HUBUNGAN AS-ISRAEL DIAMBANG PERPECAHAN

Oleh Widi Kusnadi

Amerika Serikat (AS), baru saja menyelesaikan pesta demokrasi. Barrack Obama kembali terpilih menjadi presiden untuk kedua kalinya. Harapan rakyat AS kepada Obama sangat besar, sebab di mata rakyatnya, Obama adalah sosok yang tepat untuk menjadi lokomotif  perjuangan AS menghadapi krisis ekonomi.

Thomas Friedman, seorang wartawan, juga penulis terkenal AS berdarah Yahudi menulis sebuah essay yang di muat oleh New York Times 11 November 2012 lalu dengan judul “Obama is Busy”. Tulisan tersebut menyinggung hubungan AS – Israel dan lobi-lobi mereka untuk menguasai Palestina.

“Akhirnya, kita rakyat AS harus mengerjakan pekerjaan rumah kami sendiri. Dalam waktu dekat ini AS menentukan kebijakan pajak untuk mendongkrak anggaran pendapatan pemerintah dan hal itu harus segera kami lakukan. Kami harus lebih selektif untuk ikut campur urusan negara lain. Itu artinya, AS hanya akan mendukung Israel dan Palestina kearah perdamaian saja,” kata Friedman.

Dari tulisan tersebut, Friedman ingin menjelaskan, sebenarnya AS sudah bosan dalam mendukung Israel. Sudah puluhan perjanjian damai Palestina-Israel yang dibuat atas bantuan AS, tapi hasilnya nihil. AS juga mendapat banyak pelajaran dari invasi Afganistan dan Irak. Agresi ke Afganistan dan Irak adalah penyebab utama terjadinya krisis ekonomi AS. “Kita sudah terlalu banyak menguras energi dan biaya yang seharusnya bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan internal AS sendiri,” jelasnya dalam tulisan tersebut.

Pemilu di Israel

Di sisi lain, Israel juga telah melaksanakan pemilu yang sangat “membosankan”. Betapa tidak, jauh hari hasilnya sudah bisa di tebak dan tidak ada sesuatu yang baru dari hasil pemilu tersebut. Tidak ada tantangan yang berarti dalam pemilu itu dan Benyamin Netanyahu dipastikan akan menjadi Perdana Menteri untuk yang ketiga kalinya.

Ketika mengomentari pemilu Israel, Andrew Gardner, dalam sebuah tulisannya di EuropeanVoice.com (24/1) mengatakan, “Tidak ada kemajuan yang bisa diharapkan dari pemilu Israel. Uni Eropa tampaknya akan terus mengutuk kebijakan Israel yang terus memaksa membangun pemukiman di atas tanah Palestiana,” tegasnya.

Netanyahu dalam beberapa kampanyenya selalu mengatakan bahwa pemerintahannya akan terus melanjutkan pembangunan pemukiman di daerah yang di kenal dengan E1. Selain itu ia juga merencanakan untuk melakukan serangan terhadap Iran yang di klaim mengembangkan nuklir untuk kepentingan militernya.

Dari program-program Netanyahu, tampaknya ia akan berhadapan tidak saja dengan rakyat Palestina, tetapi juga masyarakat internasional tidak terkecuali AS yang selama ini menjadi pendukung setianya. Bahkan Obama menyebut Netanyahu sebagai seorang pengecut karena ia tidak mematuhi perjanjian damai yang dijembatani AS, seperti dilaporkan surat kabar Israel Haaretz (17/1).

Obama dipastikan akan berkonsentrasi dalam upaya mengatasi krisis ekonomi di negaranya dan Netanyahu akan terus memaksakan programnya membangun pemukiman dan menginfasi Iran.

Lantas akankah kedua negara itu masih menjalin hubungan mesra. Ataukah mereka akan menjadi seteru dalam kancah perpolitikan dunia. Kita tunggu saja kisah selanjutnya.(R-08).

 

Miraj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply