TUNISIA BEBASKAN DUGAAN TERSANGKA SERANGAN KONSULAT AS DI LIBYA

     Tunis, 27 Shafar 1434/9 Januari 2013 (MINA) – Tunisia membebaskan seorang  warganya  yang dicurigai terlibat dalam serangan di Libya tahun lalu di mana duta besar AS tewas.  Pembebasan itu dilakukan karena kurangnya bukti, kata pengacara terdakwa.

     Berdasarkan lalporan Ma’an yang diterima Kantor Berita Mi’raj (MINA) pada Rabu (9/1) Ali Harzi adalah salah satu dari dua warga Tunisia yang disebutkan pada Oktober lalu oleh situs Daily Beast sebagai orang yang ditahan di Turki selama aksi kekerasan itu, di mana duta besar AS untuk Libya Christopher Stevens dan tiga pejabat Amerika lainnya tewas.
     “Hakim memutuskan untuk membebaskan Harzi dan ia bebas sekarang,” kata pengacara Anouar Awled Ali  kepada Reuters, “Pembebasan itu datang setelah permintaan kami untuk membebaskannya karena kurangnya bukti dan setelah ia menjalani  dengar pendapat dengan investigator Amerika sebagai saksi dalam kasus ini.”
     Seorang juru bicara kementerian  pengadilan Tunisia mengkonfirmasi hal itu namun menolak untuk menjelaskan.
     Sebulan lalu, Harzi menolak untuk diwawancarai dengan mengunjungi investigator FBI  AS atas serangan 11 September di konsulat AS di kota timur Libya, Benghazi.
     Daily Beast melaporkan tak lama setelah serangan dimulai, Harzi langsung memperbaharui postingannya pada situs media sosial tentang kerusuhan itu.
     Dikatakan Harzi sedang dalam perjalanan ke Suriah ketika ia ditahan di Turki atas perintah dari otoritas AS dan diduga berafiliasi dengan kelompok militan di Afrika Utara.
     Washington mengkonfirmasi kematian Christopher Stevens dan tiga warga sipilnya dalam aksi protes warga setempat atas pemutaran film buatan Amerika Serikat yang menghina Islam  di Kantor Konsulat Amerika Serikat, di Benghazi, Libya yang tewas pada 11 september 2012.
     Film garapan Sutradara  Sam Bacile yang berjudul “Innocence Of Muslim” menuai banyak reaksi karena dianggap melecehkan Agama Islam.   Berbagai aksi demo digelar di banyak negara, terutama di Timur Tengah.
     Tidak hanya itu, umat Islam di kawasan Asia dan Afrika Utara pada 14 September 2012 mengadakan demo besar-besaran terhadap film tersebut.(T/R-010/R-008).

Miraj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply