HOLLANDE: PERANCIS AKAN TETAP BERADA DI MALI

       Bamako, 22 Rabiul Awal 1434/ 3 Februari 2013 (MINA)- Presiden Perancis, Francois Hollande mengatakan Perancis akan melanjutkan misi tempurnya di Mali dan Perancis akan tinggal di negara itu selama diperlukan.

      “Kami akan tinggal selama kita perlu, tetapi tidak untuk berada selamanya di sini, ini adalah operasi singkat. Kami akan tinggal di sisi anda saat anda membangun kembali negara Anda, “kata Hollande di depan ribuan warga Mali di ibukota Bamako, Sabtu (2/2).

       Hollande juga memberikan apresiasi terhadap kinerja pasukan Perancis di Mali dan menjanjikan dukungan lebih untuk negara Afrika barat tersebut, demikian menurut laporan Press TV yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA), Ahad.

      “Prancis akan tetap dengan Anda selama yang dibutuhkan, sampai saatnya anda sendiri bisa menggantikan kami. Maka kami akan berada di samping Anda sampai akhir ” kata Hollande.

       “Perang ini belum berakhir, mungkin akan menghabiskan beberapa minggu, tetapi tujuan kami hanya untuk menjaga keamanan,” katanya.

        Hollande tiba di Mali pada Sabtu untuk kunjungan satu hari setelah hampir empat minggu Perancis mengirimkan pasukannya ke dalam perang di Mali dengan dalih menghentikan kemajuan pejuang anti-pemerintah di negara itu.

        Namun banyak analis percaya bahwa di balik kedatangan militer Perancis tersebut, mereka mengincar sumber daya alam yang belum dimanfaatkan di Mali, termasuk minyak, emas dan uranium di wilayah tersebut.

        Wilayah Timbuktu di Mali utara memiliki kelebihan yaitu melimpahnya sumber daya alam, karena kaya dengan uranium, gas dan fosfat.

        Sebuah perusahaan asal Perancis, “Total” telah membuktikan adanya cadangan minyak yang sangat penting di Taodney yang terletak di Mauritania dan daerah pedalaman timur, ke arah Ozoad.

         Banyak pengamat menyebutkan, Perancis yang masih memiliki pengaruh di Mali karena merupakan daerah bekas jajahannya, sangat ketakutan jika kelompok Islam yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah ini menang dan akan mengontrol kekayaan Mali utara.

        Jika kelompok Islam tersebut sampai ke sumber daya alam itu dan mulai memanfaatkannya, maka mereka pasti akan menghalangi negara-negara Barat untuk memanfaatkan kekayaan alam itu dan akan menarik bayaran tidak seperti yang  mereka dapatkan secara gratis dari pemerintah yang setia kepada Barat.

        Tentu ini merupakan situasi yang tidak diinginkan NATO. Oleh karena itulah analis menyebutkan mengenai hal ini sebagai alasan mengapa Perancis yang memimpin serangan ini, bukan NATO. (T/P01/E1).

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply