PRESIDEN SRI LANKA: HENTIKAN KEBENCIAN PADA MUSLIM

     Colombo, 17 Rabiul Awal 1434/29 Januari 2013 (MINA) – Dalam upaya menghentikan serangan terhadap komunitas Muslim, Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapakse mengimbau para biksu Budha untuk menghindari hasutan kebencian agama dan kekerasan di negara itu.

    “Tidak apa-apa untuk bekerja demi memperkuat agama Buddha, tetapi harus dilakukan tanpa menimbulkan konflik dengan agama-agama lain,” kata Presiden dalam sebuah pernyataan yang dikutip OnIslam.net dan diterima Mi’raj News, Selasa (29/1).
    Pernyataan itu ia sampaikan saat pemimpin Sri Lanka mengadakan pertemuan pada Ahad (27/1) dengan para biksu Budha untuk membahas cara menghentikan gelombang serangan terhadap umat Islam di negara Asia.
    Rajapakse bertemu dengan anggota kelompok kontroversial yang dikenal sebagai “Bodu Bala Sena”, atau Angkatan Buddha yang dianggap menghasut dan memimpin serangan terhadap umat Islam.
    Kelompok  itu melakukan kampanye larangan daging halal, di mana hal tersebut ditolak pemerintah Sri Lanka.
    Selain itu, kelompok tersebut membantah terlibat dalam serangan terhadap Muslim, mengatakan beberapa kelompok “duplikat” berpura-pura menjadi mereka.
    Sri Lanka berada dalam situasi tegang menyusul serangkaian insiden serius yang melibatkan provokasi ekstrimis Buddha terhadap kaum Muslim di Sri Lanka.
    Pada Juni 2012, sekitar 200 demonstran yang dipimpin puluhan biksu Budha berkumpul di sebuah pusat Islam di pinggiran Kolombo, Dehiwala. Mereka melemparkan batu dan daging busuk di gerbang masjid dan  meneriakkan slogan-slogan menuntut penutupan tempat ibadah Muslim.
    Sebelumnya pada April 2012, sejumlah biksu mengganggu ibadah Muslim di desa Dambulla. Para penyerang mengklaim masjid yang dibangun pada 1962 itu adalah ilegal.
    Beberapa minggu kemudian, biarawan menulis surat ancaman yang ditujukan kepada umat Islam di kota terdekat Kurunegala, menuntut ibadah Muslim dihentikan.
    Serangan terhadap Muslim Sri Lanka menimbulkan keprihatinan yang mendalam di negeri itu. “Ada kerusakan pada hukum dan ketertiban yang dibuat,” kata Kabir Hashim, anggota parlemen dari Partai Persatuan Nasional, partai oposisi utama negara itu, kepada harian Sunday Leader.
    Ketua Dewan Muslim Sri Lanka (MCSL), N.M. Ameen yang juga khawatir mengatakan, “Ada kelompok yang sengaja menciptakan perselisihan di antara masyarakat.”
    Ameen mengatakan ketika para biarawan mengklaim protes  mereka adalah untuk melawan “ekstremis Muslim”, hal itu juga mempengaruhi Muslim biasa.
    Pekan lalu, anggota parlemen Muslim menyerukan pertemuan dengan Presiden untuk membahas serangan terhadap masyarakat Muslim. Ameen juga menekankan Dewan Muslim meminta intervensi Presiden dan pemerintah tentang masalah ini.
    Pemerintah menegaskan pihaknya akan mengangkat isu serangan terhadap Muslim Sri Lanka  dengan serius.
    Wakil Menteri Buddha Sasana dan Departemen Agama M.K.A.D.S Gunawardena mengatakan Presiden Rajapaksa membentuk sebuah komite untuk meyelidiki masalah ini.
    “Pemerintah tidak akan membiarkan agama apapun disalahgunakan. Jika sesuatu terjadi kita akan mengambil tindakan hukum. Semua agama memiliki hak yang sama,”  kata Gunawardena kepada Sunday Leader.
    “Kami akan menangani masalah ini berdasarkan rekomendasi dari komite yang ditunjuk,” tambahnya.
    Tapi Anggota Parlemen dari Partai Persatuan Nasional, Hashim,  tidak setuju. “Pemerintah tampaknya berusaha menghindari masalah dengan membentuk komite itu,” Katanya.
    Muslim Sri Lanka yang dikenal sebagai “Moor” adalah kelompok terbesar ketiga di negara itu setelah Sinhala yang mencapai 70 persen dan Tamil yang mencapai 12,5 persen rakyat Sri Lanka.(T/P10/R2).

Miraj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply