KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH MEMIMPIN PEMBEBASAN AL-AQSHA

Oleh Ali Farkhan Tsani

Muqaddimah

Islam meliputi seluruh aspek ibadah. Mulai dari Rukun Islam hingga puncaknya jihad di jalan Allah. Sebagaimana saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabbal Radhiyallahu ’Anhu tentang jihad sebagai puncak urusan.

 أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ؟ قُلْتُ : بَلَى يَا رَسُولَ الله . قَالَ : رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ.

Artinya : “Sukakah aku kabarkan kepada engkau kepala segala urusan, tiangnya dan puncak ketinggiannya?” Saya (Muadz) berkata: “Pastilah, Duhai Rasulullah!” Jawab Rasulullah, “Kepala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak ketinggiannya adalah Jihad.”(HR At-Tirmidzi).

Hadits ini menerangkan puncak ketinggian dalam Islam adalah jihad. Jihad juga adalah satu amalan yang menjanjikan kemuliaan kepada hamba-Nya yang mengamalkannya. Dengan Jihad Islam dan umatnya akan menjadi tinggi, terhormat, lagi mulia di hadapan seluruh umat yang lain di bumi ini. Sedangkan tanpa Jihad, Islam dan umatnya akan menjadi hina tanpa wibawa, terombang-ambing bagai buih di hempasan gelombang, bagai makanan di atas meja menjadi keroyokan. 

Mungkin, kita pernah membayangkan, seperti juga yang pernah dibayangkan oleh sahabat mulia, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Bahwa suatu ketika ia melihat ada salah seorang berjalan-jalan di satu lembah, tampak olehnya sebuah mata air yang indah sehingga mengkagumkan dia. Abu Hurairah berkata, “Seandainya saya mengasingkan diri dari umat dan tinggal di lembah ini”. Akan tetapi setelah disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau memberikan nasihat :

لاَ تَفْعَلْ فَإِنَّ مُقَامَ أَحَدِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ سَبْعِينَ عَامًا. أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ الْجَنَّةَ ؟ اغْزُو فِي سَبِيلِ اللهِ مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَوَاقَ نَاقَةٍ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ.

Artinya : “Janganlah engkau melakukannya, karena sesungguhnya kedudukan seseorang kalian (yang berjuang) di jalan Allah adalah lebih utama daripada melakukan shalat dalam rumahnya  selama 70 tahun. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunkan bagi engkau dan memasukkan engkau ke dalam Syurga? Berperanglah di jalan Allah, barangsiapa yang berperang di jalan Allah selama waktu memerah susu unta saja, maka wajib baginya syurga.” (Hadits Sahih Riwayat At-Tirmizi).

Sebaliknya, jika enggan melaksanakan jihad, maka akibatnya keburukan bagi dirinya sendiri seperti yang beliau sabdakan :

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ ، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ . 

Artinya : “Bila kalian berjual‑beli dengan ‘inah (yakni riba dan penipuan), mengikuti ekor‑ekor sapi, menyukai bercocok tanam, dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan ke atas kalian yang tidak akan dicabut sehingga kalian kembali kepada agamamu.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Adapun jihad itu sendiri haruslah dengan sungguh-sungguh, istiqamah, hanya karena Allah, tidak ada unsur-unsur pribadi, partai, dan politik. Akan tetapi semata-mata karena ingin meninggikan kalimah Allah, apapun yang terjadi. Seperti disebutkan dalam hadits :

عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً فَأَيُّ ذَلِكَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةَ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

Artinya : Dari Abu Musa Radhiyallahu ‘Anhu berkata, bahwasanya seorang pemuda datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, (bagaimanakah jika) seseorang berperang karena kekesatriaannya, dan seseorang berperang berperang karena keberaniannya, dan seseorang berperang karena ingin mendapatkan pujian (riya’)?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Barang siapa yang berperang karena ingin menegakkan kalimatullah, maka dia fi sabilillah”. (HR. Bukhari).

Apalagi dalam perjuangan besar membebaskan Masjid Al-Aqsha dari cengkeraman penjajahan Zionis Isarel. Haruslah dilawan dengan kesungguhan jihad secara berjama’ah, terpimpin, semata-mata karena Allah.

Pentingnya satu pimpinan dalam perjuangan Islam ini khususnya dalam pembebasan Masjid Al-Aqsha, telah disepakati pula dalam “International Conference for The Freedom of The Al-Quds and Palestine” di Bandung bulan Sya’ban 1433 lalu. Antara lain dikemukakan oleh DR Syeikh ’Aly Al-Abbasy (Imam Masjid Al-Aqsha Palestina), DR Ribhi Halloum (Koordinator Global March to Jerussalem Internasional asal Jordania), DR Daud Abdullah (Direktur Middle East Monitor London), DR Mahmoud Anbar (Universitas Islam Gaza), dan lainnya.

Kesimpulan mereka Tertuang di dalam Deklarasi Bandung untuk Pembebasan Al-Aqsha yang antara lain berbunyi, ”Guna menyatukan langkah perjuangan pembebasan Al-Quds atau Al-Aqsha dan Palestina tersebut disepakati mengamanahkan kepada Muhyiddin Hamidy (selaku Imaamul Muslimin atau Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah)) sebagai pemimpin bagi upaya-upaya untuk mempercepat pembebasan Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina yang didukung oleh organisasi-organisasi internasional yang peduli dalam permasalahan Palestina”.

 DR Ribhi Halloum dari Jordania, mantan duta besar Palestina di beberapa negara di dunia, yang beberapa bulan lalu mengkoordinir ratusan ribu manusia bergerak ke perbatasan Jordania-Palestina dalam agenda Global March to Jerussalem (GMJ), secara resmi mengirim surat kepada Jama’ah Muslimin (Hizbullah), yang isinya beliau siap diperintah dan menunaikan amanah dari Imaamul Muslimin untuk perjuangan pembebasan Al-Aqsha.

Demikian pula muslimah pejuang dari Islamic International University Malaysia, DR Rahimah binti Embong, yang menyediakan hampir seluruh waktu, tenaga, pikiran dan aktivitasnya untuk perjuangan pembebasan Al-Aqsha. DR Rahima di Malaysia beserta pulusan Lembaga yang peduli Palestina dan ratusan umat Islam di Malaysia pun siap berjuang di bawah arahan Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah atau Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

Pertolongan Allah 

Apa maknanya segala pertolongan Allah ini untuk kita semua? Ini artinya bahwa insya Allah, Allah sedang mengantarkan Khilafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah ini berada di pusaran perjuangan umat Islam, bersama kaum muslimin di segala penjuru alam ini, tidak lagi sendiri-sendiri, untuk berjuang mengembalikan Al-Aqsha ke pangkuan kaum muslimin dan memperjuangkan nasib muslimin internasional.

Kekuatan dan kekuasaan siapakah gerangan yang dapat menggerakkan sekitar 300 peserta Konferensi Bandung yang berasal dari sekitar 15 negara di dunia itu untuk menetapkan Imaamul Muslimin sebagai Mandataris Konferensi? Kekuatan dan kekuasaan siapakah yang sanggup menaklukkan jiwa-jiwa para utusan dari berbagai Organisasi, Lembaga, baik pemerintah maupun swasta, maupun individu-individu, untuk bergerak dalam Pembebasan Al-Aqsha di bawah komando Khilafah ’Alaa Minhaajin Nubuwwah?

Jawabnya tidak lain dan tidak bukan adalah ayat-ayat, tanda-tanda kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.

وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُوْنَنِيْ لاَ يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْئًا وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ

Artinya : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar [keadaan] mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang [tetap] kafir sesudah [janji] itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur (24) : 55).

Berkaitan dengan ayat tersebut, Ibnu Katsir di dalam Tafsir Al-Quranul ‘Adzim menjelaskan,ayat ini berkaitan dengan keadaan umat Islam tatkala masih berada di Mekkah. Selama lebih kurang 10 tahun lamanya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mengamalkan ajaran Islam, secara sembunyi-sembunyi.  Mereka dalam keadaan terdzalimi, tersiksa, dan serba penuh ketakutan. Namun belum diperintahkan untuk melawan dan berperang. 

Hingga akhirnya, Allah memerintahkan mereka berperang setelah mereka berhijrah ke Madinah. Sejak saat itu, kaum muslimin malah hidup tetap dalam ketakutan. Karena mereka harus berjalan dan bangun tidur dengan menyandang senjata. Dalam keadaan seperti itulah, seorang shahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah, sepanjang waktu kami terus berada dalam ketakutan, lantas, kapan kami bisa merasakan keamanan dan bisa meletakkan senjata kami?”  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menjawab, “Sesungguhnya, tidak akan pernah kalian bersabar kecuali kalian akan mendapatkan kemudahan. Hingga  seorang laki-laki di antara kalian dalam keadaan kaki terikat dikepung oleh pasukan yang besar, dan tidak ada satupun pelindung”.  Lalu, turunlah ayat ini.  Tak lama kemudian, setelah melalui seleksi iman dan amal sholeh, Allah Ta’ala akhirnya memenangkan Nabinya dan kaum muslimin atas seluruh jazirah Arab. Hingga kaum muslimin pun hidup aman, dan bisa meletakkan senjata mereka. 

Perjuangan mengangkat kehormatan dan Muslimin melalui jihad dengan diri dan harta terus berlangsung, hingga kepemimpinan Islam itu meliputi dan menjadi rujukan bagi segenap kaum muslimin dan umat-umat lainnya dengan membawa misi rahmatan lil ‘alamin.

Lihatlah bagaimana perjuangan Khalifah Umar bin Khattab ketika membuka Palestina, pengorbanan Shalahuddin Al-Ayyubi ketika untuk kedua kalinya membebaskan Al-Aqsha, panglima muda Muhammad Al-Fatih ketika menaklukkan benteng Konstantiniopel. Dan insya Allah, seperti tertuang dalam Deklarasi Bandung tadi, era kepemimpinan Khilafah ‘Alaa Minhajin Nubuwwah di bawah pimpinan Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy. Amin.

Hal ini insya Allah seperti yang dijanjikan di dalam cuplikan hadits shahih :

…ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Artinya : “…..Kemudian terjadi fase Khilafah yang mengikuti jejak kenabian”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyimpulkan, “Harus diketahui bahwa kepemimpinan umat Islam merupakan salah satu kewajiban dien (agama) yang agung, bahkan dien (agama) tidak dapat ditegakkan kecuali dengan kepemimpinan. Hal ini karena tidak sempurna kemaslahatan anak keturunan Nabi Adam kecuali dengan berkumpul, karena sebagian mereka membutuhkan sebagian yang lainnya. Dan dalam perkumpulan ini harus ada pemimpinnya atau Imaamnya atau Khalifahnya.”

Dengan demikian, maka jelaslah posisi Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai perwujudan Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah benar-benar secara realita berada di tengah-tengah medan jihad fil ardh, bersama kaum muslimin lainnya. Hal ini seperti yang dimaklumatkan pada awal ditetapinya Hizbullah tahun 1953 yang antara lain berbunyi, “Bahwa Hizbullah tegak berdiri di dalam lingkungan kaum muslimin, di tengah-tengah antar golongan, menyeru kepada kebajikan, menyuruh bebuat baik dan mencegah perbuatan munkar. Menolak tiap-tiap fitnah penjajahan, kedzoliman suatu bangsa di atas bangsa lain dan mengusahakan ta’aruf antar bangsa”.

Karena itu, setiap ada problematika yang menyangkut kehormatan kaum muslimin, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) bertanggung jawab mengadakan perjuangan, baik melalui lisan dalam bentuk statemen pernyataan sikap, siaran pers, maupun upaya langsung memberikan santunan. Seperti ketika terjadi musibah di Banda Aceh, Jogjakarta, Pangandaran, dan ketika terjadi penindasan kaum muslimin di Uighur China, Libya, Rohingya Myanmar, terlebih di Palestina dan seterusnya.

Inilah insya Allah sebagian dari tanda-tanda kemenangan umat Islam dalam menghadapi hegemoni kuffar terutama Zionis Isarel. Sebagaimana yang pernah Allah janjikan di dalam Surah Al-Fath :

إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحً۬ا مُّبِينً۬ا  .لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُ ۥ عَلَيۡكَ وَيَہۡدِيَكَ صِرَٲطً۬ا مُّسۡتَقِيمً۬ا  .وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصۡرًا عَزِيزًا .

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS Al-Fath : 1-3).  

Mengapa Masjid Al-Aqsha

Adapun tentang perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsha, mengapa Masjid Al-Aqsha? Mengapa harus dibebaskan? Mengapa mesti dibebaskan dengan berjama’ah dengan Imaamnya? Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan demikian. Sehingga melaksanakannya pun berpahala.

Kita sudah tahu, berdasarkan ayat dan hadits, Masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam, tempat Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, masjid yang namanya tercantum di dalam ayat Al-Quran, tempat yang diberkahi, bumi para Nabi dan Rasul utusan Allah diturunkan di sana, tempat yang kita sangat dianjurkan untuk berziarah ke sana. Maka, kalau Allah dan Rasul-Nya saja memuliakan, kitapun demikian.

Survei historis membuktikan, seperti diketemukan dalam teori geopolitik bernama “The Heartland Theory”, yang dikemukakan oleh pakar geopolitik Inggris bernama Sir Halford Mackinder, yang kemudian dipopulerkan oleh seorang Prof Karl Haushofer, guru dari Adolf Hitler, menyimpulkan bahwa Palestina tempat Masjid Al-Aqsha berdiri, adalah jantungnya dunia. Maka siapa yang ingin menguasai dunia, kuasai Palestina. Siapa yang ingin membuat dunia sejahtera, bebaskan Al-Aqsha Palestina.

Dan ini terbukti dalam sejarah beberapa ribu tahun, bahwa manakala Al-Aqsha dan Syam (termasuk Palestina di dalamnya) dalam kepemimpinan Khilafah, maka tenteramlah dunia. Tetapi ketika dikuasai selain Islam, maka kacau dunia. Seperti sekarang dikuasai Zionis Israel,  yang jelas-jelas bukan pemiliknya. Jadi, ia harus dikembalikan lagi kepemilikannya ke pangkuan umat islam.

Maka, ketika Konferensi Bandung 4-5 Juli menghasilkan keputusan bahwa perjuangan pengembalian Al-Aqsha ke pangkuan umat Islam harus dipercepat di bawah satu pemimpin Islam. Beberapa hari kemudian, 25 Juli, Zionis Israel teriak kesakitan melalui Jaksa Agung Israel Vainshtein, yang mengklaim Masjid Al-Aqsha, kawasan umat muslim Palestina, adalah bagian dari Zionis Israel. Padahal selama ini tidak pernah bicara seperti itu. Tak kalah sengitnya, Capres Amerika, Mitt Romney pun tangal 29 Juli mengklaim bahwa Jerusalem atau Al-Quds adalah ibu kota Zionis Israel.

Menghadapi klaim statemen itu, alhamdulillah di tengah kesibukan umat dalam urusannya masing-masing, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) melawan klaim itu dengan statemen kecaman keras ke jantung Zionsi Israel, bahwa Al-Aqsha dan kawasan sekitarnya yang diberkahi adalah hak umat Islam. Dan siapapun yang akan merampas hak umat Islam, maka ia akan berhadapan dengan seluruh umat Islam sedunia.

Jadi, persoalannya adalah karena ini perintah Allah dan Rasul-Nya untuk membebaskan Al-Aqsha. Seperti yang pernah disampaikan sahabat Abdullah bin Rawahah salah satu panglima Perang Mu’tah. “Demi Allah! Apa yang tidak kalian sukai dalam kepergian ini sebenarnya adalah sesuatu yang kita cari, yaitu mati syahid. Kita memerangi mereka karena Islam memerinthkan seperti ini, yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah! Karena di medang juang sana hanya ada satu dari dua kebaikan yang akan kita jemput : kemenangan atau mati syahid.”

Dan untuk itu, kita berjuang secara integral, yang kita cita-citakan bagaimana Al-Aqsha bebas dan Palestina merdeka. Setelah bebas dan merdeka, insya Allah perjuangan dan pembangunan apa saja bisa masuk. Kita tahu, walaupun masih ada masalah di sekitar kita, tetangga yang dhuafa, problematika pendidikan, dsb. Akan tetapi ini persoalannya masjid tempat suci yang dinodai dan hendak dorobohkan, saudara-saudara kita mulai bayi sampai orang jompo dibunuhi tiap detik. Apakah ini akan dibiarkan berlangsung di depan mata kita tanpa ada perlawanan sama sekali?

Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita tentang kewajiban berjihad dengan harta dan jiwa, melalui beberapa ayat dan hadits:

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ أَن يُذۡكَرَ فِيہَا ٱسۡمُهُ ۥ وَسَعَىٰ فِى خَرَابِهَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَا كَانَ لَهُمۡ أَن يَدۡخُلُوهَآ إِلَّا خَآٮِٕفِينَ‌ۚ لَهُمۡ فِى ٱلدُّنۡيَا خِزۡىٌ۬ وَلَهُمۡ فِى ٱلۡأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬

Artinya : “Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya [masjid Allah], kecuali dengan rasa takut [kepada Allah]. Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat”. (QS Al-Baqarah : 114).

مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ نُصْرَتَه

Artinya : “Tidaklah seseorang yang membiarkan seorang Muslim di tempat dimana kehormatannya dilanggar dan dilecehkan, kecuali Allah akan membiarkannya di tempat yang ia menginginkan pertolongan-Nya di sana. Tidaklah seseorang menolong seorang Muslim di tempat yang kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya di tempat yang menginginkan ditolong oleh-Nya,” (HR Abu Daud dan Ahmad).

لاَ يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ ضَرَبَهُمُ الله بِالْفَقْرِ

Artinya : “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fie sabilillah, melainkan Allah timpakan kefakiran terhadap mereka.” (HR Ibnu ‘Asakir).

فُكُّوا الْعَانِيَ وَأَطْعِمُوا الْجَائِعَ، وَعُودُوا الْمَرِيضَ

Artinya : “Bebaskan orang yang sedang tertawan, berikanlah makan kepada orang yang sedang kelaparan, dan jenguklah orang sedang sakit”. (HR Bukhari).

Juga peringatan khusus tentang pembelaan kita terhadap Al-Aqsha, baik langsung ke sana atau melalui pengriman doa dan bantuan, seperti termuat dalam hadits,:

عَنْ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ، فَقَالَ : ” أَرْضُ الْمَنْشَرِ والْمَحْشَرِ، إَيتُوهُ، فَصَلُّوا فِيهِ ، فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ . قَالَتْ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ نُطِقْ أَنْ نَتَحَمَلَ إِلَيْهِ أَوْ نَأْتِيَهُ ؟ , قَالَ : ” فَأَهْدِينَ إِلَيْهِ زَيْتًا يُسْرَجُ فِيهِ ، فَإِنَّ مَنْ أَهْدَى لَهُ كَانَ كَمَنْ صَلَّى فِيهِ

Artinya : “Dari Maimunah maula Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Ya Nabi Allah, berikan fatwa kepadaku tentang Baitul Maqdis”. Nabi menjawab, “Tempat dikumpulkanya dan disebarkanya (manusia). Maka datangilah ia dan shalatlah di dalamnya. Karena shalat di dalamnya seperti shalat 1.000 rakaat di selainnya”. Maimunah bertanya lagi, “Bagaimana jika aku tidak bisa”. “Maka berikanlah minyak untuk peneranganya. Barangsiapa yang memberikannya, maka seolah ia telah mendatanginya.” (HR Ahmad).

Dan ini pulalah yang terbayang di hadapan kita bagaimana perlawanan itu akan dimulai pada akhir jaman ini.

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُود

Artinya : ”Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan Yahudi. Maka kaum muslimin membunuh mereka sampai Yahudi bersembunyi di belakang batu-batuan dan pohon-pohonan. Dan berkatalah batu dan pohon: ”Wahai muslim wahai hamba Allah ini Yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah ia kecuali pohon Gorqhod karena ia adalah pohon Yahudi”. (HR Muslim).

* Redaktur Kantor Berita Islam “MINA” (Mi’raj News Agency), www.mirajnews.com

Leave a Reply