KONFLIK SURIAH TINGGALKAN TRAUMA PADA ANAK-ANAK

      Turki 21 Shafar 1434/3 Januari 2013 (MINA) – konflik Suriah dengan dalam utama presiden Bashar al-Assad, meninggalkan efek mendalam dan trauma kepada anak-anak Suirah. Ratusan ribu anak-anak telah melarikan diri keluar Suriah dengan keluarga mereka.

      Mayoritas anak-anak yang tinggal di Suriah trauma menghadapi pemboman, tembakan, kekuranagan pangan dan merasakan hawa dingin tanpa bahan bakar dan layanan sekolah.
      “Pikiran anak-anak terekam dalam warna merah,” kata Mustafa Shakr, mantan seorang Kepala Sekolah di Damaskus yang sekarang menjalankan sebuah sekolah untuk lebih dari 300 anak Suriah di kota Turki Antakya dekat perbatasan Suriah. “Bahkan banyak hasil lukisan mereka diwujudkan sepenuhnya dalam merah.”
      “Adik perempuanku bermimpi malam itu, di sebuah kampung pengungsi dekat kota Turki Yayladagi, dia bermimpi pergi ke Suriah kemudian Ashad Bashar membunuh dan datang kembali,” kata Mahar (10) salah seorang anak laki-laki suriah.
      Seperti diberitakan The Washingtonpost, orang tua dan organisasi kemanusiaan berjuang untuk membantu para pengungsi Suriah dengan program seni yang mendorong anak-anak mereka mengekspresikan ketakutan mereka dan mulai mendapatkan kembali rasa aman.
      Seorang ginekolog yang terlibat dalam program tersebut mengatakan ” Kami bukan spesialis, Kami di sini hanya membantu anak-anak belajar untuk menjadi lebih baik. Kami mendorong mereka dengan mengatakan, jadilah contoh yang baik untuk teman-teman Anda “
      Trauma sangat diraskan oleh anak-anak Suriah dengan ketakutan yang mendalam seperti dirasakan oleh seorang anak laki-laki berumur 8 tahun dari   Aleppo yang menolak untuk berbicara selama 15 hari setelah tiba di pengungsian. Ketika ia akhirnya berbicara, kata-kata pertamanya adalah, “Mereka membakar sekolah saya.”
      290 anak-anak pada sekolah dasar dadakan tiap hari melakukan protes terhadap kebijakan pemerintahan Bashar. Mereka meneriakkan slogan-slogan revolusioner di halaman sekolah mereka.
      “Anak saya adalah pemimpin demonstrasi, saya tidak ingin anak saya membenci negaranya” kata Ummu Mohammed dengan penuh emosi dan kecewa. (R-016/R-008).

Miraj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply