ANTARA PEMIMPIN PENCITRAAN DAN PENCERDASAN

Jakarta, 6 Rabiul Akhir 1434/15 Februari 2013 (MINA) – Politisi dan pakar ekonomi Rizal Ramli di Jakarta, Kamis (14/2) mengatakan pemimpin sekarang identik dengan pencitraan, berbeda dengan pemimpin dulu yang identik dengan pencerdasan. 

“Sejarah Indonesia dipenuhi dengan pengorbanan para pejuang yang konsisten menarik garis tegas terhadap penjajah kolonial. Dulu, para pemimpin bangsa ini lebih mengedepankan pencerdasan dari pada pencitraan,” kata Rizal. 

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan era Presiden Abdurrahman Wahid itu mencontohkan Soekarno yang sejak dulu memegang prinsip non-kooperatif walaupun harus menanggung resiko dipenjara, diadili dan dibuang berulang kali oleh penjajah Belanda. Demikian pula dengan Tjokroaminoto, Hatta, Sjahrir, Natsir, dan lainnya. 

“Empat dan lima tahun yang lalu, yang berani kritis terhadap rezim korup dan penjual kedaulatan negara hanyalah para aktivis yang sebagian kecil intelektual yang sadar. Tapi sekarang saya bangga dengan rakyat kita yang sudah berdiri paling depan menghendaki perubahan,” kata Rizal yang baru kembali dari Maroko untuk berbicara di depan para oposisi Timur Tengah. 

“Pemilu sekarang modalnya hanya iklan, poster dan spanduk, itulah bedanya pemimpin sekarang. Sehingga kemerdekaan dengan mudah digadaikan,” tambah Rizal yang juga sebagai Ketua Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP). 

Senada dengan Sekjen Suara Independen Rakyat Indonesia (SIRI) Razman Arif yang mengatakan pemimpin itu lahir bukan dari penctraan. “Pemimpin itu lahir dari pergulatan, dari reformasi,” katanya. 

Razman menyimpulkan bahwa kepemimpinan para pemimpin bangsa hari ini lebih banyak pada produk pencitraan saja.  

Menurutnya, semua partai politik baru yang lahir dari potret iklan, ketika  ditinggalkan oleh tokohnya, maka akan lumpuh, seraya menunjukkan salah satu partai yang baru lahir bisa ikut pemilu. “Partai tersebut lumpuh karena ditinggal oleh pemimpinnya. Belum tentu partai yang seperti itu rohnya untuk rakyat,” tegas Razman. 

Menurut Razman, dari sekian besarnya prospek kekayaan Indonesia, hanya 2,5 persen yang dinikmati rakyat, selebihnya dikuasai dan dinikmati oleh penguasa negeri ini. “Ini adalah politik menipu ala iklan dan pencitraan,” tambahnya.(L/P09/R2). 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply