BATAN BANTU IMPLEMENTASI TEKNOLOGI PESANTREN

Jakarta, 4 Rabiul Akhir 1434/14 Februari 2013 (MINA) – Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto menyatakan,   BATAN siap membantu dan bekerja sama dengan pesantren dalam bidang pendidikan dan pemanfataan implementasi teknologi.

“Kita bisa mengirim tenaga ahli BATAN ke Pesantren untuk sosialisasi, baik yang terkait pengembangan pengetahuan maupun pemanfaatan implementasi teknologi, seperti varietas unggulan yang diproduksi BATAN,” ujar Djarot seperti diberitakan portal Kemenag, Kamis (14/2).

Menurut Djarot, pondok pesantren bergerak di bidang pendidikan, karenanya relevan jika BATAN bisa ikut memberikan pandangan yang luas tentang teknologi.

“Matahari, sebenarnya adalah contoh reaksi nuklir yang merupakan anugerah Allah bagi kita agar kita tetap bisa hidup di bumi,” terang Djarot.

Selain pendidikan, pesantren juga mengelola pertanian dan peternakan.

“Karena itu, bisa memanfaatkan hasil litbang BATAN berupa varietas padi, kedelai, sorgum, dan varietas unggulan lainnya. Bahkan untuk peternakan, BATAN memproduksi beberapa nutrisi sapi yang bisa dimanfaatkan bagi pesantren dalam mengembangkan peternakan,” jelas Djarot.

“Itu semua bisa dimanfaatkan pesantren. Dengan begitu, diharapkan akan muncul pemahaman bahwa nuklir bisa dimanfaatkan secara langsung untuk menghasilkan varietas unggulan,” terang Djarot.

Djarot juga menjelaskan, bibit varietas unggulan BATAN mempunya masa tanam yang lebih pendek, hasil panen yang melebihi rata-rata produk nasional, tahan hama, serta enak rasanya sehingga diterima masyarakat secara umum.

Pada awal April 2012, Menteri Agama Suryadharma Ali melakukan kunjungan kerja ke BATAN di Jakarta dan Pusat Reaktor Serba Guna (PRGS) G.A. Siwabessy Serpong, Tangerang. 

Didampingi Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Nur Syam, Direktur Pondok Pesantren dan Pendidikan Diniyah A. Saefuddin serta 21 pimpinan pondok pesantren dari Sumatera, Jawa dan Kalimantan, Menag menjelaskan bahwa tujuan kunjungan tersebut adalah membicarakan pemanfaatan teknologi nuklir di lingkungan pondok pesantren guna mendukung kreativitas para santri.

“Ini menunjukan keterbukan Menteri Agama terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia pesantren,” tambah Djarot.

Sekilas BATAN

Kegiatan pengembangan dan pengaplikasian teknologi nuklir di Indonesia diawali dari pembentukan Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktivitet tahun 1954. Panitia Negara tersebut mempunyai tugas melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan adanya jatuhan radioaktif dari uji coba senjata nuklir di lautan Pasifik.

Dengan memperhatikan perkembangan pendayagunaan dan pemanfaatan tenaga atom bagi kesejahteraan masyarakat, maka melalui Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 1958, pada tanggal 5 Desember 1958 dibentuklah Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA), yang kemudian disempurnakan menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) berdasarkan UU No. 31 tahun 1964 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. Selanjutnya setiap tanggal 5 Desember yang merupakan tanggal bersejarah bagi perkembangan teknologi nuklir di Indonesia dan ditetapkan sebagai hari jadi BATAN.

Tugas pokok BATAN yaitu pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang penelitian, pengembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir, pembinaan kegiatan instansi pemerintah di bidang penelitian, serta pengembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir. (T/P02/R1).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply