PENENTANG KEBIJAKAN OBAMA DITEMUKAN TEWAS DI NEW YORK

     New York City, 2 Rabiul Awal 1434/ 13 Januari 2013 (PressTV/MINA) – Seorang juru bicara Pusat Medis Kepolisian Brooklyn mengatakan, pada Jumat (10/1) polisi menemukan mayat Aaron Swartz di apartemennya di wilayah Brooklyn, New York City yang diduga terbunuh karena telah menentang kebijakan Obama.
    Kepala Pemeriksa Medis Brooklyn menyebutkan sebab kematian karena bunuh diri, tapi tidak ada detail lebih lanjut mengenai kematian misterius tersebut.
    Tahun lalu, Swartz secara terbuka mengkritik AS dan rezim Israel yang meluncurkan serangan cyber bersama terhadap Iran. Para blogger lain juga dengan vokal mengkritik apa yang mereka sebut  “daftar pembunuhan “ Obama dan kebijakan lainnya.
    Obama dilaporkan telah mencantumkan beberapa nama untuk dimasukkan dalam operasi pembunuhan yang akan dilakukan oleh pesawat pembunuh AS.
    Kemudian Obama disuguhi identitas yang ada dalam daftar tersebut lalu menyetujui setiap serangan di Yaman dan Somalia serta serangan berisiko di Pakistan.
    Swartz memegang informasi penting tentang beberapa perusahaan dan percaya bahwa informasi tersebut seharusnya disiarkan demi kepentingan masyarakat.
    “Informasi adalah kekuatan. Tapi seperti semua kekuasaan, ada orang-orang yang ingin menyimpannya untuk diri mereka sendiri, “tulisnya dalam laman online pada 2008.
    Berdasarkan keyakinan itu, si “keajaiban komputer” itu  mendirikan kelompok nirlaba DemandProgress.
    Kelompok ini melancarkan kampanye yang sukses memblokir RUU 2011. Hal itu kemudian terkenal yang disebut DPR Amerika Serikat dengan nama UU Aksi Penghentian Pembajakan Online.
    Kalau sudah disetujui, RUU itu akan memungkinkan pengadilan memblokir beberapa situs yang dianggap terlibat dalam praktek sharing kekayaan intelektual secara ilegal.
    DemandProgress berpendapat bahwa UU tersebut akan disebarluaskan dengan wewenang pemerintah AS untuk menyensor dan membatasi komunikasi Web yang sah.(T/R-007/R-008).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply