INVESTOR PASAR MODAL SYARIAH BERKEMBANG PESAT

    Jakarta, 6 Rabiul Awal 1434/18 Januari 2013 (MINA) – Perkembangan pasar modal syariah di Indonesia terus bekembang seiring berkembangnya investor yang bergabung di Bursa Efek Indonesia (BEI). Demikian dikatakan Gunawan Yasni anggota Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada MINA, Kamis (17/1).

   Menurutnya, investor pasar modal ini berkembang sangat pesat selama akhir 2012 dibandingkan pada tahun 2011. Ia menambahkan, pasar modal syariah pada tahun 2012 menyumbangkan keungan yang paling tinggi mencapai 55 % dibanding tahun lalu, perbankan syariah 33% dan asuransi 22%.  
   Pasar modal syariah dengan perbankan konvesional lebih besar dari pertumbuhannya dari pada asuransi. Pada akkhir tahun 2012 perbankan syariah mencapai 4,4% dengan pasar modal obligasi sukup syariah perbankan dan perusahaan  mencapai 12%.
   “Bentuk kerjasama yang konkrit melalui saham-saham pasar modal syariah sama dengan metode BEI pada  setiap 6 bulan sekali pada bulan Mei dan November BAPEPAM-LK (Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan) dengan MUI menetapkan pada tahun ini akan mengeluarkan yang namanya daftar efek syariah dengan surat persetujuan dari MUI,” jelas Gunawan.
   Menurutnya, saham-saham bisa dikategorikan sesuai dengan prinsip syariah, jumlah BEI yang diperdagangkan mencapai sekitar 60 % dan sesuai dengan prinsip Syariah, sesuai dengan fatwa MUI no. 20,40,dan 80.
   Sementara itu, masyarakat yang ingin menjual dan membeli saham-saham memiliki provider perusahaan pasar modal syariah dengan online trading sistem berbasis syariah. Lima perusahaan yang menyelenggarakan sistem pasar modal di antaranya Indo premier skuritis, E-trading skuritis, BNI Skuritis, Panin Skuritas dan Mandiri Skuritas.
   Sebelum adanya sistem pasar modal dengan online trading hanya menggunakan investor melakukan syariah konvesional dan diresmikan pada awal tahun 2011 mencapai ratusan rekening efek yang dibuka untuk investor syariah dan pada tahun 2012 mencapai 40.000 rekening.
   Yasni yang juga dosen senior ekonomi dan keuangan syariah UI itu menambahkan, ada beberapa kendala dalam sistem pasar modal ini, kendala edukasi dan kemudahan akses saham perdagangan pasar modal yang tidak sama dengan bank lain, hanya baru memiliki lima cabang. “Perusahaan di daerah yang jauh tidak terlalu mudah untuk mengakses online trading,” paparnya.
   Selain itu menurutnya, dalam mengatasi masalah tersebut, anggota Dewan Syariah Nasional Indonesia (DSNI), MUI bekerjasama dengan BEI dengan membuka sekolah pasar modal dan syariah di berbagai daerah di Semarang, Bali, Medan, Makasar sejak akhir tahun 2010 dan bekerjasama dengan cabang-cabang yang ada di daerah sehingga masyarakat bisa mudah mengakses.
   Menurut anggota Dewan Pengawas/Penasehat Syariah di beberapa lembaga keuangan itu, dengan bersatunya perbankan, asuransi dan pasar modal, regulator jasa keuangan lebih banyak sumberdaya, fokus dan dalam upaya mengembangkan pasar modal.
   Pria yang memiliki sertifikasi sebagai Certified Islamic Financial Analyst dari Pasca Sarjana Kajian Timur Tengah & Islam Universitas Indonesia mengharapkan agar Bapepam bisa mengembangkan pasar modal syariah denga cepat dan Bank Indonesia lebih mengambangkan bank syariah.(L/R-016/R-008).

Miraj News Agency (MINA) 

 

 

 

Leave a Reply