PESAWAT F-16 DAN DRONE TERBANG LAGI DI ATAS GAZA

     Gaza, 19 Muharram 1434/3 Desember 2012 (MINA) – Pesawat tempur F-16 dan pesawat pesawat tanpa awak (drone) terlihat di langit Gaza untuk pertama kali pasca gencatan senjata Palestina-Israel (Rabu, 21/11).

     “Satu Pesawat Israel F-16 dan satu drone terbang melintas sangat tinggi di langit Gaza, namun tidak terlihat sedang memantau,” kata Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Gaza saat dihubungi dari Jakarta, Senin dini hari (03/12) Waktu Jakarta.

     Sementara itu, balon pengintai Israel masih diterbangkan di daerah pendudukan Israel untuk memantau gerak-gerik warga Palestina di Gaza.

      Koresponden MINA di Gaza menjelaskan, “Balon mata-mata memang sengaja diterbangkan di daerah pendudukan Israel. Israel mengklaim tindakan itu tidak melanggar kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas karena tidak memasuki teritorial udara. Di dalam balon tersebut terdapat kamera pengintai”.

     Selama gencatan senjata yang di mediasi Mesir, Israel telah melanggarnya, dengan melakukan serangan di daerah perbatasan Gaza-Israel. Sedikitnya delapan warga Gaza luka-luka dan satu warga meninggal dunia.

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) berlanjut

     Pada saat yang sama, para relawan Medical Emergeny Rescue Committee (MER-C) masih meneruskan pengerjaan RSI. “Para relawan kini sedang mengerjakan pemasangan blok tembok luar lantai dua yang diperkirakan dua hari lagi selesai.”

     “Setelah pengerjaan lantai dua selesai rencananya akan dilanjutkan dengan pemasangan blok lantai tiga. Adapun untuk pemasangan marmer pekerjaannya rencananya akan diserahkan ke warga Gaza. Perlu peralatan khusus yang cukup mahal,” tambahnya.

     Berkenaan dengan bahan material, harganya sempat naik sampai sepekan pasca delapan hari serangan Israel ke Jalur Gaza.

     Bahan material masih didapat melalui terowongan Gaza-Mesir. Ada kabar Mesir dan Gaza sudah menandatangani MoU pengiriman bahan material dari Mesir melalui perbatasan Rafah, hingga kini belum ada pelaksanaan yang nyata.

     “Bahan material masih disediakan melalui terowongan,” katanya.
     Di proyek tersebut, bekerja 28 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, mulai dari tukang batu, ahli listrik, air, hingga insinyur sipil.

     Para relawan ini merupakan personil dari Pesantren Al Fatah di Indonesia, yang kantor pusatnya kedudukan di Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

     RSI-Gaza  di bangun di atas lahan 1,6 hektar yang kini sudah memasuki tahap konstruksi fisik kedua serta jaringan listrik. Biaya total sampai tahap pembangunan fisik Rp30 miliar, dana terpakai Rp22,5 miliar dan sisa kebutuhan dana Rp7,5 miliar sedang dalam penggalangan di Indonesia.

     Usai pembangunan fisik, masih akan dibutuhkan dana untuk fasilitas pendukung dan medis, dari mebeler, tempat tidur hingga perangkat medis. Total kebutuhan dana untuk berbagai perangkat itu berkisar Rp15 miliar rupiah.  

     Namun  belum termasuk perangkat medis modern seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging), sehingga angka kebutuhan keseluruhan sebenarnya masih Rp30 miliar. RSI-Gaza diharapkan sudah akan bisa melayani pasien pertama pada tahun 2014. (L.R-014/R-22/R-006)

Leave a Reply