BENEDIKTUS MUNDUR, ULAMA MESIR DAN VATIKAN BUKA DIALOG

Kairo, 4 Rabiul Akhir 1434/14 Februari 2013 (MINA) – Para ulama senior di Mesir meyakini bahwa pengunduran mendadak Paus Benediktus XVI bisa membuka jalan dialog dengan Gereja Katolik yang  terputus setelah  komentar kontroversial Benediktus 2006  tentang Nabi Muhammad, Modern Ghana melaporkan sebagaimana yang dikutip Miraj News Agency (MINA), Kamis (14/2).

Ulama Al-Azhar mengatakan bahwa hubungan baik antara gereja dan Al-Azhar akan tergantung pada pendekatan paus berikutnya kepada dunia Muslim.

“Dimulainya kembali hubungan dengan Vatikan tergantung oleh suasana baru yang diciptakan oleh paus yang baru,” kata Mahmud Azab, penasihat  pimpinan Al-Azhar Ahmed al-Tayyeb. “Inisiatif ini sekarang ada di tangan Vatikan.”

Tahun 2006, Benediktus memicu kemarahan Muslim di seluruh dunia ketika ia menceritakan sebuah anekdot di mana Nabi Muhammad digambarkan sebagai penghasut perang yang menyebarkan ajaran jahat dengan pedang.

Dialog dilanjutkan pada tahun 2009, namun  terputus setelah Paus  menyerukan perlindungan minoritas Kristen setelah pemboman bunuh diri Januari 2011 di sebuah gereja di Alexandria, kota kedua Mesir.

Pada saat itu, Al-Azhar mengatakan akan memutuskan hubungan lagi dengan Vatikan atas apa yang disebut Benediktus sebagai “perlakuan berulang Islam dengan cara yang negatif”, dan klaim bahwa orang Kristen dan yang lain tertindas di Timur Tengah.

Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama senior di Al-Azhar, mengatakan pada 2006  dalam organisasi Persatuan Ulama Islam Internasional bahwa  ulama Islam memboikot Benediktus. “Sekarang, Allah telah menghendaki kita untuk melanjutkan dialog, setelah seorang paus baru terpilih,” katanya optimis.

Dialog semacam itu akan menempatkan umat Islam  di tengah panggung di beberapa negara Timur Tengah, setelah revolusi  Arab sejak  2011.  Hubungan dengan minoritas Kristen akan semakin rumit.

Kelompok pragmatis seperti penguasa Mesir Ikhwanul Muslimin cenderung menyambut dialog, kata Ashraf al-Sherif, seorang profesor ilmu politik Universitas Amerika di Kairo. “Secara umum, Islam tidak memiliki dampak negatif pada peluang untuk dialog,” katanya.

Sebelumnya Al-Azhar dan Vatikan telah mengadakan dialog di bawah Paus Yohanes Paulus II, pendahulu Benediktus. Kelanjutan dialog harus didasarkan pada landasan yang lebih kuat dari hubungan kelembagaan, bukan hubungan pribadi, kata Hassan Wagih, seorang profesor ilmu politik di Universitas Al-Azhar.

“Paus yang baru harus mengatasi masalah antara Vatikan dan Muslim serta mendorong untuk saling menghormati,” kata Wagih.

Setelah komentarnya tahun 2006 yang memicu protes di negara-negara Muslim, Benediktus berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan melakukan kunjungan ke Masjid Sultan Ahmed di Istanbul, kunjungan kedua seorang paus ke sebuah masjid dalam sejarah kepausan.

“Paus yang baru tidak harus menyerang Islam,” kata ulama senior Al-Azhar, Mahmoud Ashour. “Hubungan dengan Vatikan harus didasarkan pada prinsip bahwa agama harus melengkapi satu sama lain, daripada bersaing.”(T/P09/R2).

Miraj News Agency (MINA).

Leave a Reply