyebut sikap Israel itu “bermusuhan dan beracun”dan penuh “propaganda palsu”.

      “Ini bukan kata-kata dari seorang yang menginginkan perdamaian,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataannya setelah pidato Abbas dalam Sidang Umum PBB.

     Menlu AS Hillary Clinton menyebutkan suara PBB itu sangat “disayangkan dan kontraproduktif,” justru akan menimbulkan lebih banyak hambatan menuju perdamaian.

     Duta Besar AS untuk PBB Susan Rice menyerukan dimulainya kembali pembicaraan damai.”Orang-orang Palestina akan membangun hari esok dan menemukan sedikit tentang kehidupan mereka telah berubah kecuali prospek perdamaian yang tahan lama telah surut,” katanya.

   “Amerika Serikat menyerukan kepada kedua pihak untuk melanjutkan pembicaraan langsung tanpa prasyarat pada semua isu-isu mereka dan kami berjanji bahwa Amerika Serikat berada di sana untuk mendukung penuh semangat dalam upaya tersebut,” kata Rice.

       Dia menambahkan bahwa kedua belah pihak harus “menghindari tindakan provokatif lebih lanjut di wilayah tersebut, di New York atau di tempat lain.”

      Langkah ini setelah keanggotaan penuh PBB yang membutuhkan sanksi DewanKeamanan di mana AS bisa menggunakan hak veto. Tapi itu memungkinkan akses Palestina ke Mahkamah Pidana Internasional dan badan-badan internasional lainnya. (T/R12/R07/R-006)

Rate this article!

Leave a Reply