BANK DUNIA IMBAU NEGARA BERKEMBANG LINDUNGI PERTUMBUHAN EKONOMI

   Washington, 5 Rabiul Awwal 1434/17 Januari 2013 (MINA) – Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim menghimbau, negara-negara berkembang melindungi pertumbuhan ekonomi di negaranya.
   “Negara-negara berkembang perlu melindungi diri dari risiko-risiko yang bisa muncul akibat Zona Euro dan kebijakan fiskal di Amerika Serikat. Negara-negara itu juga perlu meningkatkan potensi yang mereka miliki,” kata Jim Yong Kim dalam siaran persnya yang diterima Mi’raj News Agency (MINA), Kamis sore (17/1).

   Jim Yong Kim menjelaskan, Krisis global sudah empat tahun berjalan namun kondisi perekonomian global tetap rapuh, dan pertumbuhan di negara-negara berpendapatan tinggi masih lemah. Hal itu dapat menghalangi prospek perbaikan yang cepat dan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
   “Sejauh ini ketahanan perekonomian negara-negara berkembang terbukti lebih kuat. Namun kita tidak bisa tunggu sampai pertumbuhan di negara-negara maju pulih kembali, sehingga kita harus terus mendukung negara-negara berkembang melakukan investasi di bidang infrastruktur, kesehatan dan pendidikan. Investasi ini akan membantu negara-negara ini mencapai potensi pertumbuhan mereka di masa mendatang.” jelas Jim Yong Kim.
   Menurut laporan Global Economic Prospects Bank Dunia yang dirilis Selasa (15/1) melaporkan, pada tahun lalu, negara-negara berkembang mengalami laju pertumbuhan yang paling lambat sepanjang satu dekade terakhir, antara lain karena ketidakpastian situasi Zona Euro di bulan Mei dan Juni 2012.
   Sejak itu, kondisi pasar finansial mengalami perbaikan cukup signifikan.
   Arus modal asing ke negara-negara berkembang , yang turun 30 persen di triwulan kedua 2012, kini telah pulih dan bunga surat utang negara berada dibawah level rata-rata 282 basis poin.
   Pasar saham negara berkembang naik 12.6 persen sejak Juni, sementara pasar ekuitas negara maju naik 10.7 persen.
   Kendati demikian, dampak kenaikan ini pada ekonomi riil tergolong moderat. Output negara berkembang mengalami peningkatan, namun tertahan oleh investasi lemah dan aktivitas industrial di negara-negara perekonomian maju.
   Wakil Presiden Senior dan Ekonom Utama Bank Dunia, Kaushik Basu, juga menghimbau negara-negara berkembang sebaiknya tidak terlalu khawatir untuk mengantisipasi setiap gejolak yang dialami negara-negara maju, tetapi lebih baik memastikan kebijakan fiskal dan moneter mereka cukup kuat dan responsif terhadap kondisi domestic.
   “Dari harapan akan pemulihan berbentuk U (ditandai turunnya pertumbuhan PDB sebelum akhirnya naik kembali dan menguat), kemudian pemulihan berbentuk W (pemulihan dari resesi double-dip), prospek pertumbuhan global semakin sulit diprediksi. Dengan pemerintah negara-negara maju kini tengah berusaha membuat kebijakan fiskal yang lebih berkelanjutan,” kata Kaushik Basu.
   Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan PDB global naik 2.3 persen di 2012, dibanding perkiraan bulan Juni lalu sebesar 2.5 persen. Pertumbuhan diharapakan akan tetap berkisar pada plevel 2.4 persen di tahun 2013, sebelum kemudian menguat menjadi 3.1 persen di 2014 dan 3.3 persen di 2015.
   PDB negara berkembang diperkirakan akan naik ke level 5.1 persen di 2012, dan diproyeksikan menguat ke 5.7 persen di 2013, dan kemudian terus  menguat ke 5.8 persen di 2014 dan 2015.
   Pertumbuhan di negara-negara maju diturunkan dari perkiraan-perkiraan semula, yakni ke level 1.3 persen untuk tahun 2012 dan 2013, sebelum kemduain menguat ke 2.0 persen di 2014 dan 2.3 persen di 2015.
   Sementara itu, pertumbuhan di Zona Euro diperkirakan baru akan menguat di tahun 2014 – PDB Zona Euro diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 0.1 persen di 2013, sebelum kemudian menguat ke 0.9 pesen di 2014 dan 1.4 persen di 2015.
   Secara umum, perdagangan barang dan jasa  secara global – yang hanya tumbuh 3.5 persen di 2012 – diperkirakan akan menguat ke level 6.0 persen di 2013 dan 7.0 persen di 2015.
   
   Beri Kontribusi Terbesar Pada Pertumbuhan Global
   Direktur Prospek Pembangunan Bank Dunia, Hans Timmer, mengatakan, selama dua tahun berturut, negara-negara berkembang memberi kontribusi terbesar pada pertumbuhan global di tahun 2012.  
   “Lemahnya pertumbuhan negara-negara maju berdampak pada pertumbuhan negara-negara berkembang. Namun besarnya permintaan domestik dan tumbuhnya keterikatan ekonomi antar negara berkembang telah bantu perkuat ketahanan perekonomian negara-negara berkembang. Alhasil, ,” kata Hans Timmer.
   Risiko-risiko terhadap perekonomian global termasuk: lambatnya kemajuan dalam penyelesaian krisis Zona Euro; permasalahan utang dan fiskal di Amerika Serikat; kemungkinan terjadinya perlambatan investasi di China; serta gangguan pada pasokan minyak global.
   Namun demikian, kemungkinan terjadinya risiko-risiko ini telah berkurang, dan kemungkinan terjadinya pemulihan kuat di negara-negara maju telah meningkat.
   Meskipun keberlanjutan fiskal tidak menjadi masalah di sebagian besar negara berkembang, tingkat defisit dan utang saat ini jauh lebih tinggi dibanding tahun 2007.
   Sementara itu, Manajer unit Global Macroeconomics Bank Dunia dan penulis utama laporan, Andrew Burns, mengatakan, untuk memastikan ketahanan terhadap risiko, negara-negara berkembang perlahan harus membangun kembali sanggahan fiskal dan moneter, serta memperbaiki jaringan pengaman sosial dan ketahanan pangan.(T/R-022/R-008).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply