PENDUDUK YAMAN KECAM MILITER AMERIKA DI SANA’A

       Sana’a, 27 Shafar 1434/ 9 Januari 2013 (MINA) – Penduduk Yaman dari kalangan kelompok Hak Asasi manusia (HAM), anggota parlemen dan masyarakat mengecam keras kehadiran pasukan militer Amerika Serikat di Yaman dan pengalihan fungsi sebuah hotel bintang lima di ibu kota Sana’a menjadi pangkalan militer AS.
      Koresponden Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA) di Yaman, Harun Ar-Rasyid melaporkan, keberadaan militer tersebut berlangsung sejak terjadinya pengeboman di Kedubes AS September 2012.
      “Mereka tidak memakai seragam tentara, hanya seragam biasa,” ujar Harun, Rabu (9/1).     

      Penduduk Yaman menentang kehadiran mereka, terutama Syaikh Al-Zindani, Rektor Universitas Al-Iman Sana’a. Meskipun begitu, kehadiran tentara tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan di Yaman.
      Dalam wawancara seperti dilansir Press TV, anggota dan aktivis hak asasi manusia tersebut mengecam keras pengalihan fungsi hotel di Sana’a menjadi pangkalan militer dan mereka menganggap kehadiran pasukan Amerika sebagai aksi pendudukan negara mereka.

Menolak Intervensi
      “Marinir Amerika memasuki Yaman dan jumlah mereka telah meningkat, seperti saat Inggris menduduki Yaman selatan beberapa dekade lalu. Kehadiran pasukan marinir dalam jumlah besar sama seperti sebuah penjajahan, “kata aktivis politik Abdu Ahmed.
      Kedutaan besar AS di Sana’a dilaporkan telah memesan semua kamar hotel, memecat 200 anggota staf hotel setelah memberikan pesangon kepada mereka yang nilainya sama dengan enam bulan gaji.
      “Kami merasa tidak aman di negara kita sendiri,”kata salah seorang warga.
      Pertumbuhan dominasi AS telah memicu banyak demonstrasi massa, terutama di Kantor Gubernur Sada’a di utara ibu kota Sana’a.
Para pengunjuk rasa menolak intervensi asing dalam urusan negara mereka. Meningkatnya jumlah pembunuhan dalam serangan pesawat tak berawak AS, yang sebagian besar menargetkan warga sipil tak berdosa, juga dikecam oleh kelompok-kelompok aktivis HAM.
      Para aktivis mengatakan campur tangan AS dalam perkembangan Yaman dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan negara Timur Tengah itu.
      “Menyetujui Marinir AS melanggar kedaulatan negara adalah pengkhianatan dan mereka yang memberikan persetujuan harus dituntut,”kata aktivis HAM Abdul Rahman Barman.
      Washington menggunakan pesawat mata-mata tanpa awak untuk melakukan pembunuhan di Yaman, Pakistan, Afghanistan, dan Somalia. Mereka mengklaim menargetkan para teroris. Akibat serangan itu, sebagian besar korban justru dari lalangan sipil.(T/R-007/R-005).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply