PENGACARA INTERNASIONAL KUMPULKAN BUKTI KEJAHATAN ISRAEL

       Gaza, 3 Rabiul Awal 1434/14 Januari 2013 (MINA) – Para pengacara internasional yang tergabung dalam Asosiasi Pengacara Internasional (International Lawyers’ Association/ILA), di Turki, melakukan perjalanan ke Gaza dalam rangka mengumpulkan bukti kejahatan Israel di Gaza.
       Sekretaris Jenderal ILA Necati Ceylan, menyebutkan delegasi yang terdiri dari 10 pengacara itu, terdiri dari 7 orang Turki, 2 orang Mesir dan 1 Arab Saudi, akan mengadakan pembicaraan dan melakukan pengamatan selama dua hari di Gaza.

       Salah satu anggota ILA Prof Dr Refik Korkusuz yang juga Dekan Fakultas Hukum di Yeni Yuzyil University kepada Anadolu Agency (AA), yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA) mengatakan, delegasi hukum tiba di Gaza untuk mendokumentasikan kejahatan dan pelanggaran yang telah dilakukan Israel.
       “Jika ditemukan bukti cukup meyakinkan, kita akan mulai usut prosedur hukum terhadap Israel yang telah melakukan kejahatan. Kami akan siapkan laporan rinci dan kirim ke pejabat Turki yang berwenang,” kata Korkusuz yang juga anggota dari Dewan Eksekutif Anadolu Agency.
       Israel telah menggempur Gaza selama delapan hari mulai hari Rabu (14/11/2012) sampai Rabu (21/11/2012) melalui operasi militer.
       Agresi militer itu dilakukan lewat serangan udara dan laut yang telah menewaskan 130 orang, 27 di antaranya anak-anak, serta korban luka-luka mencapai lebih dari 1000 orang. Sementara dari pihak Israel, lima orang tewas dan belasan lainnya luka-luka.
       Agresi militer Israel itu mendapat dukungan dari negara-negara Barat seperti AS, Inggris, dan Uni Eropa karena dianggap sebagai hak Israel untuk membela diri. Hal ini berdasarkan klaim dari Israel bahwa mereka harus menyerang untuk mempertahankan diri dari serangan roket Hamas seminggu sebelum operasi militer.
       Serangan Israel ke Gaza juga menewaskan komandan Hamas Ahmed Jabari, setelah dibom oleh serangan udara tentara Israel hanya beberapa jam setelah ia menerima rancangan perjanjian gencatan senjata jangka panjang dengan Israel. Israel justru lebih memilih agresi militer daripada perjanjian damai.
       Klaim bahwa Israel membela diri juga sulit untuk diterima karena faktanya mereka menjajah Palestina dan kini berusaha mempertahankan wilayah jajahannya melawan penduduk yang telah mereka jajah. (T/R-014/R-008/R-005).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply