TUDUHAN MILITAN GAZA LANGGAR UNDANG-UNDANG PERANG ADALAH KEBOHONGAN

 Hamidy      Jakarta, 13 Shafar 1433 H / 26 Desember 2012 (MINA) – Pernyataan Human Rights Watch (HRW) bahwa Militan Palestina di Gaza melanggar undang-undang perang karena meluncurkan ratusan roket ke wilayah sipil Israel selama perang bulan lalu adalah suatu kebohongan publik, Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy kepada Mi’raj News Agency (MINA) di Jakarta, Rabu (26/12).

  Human Rights Watch adalah sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang melakukan penelitian dan advokasi tentang hak asasi manusia. Kantor pusatnya berada di New York City dan memiliki kantor di Berlin, Beirut, Brussels, Chicago, Jenewa, Johannesburg, London, Los Angeles, Moskow, Paris, San Francisco, Tokyo, Toronto, dan Washington.

      Yayasan Yahudi Zionis George Soros Open Society merupakan donatur utama dari Human Rights Watch, memberikan kontribusi 100 juta dolar AS dari 128 juta dolar AS sumbangan dan hibah yang diterima oleh HRW dalam tahun keuangan 2011. Kontribusi 100 juta dolar AS dari Yayasan Open Society akan dibayarkan lebih dari sepuluh tahun dengan jumlah angsuran 10.000.000 dolar per tahun.

      Menurut Imaam Hamidy, Hamas dan berbagai kelompok pejuang lainnya di Gaza hanyalah membela diri karena tanah mereka dijajah dan diserang Zionis Israel dan bukan untuk membalas dendam.

       “ Pernyataan Human Rights Watch yang menuduh kelompok kelompok perlawanan di Gaza (para pejuang Hamas dan Jihad Islam) melanggar undang-undang perang itu tidak benar, karena sudah jelas bahwa justru Zionis Israel yang melanggar Hak  Asasi Manusia bangsa Palestina dan telah merebut serta menjajah tanah mereka,” kata Imaam Hamidy.

      Hamidy mengharapkan umat Islam menyikapi pernyataan tersebut dengan lebih merapatkan dan mengatur barisan untuk terus maju membela kembalinya Masjidil Aqsha dan mengembalikan hak kemerdekaan Palestina.

     “ Kita harus berada  dalam satu jalan dan komando, selama masih berpecah belah maka muslimin tidak berdaya untuk membela Palestina,” ungkap mandataris Konfrensi International Al Aqsha dan Palestina di Bandung 3-4 Juli 2012 tersebut.

      Sebagaimana diberitakan BBC Indonesia (24/12) Human Rights Watch (HRW) menuduh kelompok-kelompok perlawan bersenjata Gaza bertujuan melukai warga sipil sehingga melanggar undang-undang perang.

       “Tidak ada landasan hukum untuk melancarkan roket ke daerah-daerah berpenduduk,” kata direktur Human Rights Watch untuk Timur Tengah, Sarah Leah Whitson.     

       Sementara itu Ketua Umum Persatuan Islam (PERSIS), Prof. Dr. Maman Abdurrahman kepada MINA menyatakan bahwa pernyataaan  Human Rights Watch (HRW) tersebut sebagai suatu ujian perjuang kemerdekaan Palestina.

       Menurut Maman, proses menuju kemerdekaan Palestina harus melalui tahapan-tahapan perdamaian dan perjanjian.

      “Semua pihak harus saling menghormati dan menyepakati suatu perjanjian  perdamaian untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina yang tidak boleh dilanggar oleh Israel maupun Palestina,” ujar Maman Abdurahman.

      Wakil Ketua The Indonesian Society for Middle East Studies ISMES Smith Al-hadar menilai keliru jika Hamas dan kelompok pejuang Gaza lainnya dianggap melanggar undang-undan perang dan hukum internasional.

   “ Hamas hanya menginginkan kemerdekaan dan membela diri atas serangan agresi Zionis Israel ke Gaza,” kata Smith Al hadar

        Menurut Al-Hadar berdasarkan hukum internasional sebagai bangsa yang terjajah maka Palestina berhak melakukan perlawanan apapun untuk memerdakakan dirinya dari penjajah Israel dan tidak ada kesalahan.  

      Al-Hadar menilai kecuali jika sudah terdapat adanya kesepakatan perdamaian antara kedua pihak,  maka akan terkena hukum internasional jika ada salah satu pihak yang menyerang.

     “Seluruh dunia tidak akan bisa menyalahkan para pejuang Hamas melanggar hukum internasional, tetapi dunia mengetahui bahwa yang melanggar hukum internasional tersebut adalah Zionis Israel yang telah mengambil dan menjajah tanah milik bangsa Palestina,” tutur Al-Hadar.

      Ketua Umum Aqsha Working Group (AWG) Agus Sudarmaji menilai tuduhan HRW tersebut sebagai propaganda Amerika dan sekutu-sekutu Zionis Israel untuk menghantam Hamas dan para pejuang Islam lainnya di Gaza.

     “Hamas dan pejuang lainnya hanya melakukan aksi bela diri yang bersifat persuasif  bukan propokatif.  Sementara Israel senantiasa mempropokasi dan menyerang Gaza, sedangkan Hamas dan kelompok pejuang lainnya hanya  membela diri atas penyerangan tersebut,” kata Agus.

       Agus  berharap Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk pro aktif membantu menyelesaikan permasalah kemerdekaan Palestina dengan kontrol opini publik.  

     “ Zionis Israel  dengan kekuatan media masa yang dimilikinya akan senantiasa membuat opini publik supaya bisa diterima dunia internasional. Mereka memutarbalikkan fakta yang sebenarnya,” ujar Ketua Sekolah Tinggi Islam Al Fatah (STAI), Cileungsi, Bogor tersebut. (L/ R-016/R-006)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply