DUA TAHUN DI SEL ISOLASI ISRAEL, TAHANAN PALESTINA SUSAH BICARA

        Gaza, 10 Rabiul Akhir 1434/20 Februari 2013 (MINA) – Seorang tahanan Palestina Dirar Abu Sisi yang telah ditahan di sel isolasi oleh penjajah Israel selama lebih dari dua tahun mengalami kehilangan kemampuan untuk mengingat bahasa dan mengalami gangguan berbicara.
        Dalam laporan yang disampaikan pengacara perhimpunan Tahanan Palestina saat setelah mengunjungi Abu Sisi, Ahad kemarin (18/2),  Abu Sisi kini mengalami kehilangan kemampuan untuk mengingat bahasa dan gangguan berbicara, karena ia menghabiskan 23 jam sehari dalam sel tiga meter persegi dan hanya diijinkan untuk meninggalkan sel selama satu jam setiap harinya.
        Pengacara perhimpunan tahanan juga melaporkan, Abu Sisi mengatakan kepada pengacara bahwa penjaga penjara melaksanakan tindakan hukuman lainnya, demikian menurut laporan yang disiarkan www.qassam.ps yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA), Rabu.
       “Mereka membawa makanan busuk, dan baru-baru  ini menyita buku catatan di mana Abu Sisi mencatat buah pikirannya selama berada di ruangan sel isolasi,” kata pengacara seperti dilansir website resmi AlQassam.
        Menurut keluarga Abu Sisi, kesehatan Abu Sisi sudah tidak stabil diakibatkan karena ia menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, kolesterol tinggi, dan anemia serta kondisinya telah jauh memburuk sejak ia diculik pada tahun 2011.
        Perhimpunan Tahanan Palestina, Waed, menyerukan organisasi internasional hak asasi manusia untuk segera bertindak menyelamatkan nyawa Abu Sisi.

Penculikan

        Abu Sisi, seorang insinyur dari Gaza yang merupakan seorang direktur perusahaan pembangkit listrik Gaza, diculik oleh Israel saat melakukan perjalanan di Ukraina antara kota Kiev dan Kharkov timur pada 18 Februari 2011.
       Seorang ayah dari enam anak dari pernikahannya dengan seorang wanita Ukraina, Abu Sisi tiba di Ukraina pada 27 Januari 2011 untuk mengunjungi keluarga istrinya, dan mendaftarkan anak-anak mereka agar dapat tinggal di sana.
       Badan intelijen Israel (Mossad) menculik Abu Sisi pada tanggal 18 Februari 2011 dengan bantuan badan Intelijen Ukraina, dan memindahkannya ke Israel dengan memasukkan Abu Sisi dalam peti mati, tanpa memberitahu Palang Merah Internasional.
       Istri Abu Sisi, Veronica mengatakan petugas kereta memberitahunya, dua orang yang menyamar sebagai petugas dari dinas rahasia Ukraina membawa suaminya.
       Seminggu kemudian Abu Sisi muncul di pengadilan Israel yang didampingi oleh pengacara Israel, di mana hakim memerintahkan penahanannya di penjara Ashkelon, wilayah Palestina bagian selatan yang dijajah Israel.
       Penjajah Israel menuduh Abu Sisi membantu kelompok perlawanan Palestina untuk mengembangkan rudal. Namun, Abu Sisi membantah semua tuduhan tersebut.

Sel Isolasi

       Israel menolak untuk melepaskan Abu Sisi dari sel isolasi meskipun kesepakatan yang ditengahi oleh Mesir pada Mei 2012 itu termasuk beberapa ketentuan yang berkaitan dengan perbaikan kondisi tahanan, salah satunya adalah pembebasan semua tahanan dari sel isolasi. Kesepakatan itu diakhiri dengan kampanye mogok makan massal yang dulaksanakan oleh para tahanan Palestina.
       Organisasi Hak Asasi Manusia Urusan Tahanan Palestina, AdDameer, melaporkan, total tawanan warga Palestina yang kini berada di penjara-penjara penjajah Israel berjumlah 4.743 tawanan.
        Pada akhir September 2012, terdapat sekitar 60 tahanan Palestina yang ditahan di dalam sel isolasi, termasuk dua diantaranya ditempatkan secara terpisah untuk alasan negara atau keamanan penjara.
       Sel (kurungan) Isolasi tersendiri digunakan oleh penjajah Israel sebagai tindakan disiplin dan juga praktek umum selama interogasi. Sel isolasi tersendiri dikombinasikan dengan uang denda merupakan hukuman yang paling umum diambil terhadap warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.
       Tahanan yang berada di dalam sel isolasi benar-benar terputus dari dunia. Mereka ditahan di sel kosong yang hanya berisi kasur dan selimut. Selain pakaian yang dimiliki para tahanan, mereka tidak diperbolehkan untuk mengambil apapun ke dalam sel isolasi, termasuk bahan bacaan, televisi atau radio.
       Tahanan pada sel isolasi yang berada di sel tersendiri atau dengan seorang tahanan lainnya ditahan selama 23 jam dalam sehari. Mereka diizinkan meninggalkan sel mereka untuk berjalan satu jam dalam  sehari, dalam perjalanan menuju keluar sel, tangan para tahanan dan kaki biasanya dibelenggu.
       Addameer menjelaskan, seorang tahanan Palestina melaporkan borgol kadang-kadang dapat dilepas, namun dalam banyak kasus, mereka tetap diborgol dan kadang-kadang bahkan kaki terbelenggu selama tahanan sedang berjalan. Setiap perpindahan dari sel isolasi, termasuk dalam kunjungan pengacara, tangan dan kaki tahanan diborgol, serta disertai oleh seorang petugas penjara.
        Sel Isolasi di berbagai penjara Israel berukuran 1,5  meter x  2 meter, hingga 3 meter x 3,5 meter. Setiap sel biasanya memiliki satu jendela berukuran sekitar 50 cm x 100 cm, yang dalam banyak kasus tidak memungkinkan masuknya cahaya atau udara yang cukup dari luar.
        Para tahanan yang ditahan di dalam sel isolasi Israel, tidak terdapat toilet. “Ketika keinginan tahanan untuk menggunakan toilet, dia harus memanggil penjaga dan menunggu hingga penjaga setuju untuk mengambil tahanan keluar,” kata Addameer dalam laporan yang disiarkan melalui web resminya. (T/P02/E1)

 

Statistics

 

Type of Prisoner

Number of Prisoners

Total number of political prisoners

4,743

Administrative detainees

178 (5 PLC members)

Female prisoners

10

Child prisoners

193 (23 under the age of 16)

Palestinian Legislative Council members

12

East Jerusalem prisoners

167

1948 Territories prisoners

191

Gaza prisoners

437

Prisoners serving life sentences

529

Prisoners serving a sentence above 20 years

456

Prisoners having served for more than 25 years

23

Prisoners having served for more than 20 years

72

Prisoners detained before Oslo Agreements

111

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply