GERILYAWAN THAILAND SELATAN SERANG PANGKALAN MILITER

 

 Bangkok, 5 Rabiul Akhir 1434/15 Februari 2013 (MINA) – Juru bicara Komando Opoerasi Keamanan Thailand, Pramote Phromin mangatakan terjadi  serangan fajar di pangkalan militer Thailand dilakukan oleh setidaknya 60 gerilyawan yang menewaskan 16 gerilyawan, hari Rabu (13/2),  Namibian Sun melaporkan.

Pertempuran terjadi antara gerilyawan dan Angkatan Laut Thailand di Kabupaten Bacho, Narathiwat, dekat perbatasan dengan Malaysia selama 20 menit pukul 01.30 waktu setempat. Serangan ini adalah serangan paling mematikan di selatan negara itu dalam sembilan tahun, menandai eskalasi berbahaya di salah satu konflik paling terkenal di Asia. 

Keenampuluh gerilyawan itu  menyerang mengenakan seragam ala militer. Namun militer mengaku sebelumnya mendapat bocoran rencana penyerangan tersebut. Pihak militer berhasil menyita 13 senapan, pistol, bom, dan kendaraan.Sebagian besar militan melarikan diri ke wilayah hutan di perbatasan Thailand dengan Malaysia.

Phromin meralat jumlah korban tewas yang awalnya 17 orang menjadi 16 orang. Faktor kesiapan membuat tidak ada korban luka maupun tewas dari militer. Kantor berita VOA melaporkan, Phromin mengatakan militer menghimbau diberlakukannya larangan keluar rumah selama 24 jam selagi mereka mengejar para penyerang.

“Angkatan Bersenjata meminta masyarakat setempat untuk tetap tinggal di rumah dari pukul enam pagi sampai enam malam untuk memungkinkan tentara memeriksa daerah tersebut,” katanya. “Bom masih ditemukan di beberapa daerah dan militer harus mengejar para gerilyawan.”

Pemerintah sedang mempertimbangkan proposal Deputi Perdana Menteri Chalerm Yubamrung untuk mengenakan jam malam di beberapa bagian pedalaman selatan. Tetapi itu ditentang oleh para pemimpin lokal yang mengatakan pemberlakuan jam malam tidak efektif dan akan menyebabkan ketidaknyamanan yang tidak perlu bagi warga.

Tidak ada indikasi pertempuran menyebar ke luar provinsi Pattani, Yala dan Narathiwat, jarak yang hanya beberapa jam dari beberapa pantai wisata  populer Thailand. Perdana Menteri Yingluck Shinawatra tampak tidak berdaya untuk memadamkan pecahnya insiden  bersenjata dan serangan bom  yang hampir setiap hari terjadi.

“Serangan itu adalah salah satu serangan yang paling ambisius dalam beberapa tahun kekerasan di Thailand selatan,”  kata Phronim.

“Ini hanya masalah waktu sebelum insiden jenis ini terjadi lagi,” kata Anthony Davis, seorang pengamat asing di Thailand. Korban tewas Rabu adalah yang terbesar sejak pasukan keamanan menyerbu sebuah masjid, yang dikenal sebagai Masjid Krue Se, tahun 2004 yang  menewaskan 32 Muslim dalam serangan yang intensif terhadap pemberontakan.

Sebagian percaya bahwa serangan itu dilakukankan oleh Barisan Revolusi Nasional (BRN) yang dikoordinasi oleh Front Revolusioner Nasional Melayu Patani yang  didirikan tahun 1960 yang berjuang untuk  kemerdekaan. Kelompok lain, Serikat Patani Front Pembebasan (PULO), secara terbuka menyerukan sebuah negara terpisah.

Sejak Januari 2004, lebih dari 5.300 orang telah tewas dan sekitar 9.000 lainnya terluka dalam lebih dari 11.000 insiden di tiga provinsi Thailand selatan yang berbatasan dengan Malaysia – Yala, Pattani, Narathiwat dan empat kabupaten di Songkhla.

Kekerasan telah meningkat akhir-akhir ini dengan serangkaian serangan mematikan pada akhir pekan lalu, yang merenggut nyawa lima tentara dan dua warga sipil. Provinsi tersebut dulunya adalah wilayah otonomi kesultanan Melayu Muslim sebelum dianeksasi oleh Bangkok pada sekitar seabad yang lalu. Sejak itulah perlawanan sering terjadi.

Menurut survei Asia Foundation tahun 2010, sekitar 94% dari 1,7 juta penduduk regional adalah Muslim, agama utama di negara tetangga Malaysia dan di Indonesia. Sekitar 80% dari mereka berbicara dengan dialek Melayu sebagai bahasa pertama.(T/P09/R2).

Miraj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply