GAJI DITAHAN, PEKERJA DI PALESTINA ANCAM MOGOK MASAL

  Ramallah, 26 Shafar 1434 H/8 Januari 2013 (MINA) – Selama dua hari dalam minggu ini, pegawai negeri di Tepi Barat hanya akan bekerja setengah hari, hal tersebut  merupakan aksi mogok akibat penundaan gaji yang akan dilaksanakan minggu depan, serikat pekerja mengatakan pada hal itu pada Senin (7/1).

    “Pada hari Rabu dan Kamis, pegawai pemerintah akan berhenti bekerja pada tengah hari,” kata ketua serikat pekerja Bassam Zakarneh.
    Selasa depan mereka piket di bagian Dewan Legislatif Palestina di Ramallah dan kantor gubernur di semua distrik di Tepi Barat dari pukul 11:00 sampai 01:00 waktu setempat.
     “Kemudian dua hari berikutnya kami akan mogok total,” katanya.
     Zakarneh mengatakan aksi mogok merupakan protes atas perampasan pajak penghasilan oleh Israel sejak Desember, dan ini merupakan bentuk panggilan ke negara-negara Arab dan pemerintah Palestina untuk menyelesaikan krisis keuangan.
    Sejak awal Desember, Israel telah menahan sekitar $ 100 juta dalam pendapatan pajak bulanan yang dikumpulkan atas nama Otoritas Palestina sebagai hukuman atas penerimaan Palestina di PBB menjadi Negara pengamat.
    Zakarneh menambahkan bahwa pegawai yang dibayar hanya seperampat biaya gaji mereka dan beberapa perkerja tidak bisa membeli kebutuhan sehari-hari dan biaya hidup.
    Dewan serikat pekerja telah membahas kondisi keuangan dalam krisis kebijakan perusahan pemerintah dengan kementerian perwakilan.
    Para pekerja yang melakukan pemogokan itu memprotes Israel agar tidak ada menahan pajak untuk menyelesaikan krisis serta mereka meminta agar gajinya dibayar secara penuh.

    Gaji Guru Terhambat
    Sementara itu, para guru di Tepi Barat pun berjuang untuk menutupi biaya hidup karena keterlambatan pembayaran gaji akibat krisis finansisal di Palestina.
    Para guru di utara kota Jenin menggambarkan kisah kepedihan mereka secara emosional tentang perjuangan menuntut pembayaran gaji kepada kantor berita Ma’an. Seorang guru yang bernama Issam Nasar mengatakan dia khawatir tentang kesehatan anak-anaknya, uang gajinya tidak cukup lagi untuk menutupi biaya kebutuhan hidup.
    “Saya malu kepada anak-anak saya, yang terus meminta saya untuk membelikan hal-hal yang saya tidak bisa membelinya untuk mereka. Anakku yang paling muda sakit minggu lalu dan aku tidak bisa membawanya ke dokter, saya merawatnya hanya dengan obat herbal,” katanya.
    “Saya meminjam uang dari semua teman dan kerabat sampai utang saya mencapai 7.000 shekel (Rp 17500000 red) sejauh ini. Saya tidak punya kehidupan sosial, saya tidak meninggalkan rumah saya. Saya hanya pergi ke sekolah dan kembali ke tempat tidur untuk berpikir bagaimana saya akan memberikan keluarga saya makanan.”
    Jamal Mahmoud, yang juga mengajar di Jenin, mengatakan, “Saya menghidupi tiga anak yang sedang kuliah dan situasinya sulit, saya tidak mampu membayar uang untuk transportasi, dan saya harus meminjam uang untuk anak-anak membayar transportasi mereka.”
     Guru lainnya mulai menangis ketika ditanya tentang situasi keuangannya. “Aku adalah satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga, ibu saya masih hidup dan saya punya anak yang menderita penyakit kronis, anak saya dan ibu saya keduanya butuh obat dengan biaya lebih dari 700 shekel per bulan, jadi saya tidak dapat merawat mereka dengan perawatan medis. “
     Palestina mengalami krisis keuangan yang cukup parah bahkan sebelum Israel melakukan blokade, dan telah menunda pembayaran 153.000 pekerja yang tertunda selama 2 bulan dalam beberapa tahun terakhir ini.(T/R-009/R-008).

Miraj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply