OKI SERUKAN GENCATAN SENJATA MALI

      Bamaku, 4 Rabiul Awal 1434/16 Januari 2013 (MINA) – Badan Muslim terbesar di dunia, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada  Selasa (15/1) menyerukan gencatan senjata di Mali, di mana tentara Perancis campur tangan melawan oposisi Islamis di negara Afrika bagian utara itu.

   “Kami menyerukan gencatan senjata segera di Mali dan semua pihak segera kembali ke perundingan yang dipimpin Burkina Faso,” kata Ekmeleddin Ihsanoglu, Sekretaris Jenderal OKI, dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilaporkan OnIslam.net  yang diterima Kantor Berita Mi’raj (Mi’raj News Agency/MINA).
    Sekjen OKI itu menggambarkan serangan militer Perancis di Mali sebagai  hal yang terlalu dini. “Kami menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi militer itu,” lanjut Ihsanoglu, menyerukan semua pihak untuk menahan diri  semaksimal mungkin  dalam situasi kritis saat ini demi mencapai solusi damai atas konflik tersebut.
    Perancis meluncurkan serangan udara di Mali pada Jumat (11/1) untuk menghentikan kemajuan oposisi Islam di utara itu. Operasi tersebut  mendapat dukungan negara-negara sekutu Barat.
    Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan Selasa (15/1) pasukan Prancis melakukan serangan udara lebih lanjut semalam yang mencapai “target mereka”, menurut laporan Reuters.
    “Kami akan melanjutkan penyebaran pasukan di  darat dan udara,” kata Hollande di pangkalan militer Prancis di Abu Dhabi. “Kami memiliki 750 tentara yang dikerahkan saat ini dan akan terus bertambah sehingga secepat mungkin dapat dikirim  ke Afrika.”
    Perancis berencana menempatkan 2.500 tentara di Negara bekas jajahannya itu untuk memperkuat tentara Mali dan bekerja sama dengan tentara ‘intervensi’ yang disediakan Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (Economic Community Of West African States/ECOWAS).
    Sebagaimana pesawat Perancis membombardir pergerakan pejuang Islam, gerilyawan  lainnya meluncurkan serangan balik ke selatan, membuat pasukan pemerintah mundur dari kota Diabaly, 350 km (220 mil) dari Bamako.
    Khawatir akan pembalasan di markasnya, Perancis telah memperketat keamanan di gedung-gedung publik dan transportasi umum.
    PBB mengatakan sekitar 30.000 orang melarikan diri dari pertempuran terakhir di Mali, bergabung dengan lebih dari 200.000 orang yang sudah mengungsi.
    Mali, pernah dianggap sebagai contoh yang baik dari demokrasi Afrika, runtuh ke dalam kekacauan setelah tentara menggulingkan presidennya Amadou Toumani Toure pada Maret 2012, meninggalkan kekosongan kekuasaan di Negara Afrika utara itu.(T/R-010/R-008).

Miraj News Agency (MINA)

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply