AS DAN RUSIA BAHAS KRISIS SURIAH

Berlin, 17 Rabiul Akhir 1434/27 Februari 2013  (MINA) – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengadakan pembicaraan pertama membahas krisis Suriah dalam pertemuan mereka di ibu kota Jerman, Berlin, Selasa malam (26/2).

Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland mengatakan, pembahasan selama 1 jam 45 menit benar-benar terlihat serius.

“Pembicaraan keduanya sangat konstruktif. Kedua pemerintahan bermaksud memainkan peran lebih konstruktif soal konflik Suriah,” kata Nuland seperti dilaporkan Xin Hua. 

Radio Voice of Russia mengutip pernyataan Lavrov menyatakan, Rusia dan Amerika Serikat bertekad melakukan upaya memfasilitasi dimulainya dialog Suriah sesegera mungkin.

“Yang paling penting adalah bahwa kita menekankan pentingnya saling dialog tanpa kekerasan,” ujarnya.

Lavrov juga mengatakan, kedua Negara menegaskan kembali keinginannya untuk melakukan apa yang dapat mereka kerjakan guna menciptakan dialog secepatnya antara pemerintah dengan oposisi di Suriah.

TV Rusia Today melaporkan, Menlu Lavrov juga menyerukan kepada oposisi Suriah untuk bersedia mengadakan dialog dengan pemerintah dan mencalonkan wakil-wakilnya.

“Kami berharap oposisi Suriah bersedia untuk dialog dan menunjuk tim untuk negosiasi,” jelas Lavrov.

Dia menambahkan, kunjungan Menlu Suriah Walid al-Moallem ke Moskow Senin (25/2), menunjukkan kesediaan pemerintah Suriah untuk memulai dialog sesegera mungkin.

Dia menjelaskan, masalah Suriah tidak akan selesai kecuali oleh Suriah sendiri, karenanya penting untuk berdialog bersama.

Sementara itu, Menlu AS Kerry ketika berbicara pada konferensi pers bersama Menlu Jerman Guido Westerwelle, Selasa pagi (26/2), Kerry belum bersedia menjelaskan proposal untuk mengakhiri kerusuhan di Suriah. Ia masih menunggu sampai pertemuan internasional dengan pemimpin oposisi Suriah di Roma akhir pekan ini.

Hampir dua tahun konflik terjadi di Suriah, mengakibatkan puluhan ribu orang tewas dan cedera. Hingga kini belum ada tanda-tanda akan berakhir.

Menurut laporan Kepala Lembaga Hak Asasi Manusia PBB Navi Pillay menyebutkan jumlah korban jiwa akibat konflik kekerasan di Suriah sepanjang hampir dua tahun ini mencapai 70.000 orang tewas.

Beda Pendapat

AS dan Rusia selama ini berbeda pendapat mengenai jalan apa yang akan ditempuh mengakhiri konflik Suriah.  Rusia merupakan negara besar di dunia yang mempertahankan hubungannya dengan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Alexander Lukashevich menyesalkan pihak oposisi Suriah yang menolak untuk berdialog dengan pemerintah dalam penyelesaian pertumpahan darah di Suriah.

Padahal menurut Lukashevich, melalui dialog bersama dapat menyelesaikan masalah serta menetapkan tahapan untuk memulihkan stabilitas dan keamanan Suriah.

Berbeda dengan Rusia, Amerika dan sekutu-sekutunya selama ini lebih cenderung mendesak Assad untuk mundur dari jabatannya.

Menlu AS John Forbes Kerry, sejak menjabat  sebagai Menlu AS 1 Februari lalu menggantikan Hillary Rodham Clinton, langsung mengadakan kunjungan ke berbagai negara penting di dunia, guna mengadakan berbagai pembicaraaan dan perundingan.

Termasuk membicarakan masalah Suriah, dengan bertemu Menlu Rusia di Jerman.

Sebelum ke Jerman, Kerry terlebih dahulu mengunjungi Inggris. Selanjutnya berturut-turut dijadwalkan terbang ke Perancis dan Italia. Kemudian ke negeri-negeri kawasan Timur Tengah, mulai dari Turki, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan berakhir di Qatar.

Kerry menjadi Menteri Luar Negeri Amerika ke-68 sejak Presiden pertama Amerika, George Washington, menunjuk Thomas Jefferson menduduki posisi itu pada tahun 1789.

Dalam sebuah pidato sebelum pelantikannya, John Kerry mengatakan, Amerika dengan kekuatannya merupakan mercusuar dunia, tidak hanya ditakuti.  (T/P014/P08/R1).

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply