JAWA BARAT PUNYA PERAN BESAR DALAM PERJUANGAN PEMBEBASAN PALESTINA

Imaam Tasik       Tasikmalaya, Jawa Barat, 17 Rabiul Awwal 1434/ 29 Januari 2013 (MINA) – Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) H. Muhyiddin Hamidy mengatakan Jawa Barat mempunyai peran yang sangat besar dalam perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina.

 

     “Dengan izin Allah, lokasi di Jawa Barat punya sejarah yang sangat barokah,” kata Imaam Muhyiddin Hamidy saat berbicara pada  acara puncak Tabligh Akbar “Pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina” di Masjid Baiturrohman Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Ahad (27/1).

 

       Di Jawa Barat telah diselenggarakan Konferensi Asia Afrika yang pertama pada tahun 1955. Konferensi tersebut merupakan konferensi anti penjajahan, anti imprealisme dan anti kolonialisme.

 

      Setelah Konferensi Asia Afrika dilaksanakan, puluhan negara di berbagai belahan dunia termasuk di kawasan Amerika Latin melepaskan diri dari belenggu penjajahan menjadi negara merdeka kecuali satu negara yang belum merdeka yaitu Palestina.

 

       Selain menjadi tempat bersejarah dimana Konferensi Asia Afrika pertama digelar, Jawa Barat juga mempunyai peristiwa bersejarah terbaru yaitu Konferensi Pembebasan Al-Aqsha dan Palestina yang dilaksanakan pada 4-5 Juli 2012 lalu.

 

       Sekitar 300 peserta dari perwakilan 20 negara hadir dalam konferensi yang dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat. Konferensi tersebut telah menghasilkan Deklarasi Bandung untuk  pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina.

 

     Deklarasi itu ditandatangani sebelas tokoh dari perwakilan dunia termasuk tokoh sentral Jawa Barat, Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), Prof. Dr. Maman Abdurrahman.

       Acara Tabligh Akbar kali ini dihadiri oleh banyak perwakilan kalangan pesantren dan alim ulama, Insya Allah mempunyai keberkahan tersendiri.

 

      Tabligh Akbar Pembebasan Al-Aqsha dan Palestina yang mengusung tema sentral “Kesatuan Muslimin dalam wujud Khilafah Alaa Minhaajin Nubuwwah bagi solusi pembebasan Masjid Al-Aqsa dan Palestina dari Cengkeraman Zionis Yahudi” ini merupakan puncak dari acara sosialisi pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina yang dimulai Jum’at hingga Ahad (25-27/1).

 

       Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Jama’ah Muslimin (Hizbullah) wilayah Jawa Barat dan mendapat dukungan dari Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya serta institusi berskala internasional untuk pembebasan Al-Aqsha dan Palestina yakni Aqsa Working Group (AWG), Mi’raj News Agency (MINA), serta Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).

 

Masjid Al-Aqsa adalah hak Muslimin

 

       Tabligh Akbar ini bertujuan mendakwahkan tegaknya Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah, dalam wadah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai sentral komando Muslimin bagi solusi permasalahan umat dan menyampaikan persepsi masyarakat Muslim bahwa Masjid Al-Aqsa adalah hak Muslimin.

 

       Sebagai pemateri yang hadir yaitu, Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) H. Muhyiddin Hamidy, Bupati Kab. Tasikmalaya H. Uu Ruzhanul Ulum, KH. Abul Hidayat Saerodjie, Pemerhati Islam dan Pimpinan Lembaga Bimbingan Ibadah dan Penyuluhan Islam (LBIPI) Pusat, dr. Joserizal Jurnalis (Presidium MER-C), Abdurrahman Sony Sugema, MBA. (Ketua AWG Jabar).

 

      Selain Tabligh Akbar, di Masjid Agung yang terbesar menampung Jama’ahnya di Tasikmalaya itu juga dilaksanakan pemutaran film dokumenter serta pameran foto Masjid Al-Aqsha dan perjuangan Palestina, bazaar buku Islami dan Bakti Sosial pelayanan kesehatan pengobatan thibbun nabawi.

 

       Dalam taushiah pada acara Tabligh Akbar, Imaam Muhyiddin Hamidy juga menyampaikan fakta dan data yang penting dalam proses pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina.

 

      “Barokah lainnya dari Jawa Barat, sesudah konferensi Bandung untuk Pembebasan Al-Aqsha, paling tidak ada sepuluh peristiwa besar yang terjadi,” tegas Imaam Muhyiddin Hamidy.

 

       Dari sepuluh peristiwa besar itu di antaranya, pada 22 Juli 2012, tepat 17 hari setelah konferensi Bandung untuk Pembebasan Al-Aqsha dan Palestina, Jaksa Agung Israel Yehuda Veinstein secepatnya mengeluarkan pernyataan mengklaim daerah Al-Quds yang di dalamnya terdapat Masjid Al-Aqsha sebagai daerah Zionis Israel.

 

      “Tetapi kita tidak mengakuinya, sama sekali dan itu dianggap angin lalu saja. Salah satu Keputusan Konferensi Bandung, pembebasan Masjid Al-Aqsha secepatnya terwujud dibawah pimpinan Jama’ah Muslimin di Indonesia,” tegas Imaam Muhyiddin Hamidy.

 

      Salah satu poin penting Deklarasi Bandung untuk Pembebasan Al-Aqsha dan Palestina, para peserta sepakat Khilafah harus secepatnya dikembangkan, ditegakkan dengan sempurna.

 

      Imaam Muhyiddin Hamidy yang telah diberi mandat memimpin pembebasan Al-Aqsha mengatakan, bukan hanya Jama’ah Muslimin (Hizbullah) yang membuat keputusan itu melainkan seluruh peserta yang hadir dari dalam maupun luar negeri menandakan penegakkan khilafah diambil alih Muslimin sedunia melalui konferensi Bandung.

 

      Pada 29 November 2012, Palestina berhasil mendapatkan suara setuju 138 negara dari keseluruhan 198 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (2/3 suara) yang melakukan pemungutan suara dalam peningkatan status Palestina pada sidang umum PBB ke-67.

       Sedangkan, sebanyak 9 negara menolak (termasuk Israel, Amerika Serikat dan Kanada), 41 negara abstain, dan 10 negara tidak menghadiri acara tersebut.

 

      Kini, Palestina sudah menjadi negara yang diakui dunia, hanya satu tahap lagi untuk bisa merdeka secara penuh. Peristiwa itu menandakan apa yang dikerjakan setelah Konferensi Bandung untuk Pembebasan Al-Aqsha dan Palestina berangsur maju tidak mundur.

 

Perang delapan hari di Gaza

 

       Peristiwa bersejarah lainnya yaitu saat Israel mencoba kembali menduduki Gaza, selama serangan Israel yang berlangsung delapan hari pada 14-21 November 2012 lalu, Israel telah membunuh sedikitnya 182 orang dan melukai 1.399 orang.

 

      Agresi biadab Israel itu berakhir dengan permintaan Israel untuk melakukan gencatan senjata (Cease Fire), bahkan Israel meminta berunding termasuk Amerika Serikat dengan mediator Mesir di Kairo.

 

      “Kalau selama ini mereka berhenti melakukan penyerangan sampai kita menyerah, sekarang mereka berhenti, minta berunding sebelum mereka jatuh” kata Imaam Muhyiddin Hamidy.

 

      Sementara itu, Fatah dan Hamas telah menyepakati proses rekonsiliasi di Kairo pada 12 Januari 2013. Peristiwa rekonsiliasi Palestina yang terjadi baru-baru ini, walaupun belum sempurna, membuat takut dan khawatir negara-negara Barat, terutama Israel dan sekutunya AS.

 

     “Negara-negara Barat, apalagi Israel sudah takut luar biasa. Hal itu juga menandakan pembebasan Palestina sangat maju, makin hari makin dekat atas Izin Allah,” kata Imaam Muhyiddin Hamidy.

 

      Peristiwa bersejarah lainnya, saat proses rekonsiliasi Palestina berjalan, Benjamin Netanyahu terpilih kembali menjadi Perdana Menteri Israel dalam pemilu Zionis Israel yang dilaksanakan pada 22 Januari 2013 lalu.  Ini sebenarnya merupakan refleksi atau reaksi atas terwujudnya rekonsiliasi Palestina agar Israel lebih keras lagi dalam  penjajahan di Masjid Al-Aqsha dan Palestina.

 

       Tapi tak apa-apa, itu yang disebut oleh Wali Al-Fattaah (Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) yang pertama, sebagai petikan kematian, jadi orang yang kematiannya jelek (su’ul khotimah) itu sangat gelisah. Netanyahu terpilih kembali merupakan petikan terakhir dari pluit Israel yang insya Allah akan berhenti dengan izin-Nya.

 

      Revolusi Mesir 2012 lalu dimana Husni Mubarak yang sudah berkuasa selama 30 tahun akhirnya mundur setelah pecahnya unjuk rasa massal rakyat Mesir sejak tanggal 25 Januari 2011 dan berakhir saat Mubarak resmi mundur dari jabatannya sebagai Presiden pada 11 Februari 2011 lalu. 

 

     Muhammad Mursi menjadi pengganti Presiden Mesir terdahulu telah memberi dampak luar biasa bagi proses pembebasan Al-Aqsha dan Palestina, terutama masyarakat Gaza yang terblokade sejak tahun 2006.

 

       “Dulu orang tidak bisa keluar masuk Gaza, kini mereka bebas keluar masuk. Dulu tidak bisa kirim barang, kini bisa masuk. Mursi tidak bisa ditipu AS, tidak seperti  Mubarak,” tegas Imaam Muhyiddin Hamidy.

 

      Poin penting Deklarasi Bandung lainnya, peserta Konferensi Bandung sepakat melalui wadahnya berkewajiban membela Islam dan Muslimin di manapun berada, seperti di Palestina, Myanmar, Filipina Selatan, Thailand, India, Irak, Iran dsb. (L.P06/P02/E1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply