SEKILAS SEJARAH ISLAM DI NEGERI CINA

بسم الله الرحمن الرحيم

SEKILAS SEJARAH ISLAM DI NEGERI CINA

Oleh: K.H. Drs. Yakhsyallah Mansur, M.A.

       Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti ‘agama yang murni’. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran ‘Buddha Ma-hia-wu’ (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam). Terdapat beberapa versi hikayat tentang awal mula Islam bersemi di daratan Cina.

       Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethiopia). Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hijrah ke Ethiopia untuk menghindari penindasan kaum Quraisy Jahiliyah.

       Mereka antara lain; Ruqayyah, anak perempuan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; Utsman bin ‘Affan, suami Ruqayyah; Sa’ad bin Abi Waqqash, dan sejumlah sahabat lainnya Radhiyallahu ‘Anhum.

       Para sahabat yang hijrah ke Ethiopia itu mendapat perlindungan dari Raja Najasi di kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581 M-618 M).

       Sumber lainnya menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Sa’ad bin Abi Waqqash dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethiopia pada tahun 616 M. Setelah sampai di Cina, Sa’ad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali ke Guangzhou membawa kitab suci Al-Qur’an.

       Ada pula yang menyebutkan ajaran Islam pertama kali di Cina pada 615 M –kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin ‘Affan yang menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk membawa ajaran Islam ke daratan Cina.

        Konon, Sa’ad bin Abi Waqqash meninggal dunia di Madinah dan dimakamkan di Baqi’. Pendapat lain menyatakan bahwa Sa’ad meninggal dunia di Cina pada tahun 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys’ Mazars.

Masjid Huaishengmasjid pertama di Cina.

       Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Kaisar pun lalu memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau Masjid Memorial di Canton –masjid pertama yang berdiri di daratan Cina.

      Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok.

       Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari Arab dan Persia. Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Sejak saat itu, pemeluk agama Islam di Cina bertambah banyak.

      Ketika Dinasti Song bertahta, umat Muslim tengah menguasai industri ekspor dan impor. Bahkan, pada periode itu jabatan direktur jenderal pelayaran secara konsisten dijabat orang Muslim.

      Pada tahun 1070 M, Kaisar Shenzong dari Dinasti Song mengundang 5.300 pria Muslim dari Bukhara untuk tinggal di Cina. Tujuannya untuk membangun zona penyangga antara Cina dengan Kekaisaran Liao di wilayah Timur Laut.

      Orang Bukhara itu lalu menetap di antara Kaifeng dan Yenching (Beijing). Mereka dipimpin Pangeran Amir Sayyid alias ‘So-Fei-Er’. Dia bergelar ‘Bapak’ Komunitas Muslim di Cina.

Perkembangan Islam pada masa Dinasti Mongol Yuan

      Ketika Dinasti Mongol Yuan (1274 M- 1368 M) berkuasa, jumlah pemeluk Islam di Cina semakin besar. Mongol, sebagai minoritas di Cina, memberi kesempatan kepada imigran Muslim untuk naik status menjadi Cina Han.

       Sehingga pengaruh umat Islam di Cina semakin kuat. Ratusan ribu imigran Muslim di wilayah Barat dan Asia Tengah direkrut Dinasti Mongol untuk membantu perluasan wilayah dan pengaruh kekaisaran.

        Bangsa Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab, Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan.

       Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq.

       Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388, Lan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu muncul Laksamana Cheng Ho –seorang pelaut Muslim andal.

       Saat Dinasti Ming berkuasa, imigran dari negara-negara Muslim mulai dilarang dan dibatasi. Cina pun berubah menjadi negara yang mengisolasi diri. Muslim Cina pun mulai menggunakan dialek bahasa Cina. Arsitektur Masjid pun mulai mengikuti tradisi Cina. Pada era ini Nanjing menjadi pusat studi Islam yang penting. Setelah itu hubungan penguasa Cina dengan Islam mulai memburuk.

Masa Surut Islam di Daratan Cina

       Hubungan antara Muslim dengan penguasa Cina mulai memburuk sejak Dinasti Qing (1644-1911) berkuasa. Tak Cuma dengan penguasa, relasi Muslim dengan masyarakat Cina lainnya menjadi semakin sulit. Dinasti Qing melarang berbagai kegiatan keislaman.

      Menyembelih hewan qurban pada setiap Idul Adha dilarang. Umat Islam tak boleh lagi membangun masjid. Bahkan, penguasa dari Dinasti Qing juga tak membolehkan umat Islam menunaikan rukun Islam kelima –menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.

Taktik adu domba pun diterapkan penguasa untuk memecah belah umat Islam yang terdiri dari bangsa Han, Tibet dan Mongol.

      Akibatnya ketiga suku penganut Islam itu saling bermusuhan. Tindakan represif Dinasti Qing itu memicu pemberontakan Panthay yang terjadi di Provinsi Yunan dari 1855 M hingga 1873 M.

      Setelah jatuhnya Dinasti Qing, Sun Yat Sen akhirnya mendirikan Republik Cina. Rakyat Han, Hui (Muslim), Meng (Mongol) dan Tsang (Tibet) berada di bawah Republik Cina. Pada 1911, Provinsi Qinhai, Gansu dan Ningxia berada dalam kekuasaan Muslim yakni keluarga Ma.

       Kondisi umat Islam di Cina makin memburuk ketika terjadi Revolusi Budaya. Pemerintah mulai mengendorkan kebijakannya kepada Muslim pada 1978. Kini Islam kembali menggeliat di Cina. Hal itu ditandai denga banyaknya masjid serta aktivitas Muslim antar etnis di Cina.

Tokoh Muslim Terkemuka dari Tiongkok

         Dominasi peran Muslim dalam lingkaran kekuasaan dinasti-dinasti Cina pada abad pertengahan telah melahirkan sejumlah tokoh Muslim terkemuka. Mereka adalah:

Pelaut dan Penjelajah

–          Cheng Ho atau Zheng He: Laksamana Laut Cina yang menjelajahi dua benua dalam tujuh kali ekspedisi.

–          Fei Xin: Penerjemah andalan Cheng Ho.

–          Ma Huan: Seorang pengikut Cheng Ho.

Militer

–          Jenderal Pendiri Dinasti Ming: Chang Yuchun, Hu Dahai, Lan Yu, Mu Ying.

–          Pemimpin Pemberontakan Panthay: Du Wenxiu, Ma Hualang.

–          Kelompok Tentara Ma selama era Republik Cina: Ma Bufang, Ma Chung-Ying, Ma Fuxiang, Ma Hongkui, Ma Hongbin, Ma Lin, Ma Qi, Ma Hun-Shan Bai Chongxi.

Sarjana dan Penulis

–          Bai Shouyi, Sejarawan.

–          Tohti Tunyaz, Sejarawan.

–          Yusuf Ma Dexin, Penerjemah Al Qur’an pertama ke dalam bahasa Cina.

–          Muhammad Ma Jian, Penulis dan penerjemah Al Qur’an terkemuka.

–          Liu Zhi, Penulis di era Dinasti Qing.

–          Wang Daiyu, Ahli Astronomi pada era Dinasti Ming.

–          Zhang Chengzi, Penulis Kontemporer.

Kepemerintahan

–          Hui Liangyu, Wakil Perdana Menteri Urusan Pertanian RRC.

–          Huseyincan Celil, Imam Uyghur yang dipenjara di Cina.

–          Xabib Yunic, Menteri Pendidikan Second East Turkistan Republic.

–          Muhammad Amin Bughra, Wakil Ketua Second East Turkistan Republic.

Lainnya

–          Noor Deen Mi Guangjiang, Ahli Kaligrafi.

–          Ma Xianda, Ahli Beladiri.

–          Ma Menta, Pengurus Federasi Wushu Tongbei Rusia.

Wallahu A’lam bis Shawwab.

(T.YM/R-014/R-006)

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply