STATUS DI PBB MODAL PALESTINA MERDEKA

2012-12-01, 00:15:01

       Gaza, 18 Muharram 1434/ 1 Desember 2012. (MINA) – “Tercapainya Peningkatkan status Palestina di PBB sebagai Negara Pemantau Non-Anggota PBB dari sebelumnya hanya sebagai lembaga pemantau yang diwakili PLO,bisa menjadi modal dalam melanjutkan perjuangan Palestina menjadi negara merdeka,” kata Ketua Komisi I DPR RI Bidang Pertahanan, Luar Negeri dan Informasi, Mahfudz Shidiq dalam kunjungannya ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, Jum’at (30/11).

   Mahfudz mengungkapkan, Hamas selama ini tidak mendukung langkah Palestina ke PBB, namun ternyata kemarin mendukung langkah Presiden Mahmoud Abbas, bermaksud agar tidak menimbulkan perpecahan internal perjuangan Palestina.
   Menurut Mahfudz, itu terkait dengan rekonsiliasi internal Palestina antara Hamas dan Fatah yang belum sepenuhnya tercapai. Padahal perpecahan itu dapat melemahkan perjuangan Palestina meraih kemerdekaannya.
   Ketua Parlemen Palestina, Dr Ahmad Zahar mengatakan kepada Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) saat ditemui di Kantor Parlemen Gaza, mendukung usaha Mahmoud Abbas ke PBB dengan catatan, Abbas harus mengajukan Palestina sebagai negara utuh
   “Kami mendukung usaha Abbas, tetapi Palestina harus berdiri sebagai negara utuh, bukan hanya 20 persen atau 80 persen dari tanah palestina,“ kata Zahar.
Selain itu, Zahar juga menuntut agar Israel mengembalikan hak-hak pengungsi Palestina yang terlantar dan terdzalimi selama ini.

Dukungan Merdeka
    Dukungan peningkatan status Palestina di PBB sampai merdeka datang dari berbagai kalangan di dunia. Dr. Abdul Halim bin Abdul Hamid, ulama pemerhati Palestina asal Malaysia, mengatakan, hasil voting di PBB menunjukkan sebenarnya banyak negara di dunia yang menginginkan Palestina merdeka dan terlepas dari pendudukan Israel.
    Dukungan ini tampak dari lebih dua per tiga negara-negara anggota PBB memberikan suara setuju atas Palestina. Pada Sidang Majelis Umum PBB tanggal 29 Nomeber 2012, dari 198 negara, 138 negara memberikan suara setuju, menolak 9 negara, 41 abstain, 5 lainnya tidak hadir.
    Menurut Prof. Francis A. Boyle, pakar hukum internasional dari University of Illinois College of Law USA, seperti dikutip australianforpalestine.net, menanggapi kemenangan Palestina di Majelis Umum PBB, Palestina bisa melawan Israel dengan Intifadah Hukum.
Boyle menjelaskan, melalui Intifadah Hukum ini, maka Palestina disejajarkan dengan Negara lain, sehingga dapat mengajukan kejahatan Israel ke Mahkamah Internasional dan mengajukannya ke sidang kriminal internasional melalui International Criminal Court (ICC).
    Di samping itu, Palestina bisa bergabung dengan Konvensi Hukum Laut Internasional dan mendapatkan bagian yang adil dari ladang gas yang terletak di lepas pantai Gaza menjadi mandiri secara ekonomi. Palestina juga bisa bergabung dengan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dan mendapat kedaulatan dan kontrol hukum atas wilayah udaranya sendiri.
    Selain itu, masih menurut Boyle, Palestina bisa bergabung dengan Gabungan Telekomunikasi Internasional dan mendapatkan kontrol hukum berdaulat atas gelombang udara sendiri termasuk saluran satelit telepon.

Panggilan agama dan kemanusiaan
    Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Muhyiddin Hamidy mengatakan kepada MINA, perjuangan Palestina dan dukungan seluruh umat Islam sedunia belum selesai, sampai benar-benar merdeka, dan Masjid Al-Aqsha di Palestina dikembalikan kepada umat Islam sebagai pemilik sah masjid tersebut.
    “Masjid Al-Aqhsa kiblat pertama umat Islam, tempat suci yang diberkahi, bumi Isra Mi’raj Nabi Muhammad, secara panggilan akidah adalah hak milik umat Islam. Karena itu wajib dibebaskan dari cengkeraman penjajahan Israel,” ujar Imaam Hamidy, yang juga Pembina Utama Pesantren Al-Fatah se-Indonesia.
    Menurut Hamidy, secara akidah masalah Palestina dan Al-Aqsha adalah panggilan jihad, perintah Allah dan Rasul-Nya, kewajiban seluruh umat Islam di manapun berada membela saudaranya yang sedang terdzalimi.
    Sedangkan secara kemanusiaan, Palestina adalah satu-satunya negara di dunia yang masih dijajah, dan ini harus dibebaskan, ujarnya. (L/R07/R11/R25).

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply