HANIYAH : SELAMANYA, KAMI TIDAK RELA AL-AQSHA DINODAI

Gaza, 2 Rabiul Akhir 1434/12 Februari 2013 (MINA) – Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah kecam proyek pembangunan Sinagog dan pusat kepolisian di dekat tembok ratapan, Al-Aqsa, Yerussalem. Ia tidak akan mengizinkan siapa pun menodai meski dengan banyaknya imbalan yang diterima.

Haniyah menegaskan Bangsa Palestina sangat berperan penting dalam mempertahankan hak-hak dan tempat sucinya. Dia juga menghimbau seluruh umat Muslim dimanapun untuk membangkitkan semangat juang mereka demi pembebasan Al-Quds yang tengah menghadapi bahaya serangan Zionisme sejak 1948.

Hal ini diutarakannya saat menyambut Perdana Menteri Irlandia yang dipimpin oleh Sekertaris Jendral Dewan Fatwa Eropa, Syaikh Saif Halawah. Dalam sambutan itu, Haniyah memuji para delegasi yang datang ke Palestina. Ia berharap kunjungan tersebut menjadi salah jalan menuju pembebasan Al-quds.

“Pembebasan Palestina bermula dari kebebasan berpendapat dan meniadakan kekuasaan yang otoriter, membangun kesadaran, harkat dan martabat, dan kedaulatan bangsa. Setiap bangsa akan melangkah menuju pembebasan Al-Quds saat ia menyadari kedaulatannya. Pada kali ini seluruh delegasi berkumpul atas tiga komponen penting dalam permasalahan Palestina, Arab dan Islam,” tegasnya.

Dia menambahkan, konspirasi yang dilakukan untuk menjauhkan Palestina dari negeri Arab dan atau sebaliknya negeri Arab dari palestina, hanya akan menemui kegagalan. Dan hal itu hanya berlaku bagi yang bermukim di Palestina saja. “Tanpa ada dukungan dari negara-negara Arab dan Muslim seluruh dunia, Palestina tidak akan merdeka,” jelasnya.

Sementara itu, Syaikh Saif Halawah menerangkan faktor pendorong datangnya para delegasi dari bebagai negeri semata-mata karena rasa cinta yang mendalam terhadap Palestina. Saif  menyatakan kekagumannya pada rakyat Palestina yang menjadi panutan bagi seluruh bangsa dalam mempersiapkan pembebasan Palestina.

KEBIADABAN ZIONIS

Sebuah laporan statistik yang telah disiapkan oleh tim dari Yayasan Al-Aqsha untuk Wakaf dan Warisan (al-Aqsa Foundation for Waqf and Heritage) serta Yayasan Pembangunan al-Aqsha dan tempat-tempat suci (Foundation for Construction of al-Aqsa and Holy Sites), menyatakan hampir 11 ribu pemukim Yahudi dan tentara berseragam militer Israel telah menyerbu Masjid Al-Aqsha sepanjang 2012.

Jumlah itu meningkat dibandingkan pada 2011, dimana pemukim Yahudi dan tentara Israel yang menyerbu Masjid Al-Aqsha mencapai angka lima ribu. Laporan itu juga menyebutkan berbagai bentuk serangan yang meningkat saat “hari libur Yahudi” dengan catatan para pemukim Yahudi secara sengaja melakukan ritual Alkitab dan Talmud selama penyerbuan di Masjid Al-Aqsha itu.

Masjid Al-Aqsha dan Al-Quds adalah satu kesatuan. Al-Quds meliputi seluruh tembok yang mengelilingi kompleks Masjid Al-Aqsha. Saat ini Al-Quds berada di bawah penjajahan Israel yang memulai penjajahannya atas Palestina sejak 1948 lalu.

Pada tahun 2012, penyerangan terhadap Masjid Al-Aqsha telah dilakukan oleh para pemimpin Zionis Israel. Penyerangan itu disertai dengan usulan untuk membagi Masjid Al-Aqsha menjadi milik Muslim dan Yahudi.

Pihak berwenang Israel dan pemukim Yahudi juga secara kontinyu menyelenggarakan konser musik Talmud Anglo-Israel di dekat Masjid Al-Aqsha dengan slogan mempercepat pembangunan sinagog.

Menurut laporan itu, selama tahun 2012, penjajah Zionis Israel telah dengan sengaja membiarkan sekitar 300 ribu wisatawan asing untuk memasuki Masjid Al-Aqsha tanpa memperhitungkan kesuciannya.

Sejak jatuhnya Baitul Maqdis pada Juni 1967, Israel telah melakukan perbuatan-perbuatan biadab terhadap Masjid Al-Aqsha. Berikut ini adalah bentuk-bentuk kejahatan mereka terhadap Masjid Al-Aqsha :

1) Menciptakan ritual baru di dinding Masjid Al-Aqsha yang disebut “Dinding Ratapan” satu bentuk peribadatan baru yang tidak  tertulis didalam kitab Taurot, Talmut maupun kitab-kitab kuno para pemimpin agamanya. Kawasan tersebut dirampas dari umat Islam.

2) Membakar Masjid Al-Aqsha pada tahun 1969.

3) Menggali berpuluh-puluh terowongan dan menciptakan ruang-ruang khusus untuk ritual, musium dll yang berada tepat dibawah Masjid Al-Aqsha.

4) Membangun sebuah kota agama untuk para wisatawan asing maupun lokal, dan bisa dinikmati oleh para pengunjung khususnya para generasi muda Yahudi.

5) Israel sengaja membuat kota wisatawan itu dari batu-batu buruk dan arsitektur klasik yang seakan-akan menggambarkan bahwa ia telah berusia ratusan tahun, gunanya untuk mengelabuhi para wisatawan dan khususnya generasi baru Yahudi bahwa Haikal Sulaiman itu memang wujud dibawahnya.

6) Mengizinkan para wisatawan asing maupun lokal untuk memasuki Masjid Al-Aqsha.

7) Melarang umat Islam yang berusia dibawah 44 tahun memasuki dan shalat di dalam Masjid Al-Aqsha.

8) Mendirikan pemukiman-pemukiman baru bagi warga Yahudi yang dekat dengan masjid dengan cara merampas tanahnya dari para pemiliknya bangsa Palestina. Sehingga Masjid Al-Aqsha sekarang sudah mulai terkepung dengan pemukiman-pemukiman baru warga Yahudi.

9) Membangun tempat-tempat maksiat seperti cafe-cafe untuk berdansa dan meminum-minuman keras persis di depan mihrab Masjid Al-Aqsha.

Seluruh mata dunia dan umat Islam menyaksikan kebiadaban yang dilakukan oleh zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha. Sudah terbukti, belakangan ini Israel dengan sengaja dan terus menerus dengan berani, melakukan serangan ke Masjid Al-Aqsha yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Langkah serangan itu seperti membuka Sinagog Kharaab di kota lama Al-Quds setelah selama 4 tahun mempersiapkan Sinagog ini.(T/R3/T8/R2).

Miraj News Agency (MINA)

Leave a Reply