CENDEKIAWAN MUSLIM DUNIA DESAK SOLUSI DAMAI MALI

    KAIRO, 6 Rabiul Awal 1434/18 Januari 2013 (MINA) – Badan Cendekiawan Muslim internasional telah menyerukan untuk mencapai solusi damai atas konflik di Mali dan mengutuk intervensi militer Perancis di negara Afrika.

   “Sebuah solusi damai dan rekonsiliasi nasional adalah satu-satunya kunci untuk memecahkan masalah di Mali,” demikian isi seruan dari persatuan cendikiawan muslim internasional/International Union for Muslim Scholars (IUMS) kepada OnIslam.net yang dikutip oleh Mi’raj News Agency (MINA).
   Lembaga yang beralamat di Dublin itu mengatakan bahwa IUMS mengecam langkah Perancis yang tergesa-gesa memulai perang sebelum mencoba segala cara untuk mencapai solusi damai dan rekonsiliasi nasional.  
   Sumber IUMS menambahkan bahwa intervensi militer Perancis telah meningkatkan risiko serangan terhadap warga asing di wilayah tersebut. Pada Rabu, militan menyandera beberapa orang asing yang berdekatan dengan Aljazair, karena mereka menuntut penghentian dan penarikan militer Prancis di Mali.
   Sebuah kelompok yang menamakan dirinya “Battalion of Blood” mengatakan telah menangkap 41 orang asing, termasuk warga Amerika, Jepang dan Eropa, setelah menyerbu sebuah stasiun pompa gas alam dan markas karyawan sebelum fajar pada Rabu kemarin.
   Para penyerang itu disebutkan telah menuntut agar Prancis mengakhiri kampanye militernya di Mali. Tetapi pada Kamis, beberapa sandera dilaporkan telah melarikan diri dari pabrik gas yang terkepung itu.
   Sementara itu, Televisi Algeria Ennahar mengatakan dalam insiden itu ada 15 warga asing, termasuk dua warga Perancis yang telah melarikan diri dari pabrik yang terkepung di gurun Sahara.
   “Sekitar 40 warga Algeria juga telah dibebaskan, terutama perempuan yang bekerja sebagai penerjemah,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu.
   Sebuah sumber keamanan mengatakan kepada Reuters bahwa para penculik itu dikelilingi oleh tentara Algeria yang menuntut agar perjalanan bisa aman untuk keluar dengan tawanan mereka. Algeria telah menolak untuk bernegosiasi.

   Perdamaian

   IUMS telah memperingatkan bahaya dari intervensi militer asing pada stabilitas di kawasan. “Ini akan menyebabkan pembunuhan, pengrusakan dan membuat warga sipil tak berdosa menjadi tunawisma,” kata pernyataan itu.
   Sementara itu, PBB mengatakan sekitar 30.000 orang telah melarikan diri dari pertempuran terakhir di Mali dan mereka bergabung dengan lebih dari 200.000 pengungsi.
   Para ulama telah menegaskan kesiapan untuk menawarkan bantuan demi mencapai solusi damai atas konflik Mali. “IUMS siap melanjutkan upaya untuk mencapai rekonsiliasi,” kata lembaga yang dipimpin oleh tokoh ulama Sheikh Yusuf Al-Qaradhawi itu.
   “Kami juga menyerukan kepada Organisasi Kerjasama Islam dan negara-negara Afrika untuk bekerja sama menghentikan perang, mencapai rekonsiliasi dan mencapai solusi yang memuaskan semua pihak,” demikian di antara isi dalam pernyataan IUMS.
   Pada Selasa, Mali yang merupakan salah satu negara anggota OKI menyerukan gencatan senjata di negara Afrika untuk membantu menyelesaikan konflik. “Kami juga mendesak kelompok-kelompok bersenjata untuk menggunakan akal sehat dan kebijaksanaan dan menerima rekonsiliasi serta mau berdialog untuk membantu mencapai solusi yang adil dan damai,” kata IUMS.
   Mali, pernah dianggap sebagai contoh yang baik dalam sistem demokrasi di Afrika, kemudian runtuh dalam kekacauan setelah tentara melakukan kudeta terhadap presiden pada Maret dan meninggalkan kekosongan kekuasaan di utara yang memungkinkan oposisi menguasai hampir dua pertiga negara.(T/R-012/R-008).

Miraj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply