MEGA PROYEK INDONESIA CIPTAKAN PERDAMAIAN DUNIA

Oleh : M. Abdullah Rosyid*

Jakarta, 24 Shafar 1434/6 Januari 2013 (MINA) – Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan lebih dari 13.000 pulau yang ada, Indonesia memiliki berbagai ragam budaya, suku, ras dan agama. Namun Indonesia sampai saat ini secara umum merupakan sebuah negara yang aman dan damai. Terlihat dari kerukunan umat beragama di Indonesia meskipun berbeda keyakinan, tapi bangsa Indonesia mampu menghormati keyakinan satu sama lain.

Hal inilah yang ingin ditularkan Indonesia ke masyarakat internasional. Hidup damai tanpa adanya kekerasan di dunia ini memang menjadi pilihan bagi semua manusia. Tapi tidak bagi orang-orang tertentu yang berada di daerah konflik.

Palestina contohnya, sudah 64 tahun bangsa yang meninggali salah satu kawasan di Timur Tengah ini mengalami penindasan dan kekerasan oleh suatu bangsa arogan yang kemudian ingin mendirikan sebuah negara bernama Israel. Mereka menerima tindak kriminal, penganiayaan bahkan pengusiran dari tanah mereka sendiri.

Peristiwa yang tidak mungkin kita lupa adalah tragedi Nakbah. Sebanyak 700.000 warga bangsa Palestina dipaksa meninggalkan tanah air mereka selama periode 1947-1949. Dari saat itulah penderitaan bangsa Palestina bermula hingga saat ini.

Untuk periode yang belum lama, Muslim Rohingya harus menerima tindakan pelanggaran hak asasi manusia paling berat yang pernah ada. Hilangnya kewarganegaraan membuat mereka terlantar, tak ada negara yang mau menerima mereka. Mereka harus mengarungi samudera yang luas menggunakan alat dan persediaan seadanya untuk mencari tempat berlindung. Tidak sedikit yang harus menemui ajal dalam perjalanan itu, perahu karam dan tenggelam telah mereka sadari resikonya. Namun demi mencari kehidupan yang layak, Muslim Rohingya pun terpaksa melakukannya.

Baru-baru ini, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan keprihatinan terhadap masyarakat yang tertindas tersebut. Kemenlu pun membuat beberapa poin penting untuk menciptakan stabilitas dunia. Menyambut tahun baru Masehi dengan penuh optimisme tinggi, Indonesia menyerukan perdamaian sebagai tema utama.

Stabilitas dan Keamanan merupakan kunci kemakmuran

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyampaikan dalam pernyataan tahunannya akan terus berkomitmen menciptakan dan memelihara stabilitas, keamanan dan perdamaian di tingkat kawasan maupun di tingkat global. Marty menjelaskan bahwa demi mencapai kemakmuran dalam pembangunan ekonomi, stabilitas dan keamanan adalah prasyarat wajib untuk mencapai hal tersebut. Hal ini dicontohkan dengan kondisi di kawasan Asia Pasifik yang selama ini bisa menjadi bukti nyata bahwa stabilitas dan keamanan bisa membawa kepada pembangunan ekonomi yang signifikan.

Tahun ini, Indonesia yang telah banyak berkontribusi dalam penyelesaian masalah dengan jalan damai di berbagai belahan dunia mendorong penyelesaian isu kepemilikan wilayah di Laut Cina Selatan. Demi mencapainya, Indonesia menginginkan pembicaraan  diplomasi lebih dikedepankan.

Indonesia akan berupaya meningkatkan momentum pelaksanaan secara menyeluruh Declaration on Conduct of Parties in the South China Sea / DoC Laut Cina Selatan. “Menyeluruh” berarti termasuk kemajuan dalam upaya pencapaian suatu regional code of conduct.

Indonesia juga akan secara konsisten mengingatkan betapa pentingnya seluruh negara mengikatkan diri pada “Bali Principles” yang disepakati pada East Asia Summit di Bali tahun 2011. Sebuah prinsip yang mengatur norma dasar perilaku dan hubungan antar negara di kawasan Asia dan Pasifik yang senantiasa mengedepankan cara-cara damai dan menghindari kekerasan.

Perdamaian di Timur Tengah, Kunci Keamanan Dunia

Sesuai amanat konstitusi, Indonesia akan terus berkontribusi bagi upaya menciptakan perdamaian dan stabilitas serta keamanan internasional.

Isu Palestina telah dan akan terus menjadi agenda prioritas diplomasi dan politik luar negeri Indonesia. Kedepan, Indonesia akan terus mengajak masyarakat internasional untuk meraih kemajuan lebih atas apa yang telah dicapai pada tahun 2012, yakni status Palestina sebagai negara peninjau non-anggota di PBB. Hal ini berarti peningkatan kapasitas negara Palestina, rekonsiliasi elemen internal Palestina sendiri serta dorongan bagi pemulihan kembali proses perdamaian Timur Tengah ke arah pemenuhan hak-hak dasar Palestina sesuai resolusi PBB.

Indonesia juga mengajak masyarakat dunia untuk mencurahkan perhatiannya ke Suriah. Di mana pergolakan dalam negeri yang berujung menjadi perang saudara yang berkepanjangan. Dalam tahun ini, Indonesia berusaha mewujudkan upaya diplomasi yang menemui jalan buntu pada 2012 kemarin. Indonesia tidak ingin korban berjatuhan lebih banyak lagi yang berarti itu sangat mencederai perdamaian.(R-007/R-008).

 *Wartawan Miraj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply