HAMAS: ISRAEL AKAN MENYESAL MELANGGAR KESEPAKATAN PERTUKARAN TAHANAN

Gaza, 11 Rabiul Akhir 1434/21 Februari 2013 (MINA) – Gerakan Perlawanan Islam Hamas telah memperingatkan, Israel akan menyesal mengubah kebijakan hukum militer untuk kembali menahan orang yang dibebaskan berdasarkan kesepakatan pertukaran tahanan dengan seorang prajurit Israel Gilad Shalit.

Perubahan kebijakan penjajah Israel merupakan pelanggaran jelas dari kesepakatan pertukaran yang ditengahi oleh Mesir antara Palestina dan penjajah Israel,” kata Juru bicara Hamas Sami Abu Zuhri seperti dilansir Kantor Berita AlRay. “Israel harus membatalkan keputusannya atau mereka akan menyesal,” seru Abu Zuhri.

Gilad Shalit, seorang prajurit penjajah Israel berpangkat kopral, ketika itu berusia 19 tahun, diculik pada 25 Juni 2006 oleh gabungan kelompok-kelompok pejuang perlawanan Palestina, yang membuat terowongan di perbatasan Gaza-Israel, dan kemudian menyerbu pos militer penjajah Israel.

Setelah ditahan di lokasi rahasia selama lima tahun Gilad Shalit dibebaskan hari Selasa (18/10), saat penandatanganan kesepakatan pertukaran tawanan antara Israel dan Palestina. Dalam hasil kesepakatan tersebut,  Gilad Shalit ditukar dengan 1027 tahanan Palestina yang tersebar di berbagai penjara Israel.

Kesepakatan yang ditengahi oleh Mesir itu dilanjutkan pada Mei 2012 dengan membahas ketentuan yang berkaitan dengan perbaikan kondisi tahanan, salah satunya adalah pembebasan semua tahanan dari sel isolasi.

Menurut sumber-sumber dari Media Israel, melaporkan bahwa perubahan dalam kebijakan hukum militer penjajah Israel kini mengizinkan Pasukan Militer penjajah Israel dan agen intelijen dalam negeri Israel, Shin Bet untuk melakukan penangkapan ulang setiap tahanan yang dibebaskan hingga akhir hukuman yang dijatuhi penjajah Israel pada asalnya. Aksi penangkapan itu dilakukan dengan sedikit alasan dan sering mengandalkan pada bukti rahasia.

Pasukan Militer penjajah Israel bekerjasama dengan Shin Bet telah kembali menahan 14 dari warga Palestina yang dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tahanan seorang prajurit Israel Gilad Shalit sejak pelaksanaannya pada bulan Oktober 2011.

Seribu Tahanan Palestina Lakukan Aksi Sehari Mogok Makan

Sementara itu, Selasa (19/2.,lebih dari 1000 tahanan Palestina melakukan mogok makan dalam aksi solidaritas dengan para tahanan di penjara-penjara Israel yang sedang melakukan aksi mogok makan sebelumnya.

Direktur pusat Studi tawanan Palestina, Riyadh al-Ashqar, mengatakan para tahanan di penjara-penjara Israel seperti di penjara Israel Eichel, Nafha dan Raymond telah meluncurkan satu hari mogok makan dalam aksi solidaritas dengan para tahanan yang sedang mogok makan.

Aksi sehari mogok makan itu bertujuan untuk mengirim pesan kepada administrasi penjara Israel harus mengakhiri penderitaan rekan-rekan tahanan Palestina yang sudah lebih dulu melakukan aksi mogok makan, khususnya Samer Issawi dan Ayman Sharawna yang sudah melakukan mogok makan selama lebih dari 200 hari.

“Pemogokan oleh tahanan Palestina adalah langkah pertama dalam program perjuangan untuk memprotes kondisi yang keras terhadap tahanan pada umumnya dan dalam solidaritas dengan rekan-rekan mereka yang sedang melakukan mogok makan sejak beberapa bulan lalu,” kata Al-Ashqar seperti dikutip Alresalah.

Ia menunjukkan, tahanan di penjara-penjara Israel mengikuti dengan keprihatinan perkembangan situasi rekan-rekan mereka yang melakukan mogok makan yang kini sedang berada di rumah sakit dalam kondisi sangat membahayakan.

“Ancaman akan meningkat terhadap administrasi penjara Israel jika praktik penjajah Israel kepada tahanan  palestina tersebut terus berlanjut, Intifada ketiga akan menjadi agenda yang kuat untuk menyelamatkan tahanan dari situasi bencana tersebut.” tegas Al-Ashqar. (T/P02/P2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply